DI BAWAH LANGIT-LANGIT KOPI

Bagaimana rasanya jika kita terlarut
Dalam ketidak adilan yang memaksa kita
Melewati dengan kegetiran

Bagaimana rasanya jika kepahitan
Adalah salah satu jalan menuju ke manisan yang tertunda
Melewati dengan sehimpun tangis yang membasahi jalan kita

Ketika itu tak ada lagi cahaya-cahaya yang memasuki ruangan kita
Yang biasanya ia selalu hadir di antara kecemasan dan kegundahan
Di antara kita yang merindukannya

Ketika itu kita selalu mengharap pelangi hadir setelah bercerainya
Air dari mata yang sudah terhimpun dalam satu ruang hati
Namun, setelah bercerainya air dari mata
Ia juga tidak hadir seperti biasanya

Maka, di bawah rinai-rinai hujan beriring air dari mata
Menyalami angin – angin lalu
Kita menatap waktu
mengapa kita tak mencoba menyalami rinai hujan dan air dari mata
Atau kita mencoba menyalami cahaya-cahaya kepada pelangi
Setelah itu kita mengadukan kepada pahit bahwa manis akan segera hadir


MENGHIRUP KOPI DALAM SAJAK

Kuhirup engkau dalam sesalmu
Setelah engkau meninggalkan penemanmu

Kuseduh engkau dalam tangismu
Saat panasmu merasuk celah kerongkonganku

Kunikmati pahitmu
Kurangsangkan kemanisan yang kau punya
Lalu, kubelai engkau dalam hati-hatiku
Yang kemarau

Semoga engkau tidak merasakan gundah
Setelah engkau meninggalkan penemanmu
Yang telah menjadi abu dari biji-biji yang menyegar

Sepertiku yang telah bertemu sepi
Dikala risau, penemanku meraup

Tanjungpinang, 12 Oktober 2017


DAN SECANGKIR KOPI – LAH

Dan lagi – lagi kesepian menjalar di urat nadiku
Manakala hati tak sanggup berbohong
Secangkir rindumu
Penobat segala gundah
Dalam gerimis malam
Aku menantimu
Menghangatkan tubuhku
Meski engkau bukanlah wanita yang kuharap
Setelah ia menemukan merpatinya
Dan aku sendiri dalam risau

Tanjungpinang, 12 Oktober 2017


RENUNGAN DALAM RINTIHAN

Terima kasih kepada kata
Kurenung dalam sajak
Semenjak pertikaian
Menghadirkan perpisahan
Terima kasih kepada kasih
Menjawab segala waktu yang meminta
Untuk kita mencari merpati-merpati
Mungkin bukan aku untuk engkau
Dan bukan engkau untuk aku
Setidaknya, malam ini kita telah bersulam
Secangkir kopi kita seduh hingga dasarnya
Telagak kepahitan menyertai

Tanjungpinang, 12 Oktober 2017


KEPADA KOPI

Sedih,
Bukan ketidak berartian
Ketika kita mulai menyanggupi
Bahwa tidak ada lagi pahit yang teradu
Ketika kita telah menyeduh secangkir kopi
Kesedihan adalah ilusi yang menderu
Bagai debu lalu hilang terbawa angin
Apalagi ketika kasih tak lagi saling menggapai

Tanjungpinang, 12 Oktober 2017


Mohammad Oktavino, Lahir di Tanjungpinang, menyandang status Mahasiswa aktif di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH)  Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, puisi-puisinya telah terhimpun dalam Buku puisi Mengapa Kopi (2017), Suara Boedak Sastra (2017).

“ Suara mu boleh saja hilang di makan zaman namun tidak dengan tulisan-tulisan mu”

CP :

  • Facebook : Muhammad Oktavino

  • Instgram : Muhammad Oktavino

  • Surel       : MohammadOktavino@yahoo.co.id

Facebook Comments