AKU NAHKODA DI LAUTMU
;Perempuan Batu Putih

Aku mencintaimu
Selembut embun di pagi hari
Seindah sinar rembulan
Mencintaimu adalah atas nama tuhan
Tanpa sesuatu pada keabadian

Aku mencintaimu
Seperti detik pada waktu
Bila tumbang maka tak seimbang
Bila kurang maka tak sempurna
Sejatinya aku nakhoda
Kepada kapal yang berlayar pada lautmu
Maka jangan engkau karamkan aku
Dengan gelombang serta kesiur anginmu
Sebab, pada pengharapan
Akan kuturunkan jangkar pada penghujung lautmu

Menikmati bianglala
Dan terpejam didekap senja.

 

Annuqayah, 2017


 

AKU SUNGAI
Tercipta aku dari berbagai kebutuhan
Melayani sebagai sujud kepada tuhan
Sejatinya aku rumah ikan-ikan
Yang juga menjagaku dari segalanya
Aku bukan tempat pembuangan
Dari segala resah di dunia
Sampah bukan kawanku
Limbah bukan sahabatku
Namun, kerap kali yang tak pernah terundang
Akan mudah datang bertandang
Aku sungai
Yang juga bisa meluapkan segala amarahku
Dan di situ aku disalahkan
Sebagai keresahan segala kejadian
Aku bersabar menanti kesadaran

Dalam doaku
Semoga mereka akan lebih mengerti
Tubuhku rumah ikan
Tempat segala yang dibutuhkan
Jangan luapkan amarahku
Dari segala tingkah ke tidak sadaran

 

Kebonagung, 2017


AYAH, TANGAN TUHAN

Sejatinya surga tak pernah berseteru pada tubuhmu
Namun, tuhan melebur dijantungmu
Tabah itu dengan segenap rasa tanggung jawab
Adalah bukti atas segalanya
Bahwa pada tubuhmu
Ada jembatan menuju surga ibu
Engkau tak pernah berkeluh kesah
Atas segala derita
Menyanggah tiang-tiang
Aku yakin engkau kuat
Ada tangan tuhan pada keabadianmu
Semoga tetap akan ada
Sampai senja mengecupku
Sebab aku tak pernah merela
Bila senja akan mendekapmu
Di mana semua terlihat jelas dimataku

 

Annuqayah, 2017


 

GARAM, DARAH DAN MADURA

 Ngapote wak lajereh e tangaleh,
Reng majeng tantona lah pade mole
Mon e tengguh deri abid pajelennah,
Mase benyak’ah onggu le ollenah
Duuh mon ajelling odiknah oreng majengan,
Abental ombek asapok angin salanjenggah

Pada gelombang yang mengantar buih ke tubuhmu
Dan pengharapan para petani-petani garam
Yang ingin tetap mengansinkan tanah pesisir panti

Ole…olang, paraonah alajereh,
Ole…olang, alajereh ka Madure

Tangis
Air ketuban
Darah
Peluh emma’ dan getir eppa’

Dan air-ari kami yang menjadi ain tertanam pada tubuhmu

Reng majeng bennya’ ongggu bebejenena,
Kabileng alako bendhe nyabenah.

Aku bukan sebuah kacang yang lupa pada kulitnya
Atau anak yang membunuh sendiri ibunya
Sejatinya aku akan tetap mengalir pada tubuhmu
Menjadi darah
Menjaga denyut jantung garammu

Ole…olang,
Paraonah alajereh,
Ole…olang,
Alajereh ka Madureh…

Aku darah garam
Dan tubuhmu pulau Maduraku
Kita terikat dalam satu pangonong
Kita terpintal jadi satu peccot

Ole…olang,
Paraonah alajereh,
Ole…olang,
Alajereh ka Madureh…

Darah garam dan engkau Maduraku.

 

Annuqayah, 2017


 

IBU DAN TUHAN PADA TUBUHNYA

Bismillah, aku tulis segala getir rasa
Perihal tuhan yang ada pada tubuhmu
Tak kuasa kusatukan huruf-huruf
Untuk merangkai segalanya
Sebab, kepadaku engkau
Juga Rahman dan Rahim
Dengan sisa kehidupan
Engkau akan kuabadikan
Pada setubuh puisi
Ya Allah
Terimalah segala puisi
Yang kulayangkan kepada
Tubuh yang engkau diami
Perempuan dengan surga pada telapak kakinya
Engkau yang aku tuhankan ibu.

 

Annuqayah, 2017


 

KITA DAN PANGONONG

Sejatinya pangonong
Adalah pemersatu
Di mana kita bersama
Membajak
Dan menuju satu tujuan yang lurus.

 

Annuqayah, 2017

*Pangonong alat tradisional madura yang digunakan dalam tradisi kerapan sapi dan kontes sape sonok


 

LAGU PETANI JAKARTA

1/
Kepada ladang-ladang
Sawah dan tumbuhan yang kami rawat
Dengan segenap pengharapan
Air
Tanah yang kami cangkul
Semogalah tetap ada pada lajur hidup kami

2/
Burung-burung berkicau
Angin semilir sendu
Tanah pecah menjadi emas
Ini perihal lumbung rumah kami
Dengan padi
Jagung dan harapan perut anak cucu kami

3/
Waktu berjalan panjang
Lumbung rumah kami digusur
Sebab pasokan yang tak dapat diansur-ansur
Mobil beroda besar
Asap-asap mengepul
Bangunan yang menjulang lebih tinggi
Menggugurkan titik pengharapan kami
Isak tangis pecah
Senyum pudar
Kami mulai kelaparan

4/
Sawah ladang kami
Digusur untuk reformasi
Katanya ini akan lebih maju
Namun, lihat banyak dari kami
Berjalan tanpa arah
Meminta-minta
Yang akhirnya kami tidur pada jalanan

5/
Kembalikan yang hilang dari kami
Kembalikan masa lalu kami
Tanah
Angin tanpa polusi
Air tanpa limbah industri
Dan isi lumbung rumah kami

6/
Di mana burung yang berkicau?
Apakah mereka juga hancur
Bersama pengharapan kami
Tuhan, akankah penghidupan kami kembali?
Sebab, anak cucu kami mulai mati satu persatu

7/
Adakah yang melihat keluh kesah kami?
Adakah yang mendengar lagu isak tangis kami?
Adakah?
Adakah satu titik pengharapan kembali?
Cangkul kami mengarat
Celurit kami patah dan tumpul
Sebab, tak ada lagi yang menyentuhnya

8/
Kepada segala insan
Lihat kami
Kembalikan masa lalu
Untuk hidup tanpa derai air mata
Akhiri segala resah dengar lagu kami
Jangan Cuma duduk tersenyum
Dalam kepunahan saudara kam
Para petani Jakarta
Yang kini terombang-ambing
Tanpa terpaku mengenal arah.

 

Annuqayah, 2017


 

RIHLAH SAMLI

“Aku dipakai dan di lupakan”
 
Aku diam terkulai
Menunggu nasib yang tak menentu
Kawanku adalah debu-debu
Bersama angin yang kerap kali menerpaku
Aku adalah satu dari tiga saudara
Namaku Samli
Pejuang yang ingin kembali mengabdi
Meski tubuhku telah lapuk
Dan kakiku lumpuh bertahun-tahun
Jiwaku masih kokoh abadi
Aku tetap akan berikhtiar
Untuk kembali bersama sorak-sorai
Dengan bau menyengat
Yang tertumpuk pada punggungku
Aku ingin kembali bersama bayang-bayangku kala terik
Kembali gigil dalam rintihan hujan
Dan pada jalanan serta Pepohonan
Zikirku melafalkan kerinduan
Aku Samli
Yang ingin kembali Istiqamah dalam pengabdian

 

Annuqayah, 2017

*Samli mobil sampah yang kini terkulai tak terpakai


 

RONGGO SUKOWATI

Hilir mudik berganti
Tubuhku tempat singgah burung-burung
Dari tempat yang jauh
Lalu lalang memecak waktu
Ya, di sini dunia memang tak selebar daun kelor
Ada yang datang dan pergi
Yang pergi datang dan menari.

 

Annuqayah, 2017

*Roggo Sukowati terminal bus di kota Pamekasan


 

TAREBUNG

Kala bayang-bayang hilang
Dia menerobos kegelapan
Mematahkan pucuk mayang
Sekedar menjelmakan la’ang
Menjadi emas dan permata
Sejatinya dia adalah pahlawan
Dengan salampar
Yang setia menjadi senjatanya

Tarebung menjulang tinggi
Bayang-bayang kembali hadir menjelma
Dan di situ rakara
Yang berisi emas bagi perut keluarganya
Hadir menyentuh tanah
Tetes la’ang
Mayang
Dan tubuh kurus adalah tanda jasa
Bagi keluarga yang dia hidupkan
Pohon tarebung adalah nyawa
Dan nira jiwa raganya.

 

Annuqayah, 2017

*Tarebung :
*La’ang : Nira
*Salam,par alat untuk memanjat pohon
*Rakara adalah wadah tempat penampungan nira


Royhan Firdaus, kelahiran Desa Jenangger Batang-batang. Aktivis Sanggar Andalas dan Komunitas Persi-IKSABAD. Alumni Mts. Integral Al Qadiri dan termasuk siswa aktif MAT Annuqayah, Santri PP.Annuqayah Lubangsa.

Email : ikbaalqadri@gmail.com

No. Hp : 082301639283

Facebook Comments