Purnama yang berpendar akhirnya jatuh terkulai. Purnama bulat sempurna itu adalah purnama ke-120 yang berpendar membuat hati seorang pungguk terus ditikam pedihnya memendam rasa.  Pungguk malang itu bukanlah pengecut. Ia hanya terlalu tahu diri bahwa laki-laki miskin dan buruk rupa sepertinya tak pantas bersanding dengan gadis yang matanya begitu berbinar seperti purnama, bahkan bermimpi saja ia tak berani.

Nofrizal Wahid adalah pungguk itu. Lelaki yang tak ingin lebih dari tiga detik di depan cermin, saking mengharukan wajahnya. Lelaki yang menghabiskan harinya di lahan kakao, padang rumput meliarkan domba-dombanya dan masjid Al-Kautsar. Tamatan Madrasah Aliyah Negeri, tapi sejauh ia mencari pekerjaan, yang bisa ia kerjakan hanyalah jadi kuli angkut di pasar pagi Gentawangi atau paling banter jadi sales sendok door to door di kota. Garis nasibnya tak seindah wajah perempuan ber-khimar hitam yang telah mencuri hatinya sejak sepuluh tahun lebih. Selama itu pula tak sepatah kata pun ia ucapkan pada perempuan anggun itu.

Malam diselimuti awan gemawan kelabu. Seluruh beban hidupnya memuncak. November lalu, Ibunya yang selama ini jadi single parent-nya wafat akibat penyakit diabetes. Ayahnya malah tak pernah tersimpan di memori kepalanya karena telah wafat ketika dirinya masih dua tahun. Kini ia kehilangan Syalima. Ia ingin segera menikahi Syalima dan hidup bahagia bersamanya, namun sampai kini dirinya tak tahu ke mana Syalimah itu merimba.

Entah ke mana gadis yang bagaikan purnama itu mengembara. Entah sudah bersama lelaki mana, namun yang jelas hati Wahid begitu kehilangan. Terlebih, setiap kali purnama mengintip malu-malu di balik awan, dirinya dihujani ribuan tombak beracun, racun rindu namanya. Karena, seperti purnama itulah pertama kali ia melihat Syalima malu-malu saat disuruh mengaji di depan kelas, dihukum karena terlambat datang ke madrasah sore, saat mereka masih enam belas tahun.

Mengenang masa-masa mudanya ketika begitu berbunga-bunga pada Syalima, sampai-sampai ia terserang obsessive compulsive, beda satu strip dengan penyakit gila. Di bawah sinar bulan ke-120 itu ia terkenang wajah Syalima saat memerah malu dihukum mengaji di depan kelas di madrasah sore dulu. Lalu jilbab hitamnya yang berkibaran tertiup angina sabana, tawa cerianya ketika bercanda dengan Zuraida. Wahid tersenyum.

Di pikirannya berganti adegan ketika ia memandangi punggung Syalima dari jauh hingga menghilang di tikungan, setiap pagi menjelang berangkat sekolah. Pernah perempuan itu terperosok ke lubang bersama sepedanya ketika hari hujan lebat, ingin hatinya segera berlari menolongnya namun ia lebih memilih mencarikan orang lain untuk membantu. Berganti-ganti dengan ribuan kebisuannya yang membekap segala ekspresi cintanya, jauh dalam jiwanya. Kemudian ia menangis hingga sesenggukan. Menangisi ketidakberdayaannya karena tak dapat melakukan apa pun untuk membuat dirinya bahagia mendapatkan Syalimah. Air matanya menganak sungai ke pipi-pipi cekungnya.

Rustam sejak tadi memperhatikan kelakuan sepupunya yang amat ia sayangi. Terkadang dirinya juga iba melihat Wahid ketika rindu pada Syalima begitu kuat mengguncang dadanya.

“Bawalah kerinduanmu itu mengaji, menghayati firman-firman Allah” ucap Rustam lembut dari belakang punggung Wahid.

Wahid terpaku dalam duduknya, tak sedikit pun menoleh.

“Aku berwudhu dan mengaji, namun yang kulihat adalah aku mengaji berdua bersama Syalima di beranda ini,  bergenggaman tangan di bawah sinar purnama.” Jawab Wahid, kosong.

Kalau sudah begitu, Rustam tak tahu harus menyahut apa lagi. Tak habis akal, Rustam kembali mencoba mengalihkan pikiran sepupunya dari perempuan yang telah sukses membuat sepupunya sakit jiwa.

“Kudengar sekolah Taman Kanak-kanak pertama di kampung ini sudah diresmikan,”

Wahid menoleh. TK itu adalah hasil keringatnya mendirikan sekolah itu. bukti peduli pada generasi kuncup Gentawangi agar tak susah payah sekolah TK ke Kotayasa. Wahid dan timnya, yaitu Zuraida –teman madrasah sorenya dulu, Ikhsan, dan Fazri, menggagas ide pembangunan TK di kampungnya sejak setahun silam. Suka dukanya janganlah ditanya. Intinya, susah payah mereka kini berbuah manis. TK sudah diresmikan Camat sekalian Kades, sisanya tim itu menunggu para orang tua mendaftarkan putera-puteri kesayangan mereka ke TK pertama di Gentawangi itu.

*

Subuh baru saja usai. Semburat biru di garis fajar perlahan memudar berganti warna-warna yang lebih terang dan bergelora. Wahid sudah bersepeda ke TK untuk mempersiapkan segala sesuatu dan tak ingin hari pertama pendaftaran murid baru Taman Kanak-kanak Mulia Gentawangi berantakan karena hal-hal sepele yang luput dari persiapan. Rambutnya disisir rapi, klimis akibat tancho. Bajunya safari empat saku wakaf dari Guru Efendi, ayah Rustam yang tak lain adalah pamannya sendiri.

Matahari mulai menyibak kaki langit. Semakin meninggi dan meninggi. Senyumnya mengembang, memandangi bangku dan meja kecil warna-warni cerah yang disusunnya rapi di kelas. Ucapan selamat datang murid baru juga sudah ditulisnya indah dengan kapur warna di papan tulis, juga gambar-gambar hiasan dinding sumbangan dari Bu Kades sudah mantap letaknya. Halaman bangunan TK itu juga begitu menyegarkan mata. Dikonsep seperti taman mungil dengan berbagai tanaman berbunga cerah. Pokok Nephelium lappaceum yang kokoh dan rindang dipasangi ayunan dari ban bekas. Tersusun Angelonia dalam pot-pot kecil. Anthrium dalam pot-pot yang lebih besar. Sementara pokok bungur di sudut halaman, berbunga ungu rimbun, sedang cantik-cantiknya. Mirabilis jalapa warna magenta dan putih di tengah halaman. Meski bunga-bungaan sekedarnay yang ditemui di kampung itu, cukup indah untuk menyihir mata yang memandangnya.

Arloji murahan yang dibeli  di pasar, telah menunjuk angka 6 dengan kompak. Artinya sekitar 30 menit lagi para orang tua akan mulai datang bersama anak-anak mereka untuk mendaftar sekolah TK pertama di kampung tersebut. Zuraida, datang beriring salam. Khimar merah muda yang menjulur menutupi separuh tubuh atasnya membuatnya semakin terlihat anggun dan keibuan. Wahid dan perempuan itu nantinya yang akan jadi guru di TK yang susah payah mereka dirikan itu.

Pukul tujuh lebih sedikit, gelombang kedatangan orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya di TK mulai bermunculan. Zuraida di meja pendaftaran di dalam kelas, sementara Wahid yang begitu bersemangat dengan status barunya menjadi guru, berdiri di muka pintu dengan menyuguhkan senyuman termanis yang ia mampu berikan pada yang datang. Matanya tak lepas memandang gemas pada calon murid-muridnya yang lucu itu.

Dihitungnya bekali-kali memastikan berapa murid yang sudah mendaftar. Hingga pukul 9 pendaftaran akan segera ditutup untuk melanjutkan acara selanjutnya tentang peraturan dan hal lain terkait sekolah. Zuraida hendak membuka pidato sambutan, Wahid selesai dengan pekerjaan menjual senyum di muka pintu dan mulai masuk. Tetapi ada sosok yang tertangkap oleh mata elangnya. Seorang wanita muda ber-khimar hitam menutupi seluruh tubuhnya, juga jilbab hitamnya, diterpa angin di halaman. Tangan kanannya menggandeng bocah laki-laki lima tahun yang tampan. Mereka mendekat agak tergesa ke TK dan Wahid kembali ke muka pintu.

Ibu yang terlambat mendaftarkan anaknya ke TK itu berubah cemas wajahnya ketika melihat banyak sekali yang hadir di kelas, takut TK itu sudah kelebihan murid hingga anaknya tak dapat diterima sekolah di sana.

“Assalamu’alaikum, Pak. Maaf kami terlambat. Masih bolehkah saya mendaftarkan putra saya di TK ini, Pak? Saya mohon,” perempuan itu mengiba pada Wahid, sang guru. Wahid diam agak lama. Ia malah mengamati wajah ibu muda itu. Seakan pernah mengenal wajah itu jauh di masa lalunya. Kata-katanya tercekat di tenggorokan, persis seperti zaman jatuh cinta pada gadis purnama dulu. Seketika wanita muda itu mengingatkannya pada gadis purnamanya.

“Pak.” Panggil wanita muda itu. anaknya mulai kelihatan gelisah juga seperti ibunya. Lamunan Wahid buyar.

“Ini putera saya, namanya Zulfikar Muhammad Noor.” Tunjuknya pada bocah tampan itu.

“Nama Ibu?” Wahid bertanya semampunya pada wanita itu. Ia harap-harap cemas.

Wanita itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada seraya memperkenalkan dirinya.

“Syalima Azriani binti Muchlasain”

Jantung Wahid berdetak keras sebab ditohok sesuatu dari luar dirinya.

“Gadis Purnama!” pekiknya dalam hati.

***

Malam kembali dihamparkan ke langit oleh Tuhan. Di bawah sinar purnama lalu, purnama ke-120-nya, Wahid sesenggukan sebab dirinya begitu banyak mencecap kehilangan. Perihnya kerinduan dan harapan. Harapan yang dipupuknya selama sepuluh tahun, dan enam tahun belakangan ini tak tahu harapan satu-satunya itu merimba ke mana. Syalima Azriani yang dicintai sejak kelas satu Madrasah Aliyah itu tiba-tiba raib. Ia begitu kehilangan.

Namun, Tuhan punya takdir yang lain untuknya. Di beranda rumah kayunya, di bawah sinar purnama ke-121 dan desah angin padang rumput yang mengguncang jiwanya. Telah terang Tuhan tunjukkan Syalima padanya. Syalima Azriani binti Muchlasain, ibu dari murid TK-nya yang bernama Zulfikar Muhammad Noor. Telah terang, cinta dan harapannya kandas seketika mereka bertemu di muka pintu TK.

Wahid memeluk kedua lututnya dan kembali terisak pilu. Betapa ia merasa begitu bodoh membiarkan ia mencinta sendirian, membekap seluruh perasaannya hanya di dada. Seandainya ia berani mengatakan perasaannya di waktu yang tepat, segera menikahinya. Maka, di malam berlukis purnama ke-121 itu ia sedang memandang bulan bulat yang berpendar indah tak terperi dengan istrinya, Syalima, yang menyandar di bahunya, seraya bertasbih memuji kebesaran dan kebaikan-kebaikan Tuhan.


Penulis bernama Amaris Andrayu (nama pena)/ Amalia Aris Saraswati. Lahir di Banyumas, Jawa Tengah, pada 24 November 1997. Meminati cerpen dan puisi sejak kanak-kanak tetapi baru aktif menulis sejak SMP. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA di Jawa, sekarang penulis masih berstatus mahasiswa di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Andalas.

Penulis bisa dihubungi melalui email (amaliarizky0924@gmail.com) atau melalui line (ID: withoutnovember), FB: Amalia Aris Saraswati.

 

Facebook Comments