Merupakan sebuah kebanggaan memiliki wajah mulus tanpa jerawat ataupun noda hitam di wajahmu. Namun, Ambar hanya bisa sabar dan tabah dalam menghadapi hidup ini. Menjadi seorang gadis remaja tidak membuat kehidupan Ambar dipenuhi dengan rayuan-rayuan gombal dan pendekatan dari para lelaki gatal. Yang memenuhinya kini ialah jerawat. Kadang ia sampai ingin menghantamkan wajahnya ke cermin saking sebalnya kala ia bercermin menatap wajahnya yang penuh jerawat. Namun semua itu takkan pernah terjadi. Sebab kakaknya selalu berkata,

“Jangan kau pecahkan cermin itu dengan wajahmu, Mbar! Kupikir lebih mudah membersihkan jerawat di wajahmu daripada membersihkan serpihan-serpihan cermin pecah itu nanti.”

Ia langsung menempelkan wajahnya ke dinding dengan sangat keras.

***

Pagi ini cuaca sangat baik. Langit menggelapkan diri, banyak tetesan air yang mengguyur bumi, tanah jadi bergelimang becekan, tak ada yang bisa kerja, tak ada yang bisa sekolah. Hari yang sangat tepat bagi Ambar untuk menambah keakraban dengan kakaknya yang memiliki hobi selfie tersebut. Dengan tubuh masih tergeletak di ranjang, ia memandang keluar pintu. Di situ ada kakaknya yang sedang memasak mi goreng. Tangan kanan memegang spatula, tangan kiri memegang ponsel yang berkamera depan delapan megapixel. Yap. Untuk apa lagi kalau bukan untuk selfie. Ambar pun mendengus kesal.

“Aku tahu kalau wajahmu itu putih mulus berseri, kak!” Teriaknya.

“Itu jelas. Dan kau hanya bisa iri karena wajahmu seperti jalan di depan rumah kita!”

Terlihat jelas dari jendela kamar mereka, seorang pengendara motor yang nyungsep ke selokan akibat berusaha menghindari lubang-lubang berisi air keruh di jalanan.

Ambar yang baru bangun tidur, yang pipinya masih ada kerak ludahnya (biasanya disebut iler) , yang ujung matanya masih tersumbat partikel lembek (biasanya disebut belek), langsung bangkit dari ranjangnya dan segera menghantam kakaknya dengan tendangan maut super ala James Bon. Tunggu, sejak kapan Om James ahli tendang-menendang?

Buak!

Ambar begitu marah karena kakaknya selalu saja menghina adiknya sendiri. Ia sangat muak selalu disebut-sebut karena perbedaan permukaan kulit wajah mereka. Selepas diterjang oleh adiknya, Yosi tak sadarkan diri. Lantas, ia bangkit dan berubah menjadi seekor siluman ular berkepala singa. Huahahaha!

Yak, cukup. Itu hanya bayangan alam sadar Ambar. Ia tak berani melakukan adegan kekerasan tersebut. Ia anak baik-baik. Ia lebih memilih diam dan tidur lagi. Memang, orang baik cenderung malas. Mitos atau fakta!?

Usai sarapan, Ambar mengawali percakapan dengan kakaknya lagi. Kala itu Yosi sedang berdandan di depan cerminnya yang sudah retak. Barangkali harga cermin lebih mahal ketimbang bedak two way cake-nya.

“Bedak itukah yang membuat wajahmu tetap mulus, kak?”

“Tidak juga.”

“Terus?”

“Itu rahasia yang takkan kau dapatkan dari siapa pun.”

Ambar berdiri dan berjalan meninggalkan kakaknya yang masih tetap menatap ke cermin sembari membedaki wajahnya yang bening itu. Kakak macam apa itu, main rahasia-rahasiaan dengan adiknya sendiri, batin Ambar. Ia langsung masuk ke dalam kamar, membuka lemari dan mencari berkas-berkas keluarga seperti kartu keluarga dan akta kelahiran Yosi. Curiga berat melandanya.

“Ambar!”

Deg! Ambar terkejut. Saat sedang fokusnya mencari berkas, Yosi masuk ke dalam kamar dan mendapati adiknya dalam keadaan seperti maling. Ambar bergetar dan langsung menyandarkan tubuhnya di lemari kayu itu. Kakaknya melangkah mendekati Ambar. Tidak, itu bukan langkah biasa. Itu langkah pembunuh, berat dan mencekam. Pandangannya tajam dan beringas, seperti ingin memisahkan kepala Ambar dengan tubuhnya. Ambar memejamkan mata. Ia tak tahu apa yang terjadi setelah ini. Ia menyesal telah serumah dengan kakak bohongan seumur hidupnya. Inilah waktuku, batinnya. Ia berpikir ia belum lagi menikah, punya anak, dan punya cucu yang sangat imut. Oh, betapa cepatnya hidup ini. Andai saja aku bisa…

Plak!

“Au!”

Yosi mendaratkan pukulan keras di kening adiknya. Ambar meringis.

“Dasar kakak yang kejam!”

Yosi diam melongo memandangi telapak tangannya yang putih mulus itu. Memangnya ada telapak tangan hitam?

“Tak kena. Ia berhasil kabur. Padahal tubuhnya sudah segemuk ayam potong.”

Ambar melotot dan menganga terkejut lagi sembari mengelus-elus keningnya. Ternyata kakaknya mengincar nyamuk yang ada di keningnya sedari tadi.

“Eits, itu dia datang lagi, Mbar!”

Plak!

“Jangan bilang tak kena lagi!” Ambar mengeluarkan bentakan yang penuh ketakutan.

Kakaknya tak tahu harus menggeleng atau mengangguk atas pertanyaan ambigu tersebut. Ambar rasanya ingin menggigit dan membredel habis-habisan kakaknya setelah tahu tak ada bekas darah di telapak tangan Yosi.

***

Tengah malam, pintu rumah mereka diketuk seseorang. Yosi terbangun dan dalam keadaan setengah sadar, ia membuka pintu.

“Ada perlu apa?” Matanya setengah terbuka setengah tertutup.

Tak ada seorang pun yang mendengar teriakan Yosi saat ia berhasil diculik oleh pria misterius tadi. Dengkuran Ambar sempat terhenti saat kakaknya menjerit tolong, namun itu tak membangunkannya. Setelah kakaknya sampai di dalam mobil, dengkurannya berlanjut kembali.

“Kak?”

Waktu sudah pagi saat Ambar memanggil kakaknya. Ia langsung duduk tegak dan melihat di sisinya kakaknya sudah tak ada lagi. Barangkali kakak sudah di dapur, batinnya. Ia pun berlari menuju dapur dan ternyata…

“Halo, Ambar… ”

“Kak? Apa yang terjadi dengan wajah kakak? Kenapa kakak jadi berjerawat?”

“Tak apa. Ini semua demi kebaikanmu.” Kakaknya menjawab dengan lembut sembari memotong kentang.

“Kebaikanku? Apa maksudnya?”

Ambar mencoba mendekati kakaknya. Namun ia merasa ada yang beda saat berjalan melewati cermin di sampingnya. Lantas ia pun kembali lagi ke cermin itu dan segera melihat wajahnya. Ternyata oh ternyata…!

“Ini tidak mungkin!”

Yosi tertawa dan menuangkan potongan kentangnya ke dalam penggorengan.

“Kakak melakukan semacam teknik substitusi?” Tanya Ambar.

“Aku lebih menyayangimu ketimbang diriku sendiri. Sekarang kau sudah mampu mewujudkan wajah mulusmu!” Yosi tersenyum riang.

Seperti ada dorongan kuat dalam diri Ambar untuk segera berteriak dan mengeluarkan air mata. Ia menahannya walau beberapa tetes air mata bisa jatuh juga. Wajahnya memerah padam. Kakaknya yang kini sudah tak semulus hari kemarin terkejut tiba-tiba adiknya itu mendekap erat kakaknya penuh tangis bercampur tawa.

***

Hari ke hari, waktu terus melangkah cepat tak peduli apa pun. Ambar selalu mengisi harinya dengan senyuman dan keceriaan. Kepercayaan dirinya juga meningkat pesat terutama saat meng-upload foto ke media sosial tanpa menggunakan aplikasi pemulus wajah. Banyak lelaki yang mendekatinya bahkan sampai ada yang ingin melamarnya. Tentu ia semakin sibuk dengan gadgetnya karena mengurus banyak lelaki. Saking bahagianya dengan semua itu, ia pernah tak bisa tidur semalaman. Dalam bepergian juga mudah. Banyak lelaki yang menawarkan diri sebagai tukang ojek pribadinya. Tentu Ambar punya skill manajemen yang mumpuni. Hari ini ia jalan dengan si A, besok si B, besoknya lagi si C. Sempat ada teman perempuannya yang mengetus pedas,

“Hei, ketombe!”

Ambar menoleh ke belakang saat ia tengah berjalan dengan bergandengan tangan dengan seorang lelaki.

“Reni, siapa yang kau maksud dengan ketombe?”

“Tentu saja kau! Selalu menempel pada siapa saja! Itu kan kerja ketombe!”

“Enak saja! Seperti itukah orang iri ketika ia tidak mampu menjadi secantik Ambar Sonya?”

“Sombong sekali kau! Ingat, dulu wajahmu seperti apa! Harusnya kau habiskan waktumu untuk bersyukur, bukan menjajakan wajahmu itu untuk diciumi habis-habisan dengan sembarang lelaki! Dasar murahan!”

Tanpa aba-aba, kedua gadis tersebut bertarung habis-habisan di pinggir taman kota. Si lelaki hanya diam saja, malahan pergi berlari meninggalkan tempat kejadian. Tak ada yang melerai mereka. Justru pertarungan itu malah diabadikan sebagai video oleh beberapa orang dan diupload ke media sosial. Bahkan ada yang bertaruh pada mereka. Polisi tak kunjung datang padahal itu sudah menit kelima mereka bertarung. Tahu sendirilah, polisi selalu datang terlambat jika menjadi figuran. Kecuali bila mereka jadi lakon utama.

“Ambar, hentikan!”

Tiba-tiba Yosi datang dan melerai mereka berdua. Meskipun bisa dibilang Yosi agak lambat datang, karena wajah Ambar dan Reni sudah penuh luka dan pakaian mereka juga sobek-sobek, tapi setidaknya itu berhasil membubarkan pertarungan yang tak pantas ditiru.

“Kenapa kau jadi begini, Mbar? Kau berebut lelaki?”

“Tidak, kak. Si bulu ketek zombi itu yang memulai duluan. Ia mengataiku sebagai seorang yang murahan.”

Tak ada yang mengira sebelumnya, ternyata dibalik itu semua, Reni membawa sebuah pistol. Langsung saja ia mengeluarkan dari saku jaketnya dan menembakkan sebuah peluru panas tepat pada garis lurus kepala Yosi dan kepala Ambar. Orang-orang di sekitar taman tentu kaget bahkan menganga lebar. Karena posisinya seperti ini: Reni—Yosi-Ambar, dan Yosi membelakangi Reni, tentu kepala Yosi yang bakal tertembus peluru tersebut. Entah siapa editor dibalik cerpen yang tak bermutu ini, peluru itu ternyata bergerak slow motion! Ia berputar dan melesat di udara. Ekspresi jahat Reni terukir jelas di wajahnya. Ambar yang mengetahui itu tentu menjerit begitu lebarnya sampai ia terpipis di celana. Detik-detik kematian Yosi telah tiba. Burung-burung bangkai menatap liar dan berdansa senang. Orang-orang begitu seksama menyaksikan peristiwa peluru yang begitu lambatnya sampai di batok tengkorak Yosi. Hei, ayolah, kenapa ini begitu lama sekali? Dasar editor video amatir! Jangan-jangan ia terlalu terbiasa menggunakan software gratisan.

Pluk!

Seonggok tahi cicak yang masih hangat menempel di bibir Ambar. Ia jadi terbangun dan menjerit kala tahu ternyata seekor cicak buang air tepat di atas bibirnya. Tentu tahi itu tertelan begitu saja akibat Ambar yang tak bisa mengontrol jeritannya. Pagi yang membahagiakan bagi Ambar. Bangun tidur langsung sarapan tersedia tepat di atas bibirnya.

“Ya ampun, ternyata semua itu hanya mimpi! Syukurlah!”

Ambar langsung bergegas menuju dapur demi bertemu kakaknya. Ia sangat gembira sekali semuanya ini dapat kembali berjalan normal.

“Loh, kak?”

Kaki Ambar lemas dan dingin saat tahu kenyataannya bahwa wajah Yosi lah yang menjadi berjerawat. Ternyata mimpinya menjadi sebuah kenyataan!

“Kakak gundulmu! Aku iki Mbak Iyem tonggo kesayanganmu, nduk! Mbakyumu ngongkon aku ben nggawe sarapan neng omahmu. Soale mbakyumu enek pesta nenggon omah koncone! Lah mboh pesta opo. Wengi mau jarene mbakyumu lungo dipapak koncone, kiro-kiro jam rolas. Pokoke ojo takon aku soal mbakyumu meneh. Sing penting kwe sarapan sek ben lemu koyok pitikku! Hihihi!”[1]

Ambar malah melongo mendengar penjelasan Mbak Iyem. Iya sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan wanita bersuami satu itu yang kebetulan wajahnya mirip Yosi dan penuh jerawat. Ia pun memutar badan dan bernafas lega. Harapannya saat ini adalah kakaknya segera pulang sebab ia sangat merindukan kakaknya itu setelah mengalami mimpi buruk tadi.

Usai sarapan dengan Mbak Iyem, Ambar mencuci wajahnya dengan sabun wajah milik kakaknya. Baru kali ini ia mengambil yang milik kakaknya. Dibasuhnya wajahnya itu dengan air pagi yang begitu menyejukkan. Setelah mengeringkan wajahnya dengan handuk, ia pergi bercermin. Dan ternyata..

“Hah? Kemana semua jerawatku? Tidak mungkin. Pantas wajah kakak selalu mulus. Ternyata sabun itu rahasianya!”

Ia langsung melompat riang dan bernyanyi seperti artis Bollywood. Dicari-carinya Mbak Iyem sampai ke ruang tv demi memberitahukan kejadian yang membahagiakannya ini.

Sampai di ruang tv, ia mendapati Mbak Iyem sedang menangis terisak-isak menyaksikan acara televisi pagi itu. Entah berita apa yang ditontonnya, Ambar juga belum tahu.

“Ada apa, Mbak?”

Mbak Iyem tak mampu berbicara apa pun. Ia menggigit bibirnya sendiri dan air mata mengalir begitu derasnya. Ia hanya mampu menunjuk acara berita yang sedang ia tonton. Dengan rasa penasaran, Ambar memperhatikan berita apa yang sedang dibawa.

“… Menurut beberapa saksi dan warga setempat, peristiwa penembakan ini dilatar belakangi masalah asmara. Karena membawa pistol di saku jaketnya, tersangka pun langsung menembak Yosi Purnama tepat di kepala dalam jarak beberapa meter. Saat ini, jenazah korban sedang dalam tahap otopsi…”

Jerit histeris Ambar memecah kesunyian pagi yang nyata. (*)

 

Seruyan Tengah, Juli 2017

 

[1] “Kakak gundulmu, aku ini Mbak Iyem, tetangga kesayanganmu. Kakakmu menyuruhku agar membuatkan sarapan di rumahmu. Sebab kakakmu sedang ada pesta di rumah temannya! Nggak tahu pesta apa. Tadi malam katanya kakakmu pergi dijemput temannya, sekitar jam 12. Pokoknya jangan tanya aku lagi tentang kakakmu. Yang penting kamu sarapan dulu agar gemuk seperti ayamku! Hihihi!”


Nanda Insadani, yang lahir ke dunia pada 29 Juni 1998 M, merupakan salah satu Top Author di Cerpenmu.com. Gemar membaca dan berpikir. Cerpen dan puisinya banyak tersebar di dunia maya. Akun facebooknya sama dengan nama asli.

Facebook Comments