Dua manusia sedang tertidur pada arah yang berbeda. Satu di sudut kiri ruangan, satu lagi di sudut kanan ruangan. Mereka masih tak sadarkan diri, terlihat dari wajah keduanya yang masih penuh kepulasan. Barangkali mereka diberi obat tidur oleh seseorang. Tapi bukan sembarang tidur, mereka sepertinya habis diculik dari kediaman masing-masing. Kedua tangan dan kakinya diikat namun tidak erat dengan tali tambang berwarna hijau. Bisa jadi sepasang manusia ini adalah dua pejabat penting, ataupun sosok berbahaya yang dapat mengancam kehidupan orang lain.

Ruangan yang luasnya sekitar 4×6 meter itu ditemani dengan sebuah jendela persegi yang diletakkan sekitar ketinggian dua setengah meter dari lantai, serta sebuah pintu kayu yang kelihatannya masih baru dan sehabis dipernis. Disediakan juga sebuah lampu LED bundar yang digantung di tengah ruangan. Ada beberapa potong pisang dan dua liter air mineral dalam botol, barangkali agar mereka tak mati kelaparan. Kalau dilihat dari cahaya yang masuk menerobos lewat jendela, hari sudah pagi. Seharusnya bila itu obat tidur, mereka akan bangun tepat di waktu ini.

Seperti dugaan sebelumnya, salah satu dari mereka pun bangun dari tidurnya. Kalian tahu pastinya, bahwa perempuan bangun lebih dulu ketimbang pria. Maka si perempuan pun langsung terkejut dan mengambil posisi duduk dengan bersandar pada dinding ruangan tersebut.

“Halo! Di mana aku? Seseorang ada yang bisa memberitahuku?”

Tidak ada jawaban. Sunyi. Bahkan nyanyian burung dan harmoni gugurnya dedaunan juga tak terdengar. Ditambah lagi, si pria yang sedang satu ruangan dengannya belum juga bangun dan sadarkan diri. Si perempuan merasa ketakutan. Ia meraba-raba daerah sekitarnya dengan telapaknya yang lembut itu. Si perempuan ternyata buta.

Ia terus merangkak dan sesekali juga berdiri dengan tergopoh-gopoh. Tangannya tak pernah berhenti untuk menari-nari meraba sekelilingnya. Sampai pada akhirnya ia mentok di tempat si pria tertidur.

“Hah! Halo? Siapa kau? Apa kau yang membawaku kemari? Hei?” Ia meraba-raba si pria hingga sampai pada bagian vital di bawah tubuhnya. Tentu saja si perempuan terkejut dan ia pun merasa berdosa. Sontak saja si lelaki bangun dan berteriak,

“Tolong! Ada yang ingin memperkosaku! Tolong!”

Mendengar refleks si lelaki, perempuan itu kaget dan tertawa terbahak-bahak. Si lelaki tak lupa memasang wajah bodoh dan kebingungan. Ia tak tahu betul di mana ia berada dan dengan siapa ia di situ.

“Hei, siapa kau?”

“Kau yang siapa, dasar aneh!”

“Aku aneh? Kau yang aneh, dasar aneh! Kau memegang mahkotaku!”

“Aku tak tahu kalau kau adalah seorang pria!”

“Bagaimana bisa kau tidak tahu? Kau buta? Apakah kau mengejekku?”

Si perempuan diam. Ia tak membalas. Lalu si lelaki sadar, bahwa mereka berdua sama-sama buta.

***

Keadaan menjadi canggung kembali. Mereka berdua kembali ke posisi semula, masing-masing berada di sudut ruangan yang berbeda. Mata mereka memandang ke depan, namun tiada gambar apa pun yang dapat ditangkap oleh mereka. Diam. Sunyi tanpa suara. Terkadang sesekali si lelaki mencoba mencairkan suasana dengan bersiul. Si perempuan, tanpa sepengetahuan si lelaki, ia menikmati siulan lagu itu. Digoyang-goyangkan kakinya dengan pelan dan santai. Sebab si perempuan hafal betul nada lagu itu.

“I love you,” ucap si perempuan. Siulan si lelaki pun terhenti.

“Ha? Kau bilang apa?”

“I love you, tembang cinta romantis dari Avril Lavigne.”

“Oh, iya, kau benar. Kukira kau adalah si gadis penggemar lagu dangdut koplo.” Diikuti dengan tawa si lelaki itu sendiri.

“Bukan, kau salah. Maksudku, kau salah menganggapku seorang gadis.”

“Maksudmu kau seorang janda?” Si lelaki memasang senyum menggelikan.

“Hei, gila! Aku sudah bersuami, dan anakku duduk di bangku TK sekarang!”

Si lelaki diam. Kepalanya melenggak-lenggok berusaha mencari sesuatu padahal ia tahu ia tak bisa melihat apa pun. Namun orang buta pun dapat merasakan keberadaan cahaya walau matanya tak melihatnya. Lantas ia pun beranjak dari peraduannya, berdiri mencoba melangkah dengan segenap tenaga pada tubuhnya. Seperti pada umumnya orang buta, ia berjalan sembari meraba-raba dinding, mengedepankan indra penciumannya pula. Dan alhasil, ia menemukan pintu dari ruangan tersebut.

“Kau sedang apa?” Tanya si perempuan.

“Bodoh! Kau ingin diam di sini selamanya? Mati di sini tanpa sepengetahuan keluargamu? Kau yakin tak bakal mencemaskan keluargamu?” Si lelaki mulai menegang.

“Aku buta, kau pun buta! Bagaimana bisa dua orang buta keluar dari perangkap manusia yang jahat ini?” Si perempuan pun berdiri karena ia juga telah sedari tadi menahan emosinya akan keadaan.

Saat si lelaki sedang sibuknya mengutak-atik pintu tersebut, sejurus kemudian pintu itu terbuka. Masuklah seorang lelaki berambut ikal kecokelatan, tinggi semampai dengan wajah sekitar tiga puluh tahunan yang lumayan tampan. Tak lupa bagian bawah wajahnya disertai beberapa bulu-bulu tipis. Ia memegang sebuah alat kecil. Sepertinya itu adalah sejenis “voice changer” alias pengubah suara.

“Selamat pagi, Agus dan Dea. Bagaimana kabar kalian?” suara si pria terdengar seperti suara Optimus Prime dalam film Transformers.

“Bangsat!” Agus berusaha menyerang. Namun tahu sendirilah apa jadinya bila orang buta berusaha menyerang orang biasa apalagi tanpa persiapan sebelumnya.

“Hei, manusia jahat! Apakah kau yang membawa kami kemari? Lepaskan kami sekarang juga!” Dea ikut menimpali.

“Panggil saja aku Prime, Dea. Kau sangat lucu. Kau tahu sendiri, aku sudah melepasmu dan Agus bahkan sebelum aku membawa kalian kemari. Hanya saja kalian tak boleh keluar dari ruangan ini sebelum kalian membuka mata kalian sendiri. Baiklah, aku harus pergi. Terima kasih.”

Terdengar suara pintu kayu itu ditutup dan dikunci kembali oleh Prime. Agus dan Dea terpelongo. Mereka berdiri mematung, tak tahu apa yang harus dikerjakan lagi.

“Membuka mata? Apa maksud si bangsat itu? Kita kan buta! ” Tanya Agus.

“Entahlah. Lagi pula, mengapa ia menyamarkan suaranya?”

“Aku yakin ia takut kita mengenali suaranya.”

“Maksudmu Prime adalah orang yang kita kenal?”

Agus merasa lelah. Ia terduduk lesu. Begitu pula Dea. Mereka terduduk menghadap ke pintu tersebut. Tiba-tiba terdengar suara keroncongan dari perut seseorang.

“Apakah kau lapar, Kak Dea?”

“Hehehe, sepertinya aku tak mampu menyembunyikannya, kak Agus. ” Dea memegangi perutnya.

“Jangan panggil aku kak. Tidak sepertimu, aku masih lajang!”

“Lajang atau jomblo?” Tawa mereka berdua pun meledak dan mengisi kesunyian yang menyelimuti ruangan tersebut.

“Tunggu sebentar, Kak Dea. Aku akan mencarikan makanan untukmu.”

“Hahaha, bagaimana bisa orang buta mencari makanan di tempat yang tidak disediakan makanan sama sekali?”

Agus tak menghiraukan ejekan Dea. Ia berusaha dengan tangan dan hidungnya merangkak barangkali ada makanan berserakan di lantai yang berpasir itu. Sayang, Dea tak menyaksikan perjuangan Agus dalam mencari sesuap pereda lapar.

“Ini, sepertinya ini pisang. Dan sebotol air putih.”

Dea terkejut saat sebuah pisang dan botol air mineral ditempelkan ke kedua sisi pipinya. Dingin, namun tersirat kehangatan.

“Kau… ” Dea tercengang dengan tatapan buta.

“Lebih baik kau jangan meremehkanku ya!” Agus tersenyum.

“Tapi, bagaimana kau tahu aku menyukai pisang?”

“Jadi dari tadi aku satu ruangan dengan seekor monyet?”

Mereka tertawa penuh kebahagiaan. Dan segala kehangatan itu terus mengisi hari-hari mereka. Ada saja hal yang mereka bicarakan. Seperti tentang bagaimana mereka bisa buta yang dijawab dengan penuh gurauan, bermain tebak-tebakan, mencoba stand up comedy, dan bermain petak umpet. Ada-ada saja memang kelakuan untuk dua orang buta seperti mereka.

***

“Apakah kau merindukan keluargamu, Kak Dea?”

Malam hari kedua puluh sembilan, mereka duduk termenung masing-masing di sudut ruangan yang berbeda. Lampu LED itu menerangi ruangan dan wajah mereka yang sedang kelaparan, dan tubuh mereka mulai terlihat kurus dan tipis. Sebab pisang dan persediaan air mineral mereka telah habis, tak tersisa.

“Iya, Gio pasti sedang menangis di rumah mencari-cari diriku.”

“Bagaimana tentang suamimu? Bisa jadi ia sekarang sedang sibuk di kantor polisi mengadukan kasus menghilangnya seorang wanita cantik berdarah Sunda!”

Dea tertawa. Agus merasa damai saat mendengar tawa Dea.

“Kau bisa saja, Kang Agus. Tapi, suamiku bukan orang seperti itu.”

“Maksudmu?”

“Dia tidak mencintaiku.”

Duar! Gemuruh malam mengejutkan mereka. Sepertinya malam sangat muram dan kusam kali ini. Dedaunan yang gugur ditiup angin kencang mengetuk-ngetuk jendela ruangan. Agus melotot.

“Bagaimana bisa kau menikah tanpa mencintai? Bahkan sampai punya anak?”

“Kang Agus, mencintai dan menikah adalah dua  hal yang berbeda. Kau bisa menikah tanpa mencintai.”

“Jadi maksudmu aku harus menikahinya bila aku mencintai seseorang?”

Dea mengusap lantai yang ada di dekatnya. Ia mencoba untuk mengambil posisi tidur dengan kedua tangannya sebagai bantalan kepalanya. Ada setetes air mata jatuh dari matanya yang tak berfungsi lagi itu sejak matanya kecipratan air aki.

“Padahal aku adalah sosok manusia yang menganggap cinta adalah prioritas utama dalam kehidupan. Aku terus berusaha belajar mencintai Tuhan, mencintai orang tuaku, mencintai saudaraku, mencintai anakku, namun, aku tak bisa mencintai suamiku. Sebab ia tak pernah menunjukkan bahwa ia pantas untuk kucintai. Lagi pula cinta tak bisa dipaksa. Maklum saja, ini semua karena perjodohan.”

Hujan seketika turun dengan lebatnya. Seberkas cahaya dari petir hadir sekejap menerangi ruangan itu.

“Aku tak mengerti.”

“Kau memang tak mengerti, sebab kau tak merasakan hal yang sama seperti aku!”

“Lantas apa kau juga merasakan hal yang sama seperti aku, hah? Tak pernah kubayangkan atau kuniatkan sebelumnya aku berada di ruangan ini, berdua denganmu satu bulan lamanya, hari-hari kita lewati sebagaimana mestinya, dan aku benci ketika…” Agus merangkak marah-marah sembari mendekat ke tempat Dea.

Air matanya juga jatuh.

“Ketika apa?” Dea meringkuk ketakutan.

“Ketika aku mulai mencintaimu.”

Mereka berdua tertunduk dengan menahan sekuat tenaga agar tak meledak tangis mereka. Dan juga mereka tak tahu, sedari tadi Prime sudah berdiri di ambang pintu. Ia menyaksikan mereka dengan kedua tangan membawa setampah nasi dan ayam goreng yang masih hangat. Ada beberapa luka bekas pukulan dan sayatan pisau di wajahnya.

“Ehem, maaf mengganggu. Aku ingin mengantarkan makanan kepada kalian. Dan maaf juga kalau agak lama. Sebab sekelompok orang sempat menahanku di penjara. Karena aku telah menabrak anak seseorang sampai terluka parah dan aku tak sanggup membayar pengobatannya.” Ujarnya dengan suara khas Optimus Prime lagi.

“Hei, penculik sialan! Kami tidak peduli apa yang telah terjadi padamu! Beri kami makan dan lepaskan kami sekarang juga!”

Agus berusaha berdiri dan berniat menghajar Prime, namun Dea berhasil memegang tangannya dan itu mengurungkan niat Agus untuk berdiri.

“Kak Dea?” Agus heran.

“Terima kasih, Prime. Kebetulan sekali kami sangat lapar. Maaf kami tak bisa membantumu. Sebab kami hanyalah dua orang buta.”

Hati Agus dan Prime bergetar. Bagaimana bisa Dea bisa setenang dan setabah itu?

“Kak Dea! Dia itu jahat! Kau tak perlu bersikap lembut!”

Dea malah tersenyum. Tangannya malah menapaki lantai berusaha menggapai makanan yang dibawa oleh Prime tadi. Lalu ia mengambil sepotong paha ayam goreng dan memakannya dengan lahap.

“Kalau begitu, aku akan mengizinkan salah satu dari kalian untuk dapat bebas. Silakan diskusikan secara baik-baik.”

Agus dan Dea terperanjat.

“Hei, bajingan! Apa maksudmu salah satu? Kenapa tidak semua?” Agus kembali ditelan emosi.

“Karena cinta tidak hanya buta, tapi butuh pengorbanan. Aku beri waktu tiga menit. Kalau tidak, pintu ini akan tertutup selamanya.”

Air mata Dea kembali bercucuran. Kini tangisnya tak sanggup lagi tertahan. Ia juga merasa dilema, mengorbankan orang lain atau dirinya sendiri. Sebab bagi Dea, kedua pilihan itu kini sama beratnya bagi dirinya. Tapi apa daya Dea, ternyata Agus tidak merasa seberat Dea dalam memikirkan itu. Ia malah langsung menerobos keluar dengan berlari kencang walaupun sedikit menabrak tembok dan terjatuh-jatuh. Wajahnya begitu semringah. Ia tak mengatakan apa pun, baik itu kepada Prime dan Dea. Sampai sesaat kemudian, ia berhenti di depan pintu. Ia merasa ada yang mengganjal di hatinya. Maka tubuhnya pun berbalik ke belakang menghadap ke Dea yang sedang tersenyum, walau bercucuran air mata.

“Kak Dea?”

“Pergilah, Kang Agus. Lanjutkan langkahmu. Tak perlu memikirkan aku.”

Agus malah melangkah masuk kembali ke ruangan itu. Prime hanya bisa memandang mereka. Agus melangkah dengan perlahan, tak lupa tangan-tangan kurusnya itu meraba-raba depannya agar ia tak tertabrak.

“Maafkan aku. Aku memang egois. Aku tak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini, Kak Dea.”

“Sudahlah, Kang Agus. Kau lebih berguna dan penting di luar sana. Kau pernah bercerita padaku bahwa kau adalah seorang tukang pijat. Orang-orang banyak membutuhkanmu. Terutama ibumu! Kau juga pernah bilang kau hanya hidup berdua dengan ibumu yang sudah renta sakit-sakitan. Kau masih perlu menafkahinya.”

Agus terus melangkah perlahan namun pasti. Lambat laun ia juga ikut menangis. Kakinya tak mau berhenti untuk mendekati Dea yang ia juga tak tahu ada di mana posisinya.

“Sedangkan aku? Aku wanita sehat dan kuat! Kau tak perlu khawatir! Sudahlah, cepat kembali kesana! Aku tahu kau sedang berjalan ke arahku, Kang Agus! Hentikan semua ini! Biarlah aku sendiri! Kang Agus!”

Betapa pun, Agus sampai juga ke tempat di mana Dea berada. Kedua tangannya memegang pundak Dea. Mata mereka yang penuh dengan air mata kesedihan itu saling menatap, namun bukan berarti saling menangkap gambar wajah. Tetap saja gelap, tanpa bayang-bayang apa pun.

“Kau juga memiliki keluarga, Kak Dea. Gio, dan suamimu.”

“Gio bisa hidup dengan ayahnya. Dan mereka berdua bisa hidup tanpa aku. Tapi kalau kau, aku tak mau kau tinggal dan mati di sini bersamaku. Temuilah impianmu dan perjuangkanlah cintamu, Kang Agus! Sebab…, sebab,” Dea menelan ludahnya yang telah bercampur air mata.

“Sebab apa, Kak Dea?” Kedua tangan Agus memegang erat pipi Dea.

“Aku juga mencintaimu, Kang Agus.”

Gemuruh malam terdengar lagi, seiringan dengan ditutupnya pintu ruangan tersebut dengan keras oleh Prime. Ia pergi meninggalkan Dea dan Agus.

“Bagaimana bisa?” Agus menempelkan keningnya ke kening Dea.

“Aku tidak tahu. Cinta itu datang begitu saja, tanpa dipaksa, tak disengaja, melalui proses. Dan kini aku merasa kedua mataku terbuka, saat bersamamu.”

Tiada yang tahu sampai kapan mereka akan begitu, dan tetap di situ. Tapi siapa juga yang tahu, Prime berhasil membuat dua orang buta jatuh cinta. Lelaki ini, apakah masih pantas disebut penjahat? Sedangkan kini ia malah bersandar duduk penuh lesu di dinding sisi luar ruangan yang mengurung Agus dan Dea.

“Ayah kenapa?” Seorang bocah laki-laki datang dari atas menuruni tangga yang menuju ruang bawah tanah.

“Ayah tidak apa-apa, nak.” Prime mengusap bekas air matanya dan bangkit berjalan menghampiri anaknya.

“Gio kangen ibu, Yah.” Prime pun menggendong anaknya menuju ke atas. Air matanya kini jatuh membasahi baju anaknya.

“Sudahlah, nak. Berbahagialah bersama Ayah, sebab Ayah telah berhasil membuat Ibumu merasakan cinta sejati.”

“Ayah bicara apa?”

“Ibu tak mungkin kembali lagi, Gio. Ia tak menyayangi kita.”

Pintu menuju ruang bawah tanah itu ditutup oleh Prime. Maka gelap pun tiba, tak dapat terlihat apa pun. Buta. (*)

 

Seruyan Tengah, Oktober 17


Nanda Insadani adalah seorang penulis yang malas menulis yang umurnya tiga tahun lagi akan mencapai 22 tahun. Bercita-cita menjadi aktor dan pahlawan yang dapat menyelamatkan dunia dari ketidakbahagiaan. Facebooknya adalah nama asli, sebab ia bukan kaum alay.

Facebook Comments