Dia berbeda. Dia tidak memiliki siapa pun yang senantiasa merengkuhnya. Dia hanya sendirian di tengah periuk malam yang menertawakannya. Semuanya telah kandas. Hilang tak berbekas. Hanya ada tangis dalam bisu yang melengkapi rasa perih di ulu hati.

Setiap malam bagai belati yang dengan setia menusuk setiap inci tubuhnya. Pagi dan sore harinya ia habiskan untuk menanti belas kasihan orang-orang yang menatapnya dengan enggan.

Namun siapa yang mau mengurus makhluk rendahan sepertinya? Semua orang melewatinya, melaluinya, seolah menganggap dirinya hanyalah angin yang berhembus seperti biasanya. Transparan, kasat mata. Seperti itulah ia di pandangan orang-orang di sekitarnya. Ada namun tak dianggap. Hidup namun terasa semu.

“Tuan, tolong kasihanilah saya.” ucapnya lirih pada seorang lelaki berbalut jas hitam dengan rapinya. Tapi seperti ribuan orang sebelumnya, ia melengos pergi berpura-pura tidak mendengar perkataan gadis kecil yang tampak kumuh di sebelahnya.

Di manakah hati nurani sang lelaki tersebut? Melihat dirinya rela diterjang teriknya matahari saja sudah mengiris hati, bagaimana saat melihat seorang gadis kecil yang harusnya tertawa riang bersama temannya malah meminta belas kasihanmu?

Dia hanya bisa menghela napas pasrah selagi menyusuri gang-gang sempit yang terlihat kumuh. Seperti biasa, ribuan pasang mata menatapnya dengan jijik melihat pakaian yang dikenakan gadis kecil itu. Dan seperti biasa pula ia berpura-pura tuli akan yang dikatakan mereka. Berpura-pura buta atas apa yang dilihatnya.

Gadis kecil itu berbelok ke kiri, di mana rumahnya berada. Sesungguhnya tumpukan kardus itu tak pantas disebut rumah. Hanya saja gadis kecil itu sudah merasa cukup selagi dirinya bisa tertidur lelap melepas penat selagi menunggu pagi tiba.

Tiba-tiba perutnya berbunyi. Ia sadar bahwa sejak kemarin ia belum menelan apa pun selain air sumur yang ada di dekat rumah sederhananya. Dia kembali bangkit dari posisinya semula, hendak mencari sesuatu untuk mengisi perutnya yang meraung-raung sedari tadi.

Gadis kecil itu berjalan ke arah tong sampah yang berada tak jauh dari posisinya saat ini, berharap ada sesuatu yang ditinggalkan seseorang. Tak menunggu lama, ia mendapatkan sebungkus roti yang masih utuh di dalam plastik. Dengan cekatan ia segera menelan roti itu dengan lahap, seolah-olah takut roti itu segera menghilang dari genggamannya.

Tanpa sepengetahuan gadis kecil itu seorang lelaki memperhatikannya dengan tatapan miris. Bagaimana bisa gadis sekecil itu harus mengais sampah terlebih dahulu agar dapat mengisi perutnya sedangkan dirinya tinggal menyebut nama pembantunya saja semua sudah dihidangkan? Lelaki itu terus bertanya-tanya pada dirinya sebelum dirinya dengan mantap mendekati gadis kecil yang sedang menikmati rotinya.

“Adik ngapain di sini?” tanya lelaki itu dengan senyum lima jari.

Gadis kecil itu mendongak, menatap sepasang mata lelaki itu yang memancarkan rasa sedih teramat. Namun dia diam saja. Tak menjawab apalagi membalas sepatah kata pun. Dia hanya terus melanjutkan makannya dalam diam.

Lelaki itu kembali tersenyum, ia paham bahwa gadis kecil di hadapannya pasti menganggap dirinya hanyalah orang yang memiliki niat buruk. Dengan pemikiran begitu ia berjongkok di hadapannya lalu mengelus kepala gadis kecil itu dengan lembut.

“Nggak usah takut, aku bukan orang yang suka makan daging anak perempuan, kok.” katanya dengan nada bercanda terbesit dalam kalimatnya.

Gadis kecil itu kembali mendongak. “Beneran?” tanyanya yang dibalas anggukan lelaki itu. “Terus kakak ngapain di sini?”

Lelaki itu tersenyum mendengar pertanyaan gadis kecil itu. “Penasaran aja sama kamu.”

“Penasaran kenapa?” tanya gadis kecil itu bingung.

“Ya penasaran, dari jutaan manusia di dunia ini tapi tak ada seorang pun yang peduli kenapa kamu harus mengais tong sampah terlebih dahulu agar dapat mengisi perutmu.” kata lelaki itu.

Gadis kecil itu terdiam sejenak. Lalu ia berkata, “Kakak nggak jijik sama aku?” tanyanya malu-malu.

Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya lalu membalas, “Kenapa harus jijik?”

“Semua orang yang berpapasan sama aku merasa aku itu menjijikkan.” kata gadis kecil itu sedih.

“Nggak usah sedih.” kata lelaki itu dengan senyuman tulus. “Mulai sekarang nggak bakal ada yang berani ngeliat kamu kayak gitu.”

Gadis kecil itu menatap lelaki di hadapannya dengan mata berbinar. “Gimana caranya, kak?”

“Mau tahu?”

“Mau, mau!” seru gadis kecil itu antusias melihat lelaki itu mendekat, berusaha membisikkan sesuatu.

“Kamu harus punya mata hati.” kata lelaki itu yang dibalas tatapan bingung gadis kecil itu.

“Mata hati?” ulang gadis kecil itu bingung. “Maksudnya, kak?”

Lelaki itu tersenyum melihat wajah bingung gadis kecil. “Kamu harus melihat dengan hati.”

“Maksudnya?” tanya gadis kecil lagi, masih tidak mengerti perkataan lelaki itu.

“Artinya, kamu harus bisa membedakan mana yang buruk dan baik, dan tidak tertipu dari tampilan luar.” kata lelaki itu menjelaskan. “Walaupun sebenarnya kamu buta, kamu bisa merasakan keindahan dunia ini dengan hatimu. Karena sesungguhnya yang buta bukanlah mata, tapi hati yang ada di dalam rongga dada.”

Gadis kecil itu tertegun sekaligus terkejut. Bagaimana lelaki di hadapannya ini bisa tahu bahwa dirinya itu buta padahal dirinya sudah berhasil menutupinya? Tapi mengapa, dari jutaan manusia di permukaan bumi ini hanya sosoknya yang peduli pada dirinya yang sebatang kara?

Gadis kecil akhirnya menangis dengan tersedu-sedu. Lelaki itu pun selalu datang meski hanya untuk mengunjunginya.


Dinda Amalia Zahra adalah seorang siswi kelas 10 SMA LTI IGM Palembang yang hobi menulis sejak kelas 5 SD.  Dia lahir di Baturaja pada tanggal 18 Juli 2002. Temui penulis di akun instagram dan wattpad: @lionflowerr.

Facebook Comments