TERTINDIH PILU YANG TIDAK BISA DI EJA

Ada hal yang tidak bisa diraba
Perihal luka yang tanpa saksi
Memekik hati sebab terjamah sentuh yang lain
Bermain-main dengan candu senduku
Berkata “Tidak tahu”
Padahal menjatuhkan hati pada tempat yang serupa,

Pilu ini sungguh berkecamuk
Yang rindang menjadi  renggang
Yang lekat menjadi penjilat
Dan berkoar diatas keningku yang tak lagi menguning,

Kau—pematah hati paling cerdik
Meniti hati yang tak berintonasi
Dengan ritme yang bernada kehancuran
Dan berongga kerumitan yang sempit diperbaiki
Patahnya; mengering dalam ilusi yang menyurut.

-Sukabumi, 29 Oktober 2017-


CORETAN CANTING

Warna-warni berkolaborasi
Dalam corak yang saling berpautan
Saling memihak dalam sudi yang beraturan
Dan dari arti yang ditemui dalam berbagai variasi,

Cantingnya sungguh bijak
Menenun mendung dalam sutera
Yang riang dengan samar-samar microwas
Dan dari kunang-kunang yang terbentuk ia berbisik
: Jawa barat telah memanusiawikanku.

Batik adalah namaku
Hasil karya tangan manusia
Yang tertegun dalam komat-kamit jarinya
Dan menyandangkan raganya untuk membentukku
Di antara dua ufuk; canting dan sutera.

Murung hanya tinggal sepah
Khasku tak lagi merobek selera mereka
Sekarangku menarik dan melabuhkan hatinya
Dengan menanggalkan esensi makna benderang pada setiap corakku.

-Sukabumi, 31 Oktober 2017-


YANG PERNAH TERTAMPAKKAN

Masa telah menenun sukma
Keduanya berbicara dan saling menempuh
Berbagai rasa yang dirundung waktu
Tak jauh beda dari segala logika
Yang menghempas kecutnya bersama cakrawala,

Waktu kian mengulur segala yang mendaur
Terseret pada deret-deret yang membekas
Gemas seolah telah terpinang kenang
Tiap lima belas kilometer rasa yang terguncang,

Nampak dalam ilusi yang lengang
Menagih pikir yang menyeberang
Dari setiap sendi dan belulang,

Terbayang yang pernah terulang
Mulai mengatur keberadaannya yang telah tersaji
Dalam-dalam dan melekat rapat-rapat
Tak tergugat dengan hasrat yang menjajah
Terlihat dari satuan waktu yang meragam tak terusai,

-Sukabumi, 05 November 2017-


TINDAK LANJUT CAHAYA YANG BERPONDASI

Dalam bangunan yang berlapis takwa
Berkarang dari sukma yang terasuh
Menenggelamkan muram yang berkeluh
Berceceran pada telapak tangan yang tertelan
Dan layu dalam sembilu yang berkilah,

Terang yang menyulam usang
Dalam genggaman harap yang tersambar hidayah
Melahirkan pandang baru yang maha cakap
Kepada tuhan yang lebih dekat dari sebuah nadi
: cahaya-Mu berkilauan pada hati berpondasi sang kyai,

Teruntuk pesantren yang penuh peraduan; cahayamu menyentuh kulit-kulitku dan membawaku pada cerita yang tak lagi padam.

-Sukabumi, 22 Oktober 2017-


 

PADI DI AKHIR TAHUN

Selepas tangkai menuai
Gawai menjadi bulan-bulanan petani
Memilah padi yang berisi
Untuk menjadi senanak nasi.

Desember menjadi penghujung tahun
Pertanda yang kuning manis
Semanis buah kismis
Akan lepas dari induknya, sawah.

Semakin merunduk
Tertunduk patuh pada sang tuan, petani.
Seakan memasrahkan diri
Setelah berhari-hari disayangi
Kini harus diiris dengan belati tajam.

Padi, si kuning manis tanpa kumis
Menjadi pahlawan hidup setiap yang bernyawa
Memberi harapan pula
Sampai ujung masa.

-Sukabumi, 11 September 2017-


Penulis puisi ini bernama Ulfah Mawalatul Khoiriyah. Akrab disapa Ulfah atau Khoi. Kelahiran 01 Juli 2000. Sedang mengenyam pendidikannya di SMAN 1 Surade yang bertempat di daerah Sukabumi bagian selatan. Sesuatu yang paling ia sukai yaitu hujan, senja, kopi manis dingin dan kucing.

Facebook Comments