Lama. Sudah sangat lama Jarwo melangitkan angan. Beberapa permasalahan sempat mampir mengusik syaraf otaknya. Sesekali ia memijit pelan sembari menggumam meski hanya sekadar berkomat-kamit tanpa ada orang lain yang dapat mendengarnya. Kemudian siulan lembut angin menerpa pelan jenggot tipisnya. Kian menambah rancu dalam pikiran.

Ini bukan tentang skandal perselingkuhan dalam rumah tangganya. Namun juga tidak tentang desas-desus tentang akan dicabutnya sertifikasi bagi guru PNS. Permasalahan yang dipikirkannya saat inilah yang justru hampir membuatnya jijik menjadi peran seorang guru honorer. Ia hanya merasa gagal menyumbangkan ilmu kepada para anak didiknya.

Beberapa bulan yang lalu, ketika Jarwo masih bersungut-sungut untuk membagi ilmunya kepada siswa SMP Blauk. Sudah dari kecil impiannya adalah menjadi seorang guru. Dianggapnya, seorang guru adalah sebuah pekerjaan yang sarat akan pahala. Itu sebabnya, meskipun dulu ayah dan ibunya tak kurang usaha dalam membelokkan niatnya, Jarwo tetap bersikukuh. Ia bertahan pada pendiriannya untuk menjadi seorang pendidik.

“Guru itu banyak pahala Pak!” sergahnya kala itu sangat yakin.

Lalu waktu membawanya datang ke sebuah daerah yang bernuansa desa kekotaan. Awalnya, Jarwo yang benar-benar asli penduduk desa sempat tak percaya. Di daerah tempat tinggal barunya memang benar sesawahan masih terhampar luas. Pun listrik yang belum tersebar merata ke setiap sudut. Tapi pola hidup penduduknya benar-benar mencerminkan gaya hidup masyarakat kota. Bahkan tak jarang Jarwo mendapati mereka bapak-bapak desa suka berpesta sehari semalam. Ditemani biduan cantik dengan pakaian serba mini.

Lama kelamaan Jarwo sendiri mulai terbiasa. Apalagi setelah ia mulai mendapat jatah mengajar di sebuah sekolah menengah pertama. Begitu pun pada saat-saat pertama Jarwo menjadi guru honorer. Sikap timpang sangat kentara terasa, antara ia; guru honorer dengan Pak Marto; PNS. Apa-apa yang menjadi tidak tetap di sana akan disepelekan. Bukan hanya oleh para rekan sesama guru, melainkan para siswanya juga yang cenderung suka mengabaikan penjelasan materi darinya.

Dan sialnya, anak-anak desa yang merasa kekotaan itu sudah baru-baru ini mengenal apa yang disebut IPTEK. Seperti menemukan ufo beserta aliennya, saat pertama kali ada seorang siswa yang membawa ponsel pintar ke dalam kelas. Mereka berkumpul dengan berbagai suara kekaguman tanpa menghiraukan Jarwo. Meski mereka menyadari kehadiran Jarwo.

“Anak-anak, apa pelajaran bisa kita mulai sekarang?” tegur Jarwo memecah gerombolan para siswa kelas dua. Mereka lalu dengan serentak menoleh ke atah Jarwo dengan pandangan sinis yang luar biasa.

Jarwo merasa tidak berdaya. Apalagi ia hanya seorang guru honorer yang masa mengajarnya bisa bergantung pada kenyamanan para siswa saat ia mengajar. Yang lebih miris, hanya segelintir siswa yang bersedia kembali ke tempat duduknya semula. Itupun tanpa meninggalkan raut kekesalan pada wajah mereka.

“Baik. Untuk yang sudah mendengar perkataan bapak, terima kasih. Untuk siswa yang lain, ayo segera menyusul kembali ke bangku masing-masing.” Perintah Jarwo sekali lagi. Kali ini tanpa pikir panjang. Persetan dengan cacian siswa-siswa itu. Yang penting tugasnya sebagai seorang guru harus terlaksana dengan baik.

Akhirnya dengan segenap kesabaran, para siswa itu satu per satu kembali ke tempat duduk. Kini giliran Jarwo yang harus menguasai keadaan kelas. RPP yang telah dirancangnya semalaman harus berjalan sebagaimana mestinya. Agar mereka memperoleh haknya dalam memperoleh ilmu baru.

“Buka buku kalian halaman 10. Hari ini kita akan membahas tentang apa yang dimaksud dengan nasionalisme dan patriotisme. Apa ada yang tau arti kedua kata tersebut?”

Hening. Beberapa dari siswa malah memilih tidur di atas bangku dan yang lainnya hanya mengerjap-ngerjapkan mata disertai uapan kantuk.

“Baiklah. Mungkin tidak banyak dari kalian yang tahu apa arti dari nasionalisme dan patriotisme. Jadi, nasionalisme adalah suatu paham dari berbagai masyarakat untuk menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara. Sedangkan sikap patriotisme adalah sikap yang berani, pantang menyerah dan rela berkorban demi bangsa dan negara.”

Lalu seorang siswa perempuan mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. Rupanya itu adalah pertanda baik untuk Jarwo.

“Apa berarti seperti kami melaksanakan upacara setiap hari Senin itu sebagai contoh sikap nasionalisme?” tanya siswa itu begitu polos.

“Ya. Tentu. Dengan kita sebagai warga negara Indonesia, rutin mengikuti upacara dengan khidmat setiap hari Senin, itu sudah merupakan contoh sikap nasionalisme. Yang lain ada yang ingin ditanyakan lagi?”

Hening. Selain pertanyaan satu siswa perempuan tadi, rupanya tidak memancing pertanyaan lain ke permukaan. Mereka malah terlihat semakin bosan mengikuti jam pelajaran Jarwo. Karena terbukti hingga jam istirahat tiba, pelajaran diakhiri tanpa ada penghormatan dari para siswa. Mereka juga tidak enggan meninggalkan kelas begitu saja meskipun Jarwo masih berada pada tempat duduknya. Mengucap salam pun tidak!

Hal ini pun juga sudah sangat sering ia ceritakan kepada Warni, istrinya. Meskipun Warni sudah mengingatkan tentang hal ini berulang-ulang kali, tapi Jarwo tetap teguh pada pendirian. Ia tetap bersikeras bahwa sikap para siswanya yang sedemikian tidak memiliki sopan santun, hanya karena mereka adalah remaja tanggung.

Mungkin saja di rumah mereka tidak diperkenalkan pada nilai-nilai kesopanan oleh orang tua. Karena sepengetahuan Jarwo, kebanyakan orang tua mereka memilih bekerja di luar kota. Sehingga mereka cenderung kurang perhatian dan didikan moral oleh orang tua masing-masing. Sedangkan mereka yang hanya dititipkan di sanak saudara orang tua atau kakek nenek, cenderung merasa kurang pengawasan terhadap ruang lingkup pergaulan mereka.

“Mas mas, mbok ya mas itu sadar. Meskipun masih remaja tanggung sudah sepantasnya mereka mendapat teguran keras jika mereka kelewatan batas berlaku tidak sopan sam mas.” Begitu ujar Warni saat itu.

Ditemani dengan se-mug teh panas, Warni dan Jarwo saling berbagi cerita keseharian. Warni yang bercerita tentang bagaimana keadaan KUD hari demi hari yang mengalami kemajuan begitu pesat karena adanya perkembangan IPTEK. Namun sebaliknya, Jarwo merasa adanya IPTEK membuat para siswanya menjadi tuna rungu. Mereka seperti terbungkam oleh perkembangan zaman dan memilih lebih takjub dengan fitur-fitur canggih yang ditawarkan oleh sebuah ponsel cerdas. Bisa jadi sinyal dari ponsel cerdas itulah yang membuat para siswanya mendadak tuli.

“Lah wong mereka itu jadi begitu karena benda itu.”

“Alah mas ini kalo ngomong mbok jangan ruwet. Bikin Warni pusing. Pokoknya ya mas, karena ada ponsel pintar itu, KUD jadi berkembang sangat pesat. Warga jadi ndak ketinggalan info dari pemerintah. Cukup tekang gambar bola dunia di benda itu, mereka sudah mendapat kabar dari seluruh dunia. Hebat tho?” jelas Warni penuh kekaguman.

“Ya dek sudah terserah kamu saja. Mas capek. Istirahat dulu. Biar tetep sabar buat ngajar anak-anak besok. Inget dek, segala pekerjaan itu harus dilakoni dengan ikhlas. Jangan karena sesuatu lantas kita jadi ndak lillah.”

Lalu suara jangkrik lah yang mengiringi malam. Sementara itu, gelap semakin menyelimuti suasana desa.

Keesokan harinya semangat Jarwo kembali memuncak. Dengan menggebu-gebu ia sangat bersemangat memasuki kelas yang berbeda. Berharap keberadaannya di kelas kali ini akan diterima dengan baik.

“Selamat pagi anak-anak.” Ucap Jarwo saat sudah berada di dalam kelas.

Hening. Semua tatap mata justru teralih pada layar sebuah benda yang ada pada genggaman mereka. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang tertawa-tawa kecil entah karena apa. Kehadiran Jarwo seperti antara ada dan tiada di kelas ini. Semua penghuni kelas sibuk memainkan ponsel cerdas masing-masing. Tidak ada sahutan salam singkat satu pun di antara mereka. Mereka benar-benar menjadi tuna rungu!

“Selamat pagi anak-anak!” ulang Jarwo. Kali ini dengan suara yang lebih lantang disertai dengan gebrakan meja karena ia merasa sangat kesal.

Dan berhasil. Perhatian mereka kini teralihkan dari layar ponsel. Berganti memandangi Jarwo dengan tatapan aneh sekaligus marah. Lalu salah seorang dari mereka beranjak dari kursi dan berdiri tegap menghadap Jarwo. Tanpa ada keraguan sedikitpun yang terpapar pada raut siswa itu.

“Kenapa bapak harus menggebrak meja? Tidak bisakah bapak berbicara lebih sopan?” celetuknya tanpa dosa.

Jarwo terhenyak. Bukan karena keberanian siswa itu dalam berbicara, melainkan karena isi pembicaraannya yang bernada protes dan tak ragu untuk memerintah seorang guru agar berbicara lebih sopan. Siapa yang salah sebenarnya? Pikir Jarwo tanpa habis pikir.

“Kami bisa saja melaporkan bapak ke kepala sekolah karena sudah mencontohkan sikap kurang baik kepada kami, dengan menggebrak meja.” Siswa yang lain menyusul protes. Kali ini justru lebih pedas.

“Ya, betul. Kami akan melaporkan bapak!”

Lalu seorang siswa berlari keluar kelas. Jarwo hanya tidak menduga mereka benar-benar akan melaporkan tindakannya kepada kepala sekolah. Seberani dan setidak beretikanya-kah para tuna wicara di sini? Pikir Jarwo.

Dan beberapa menit setelah siswa pelapor tadi kembali ke kelas. Dengan memasang wajah penuh kemenangan ia berkata,

“Pak kepala sekolah memanggil Bapak ke ruangan.”

Entah apa yang dipaparkan olehnya ketika berada di ruang kepala sekolah. Yang pasti sesuatu yang buruk akan terjadi kepada Jarwo. Ancaman pemberhentian masa kerja paksa pun sudah terbayang di depan mata.

“Terima kasih atas sikap kalian yang sama sekali tidak mencerminkan sebagai seorang siswa!” lalu Jarwo bergegas menuju ruang kepala sekolah. Penasaran dengan keputusan apa yang diambil oleh si Kepsek.

“Selamat pagi pak.”

“Selamat pagi Pak Jarwo. Silakan duduk.”

“Ada apa bapak memanggil saya kemari?”

“Saya dengar bapak telah melakukan tindakan tidak pantas di depan para siswa. Benar begitu?” tanya kepala sekolah tanpa tedeng aling-aling.

“Tidak pak. Sebenarnya saya hanya menegur para siswa agar saya bisa segera memulai pelajaran. Hanya itu.” Jelas Jarwo apa adanya.

“Lalu bagaimana dengan video ini?”

Kepala sekolah menunjukkan sebuah video yang menampilkan dirinya ketika sedang menggebrak meja sangat keras di dalam kelas. Jarwo tak berkutik. Para tuna rungu itu ternyata selangkah lebih cerdas dari pikirannya. Meskipun ia sudah menyandang gelar sarjana pendidikan sekalipun. Ini berarti ia telah gagal menjalankan amanah dari dirinya sendiri sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Terlintas dalam benaknya pendidik zaman sekarang seperti memakan gaji buta. Pun siswanya yang lama kelamaan nihil etika. Oh tuna rungu.


Ade Vika Nanda Yuniwan. Adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Unijoyo Madura. Bisa dihubungi melalui email:  adevikananda24@gmail.com Media sosial: Ade Vika (Fb) / adevikananda (Instagram)

Facebook Comments