Aku menengok keluar jendela dengan was-was. Turbulensi ini merupakan yang terparah yang pernah kualami. Aku sudah menunduk untuk meraih life vest dari bawah kursi saat guncangan di pesawat mulai berkurang dan perlahan kembali normal.

Terdengar suara lantang yang menggema dari pengeras suara. “Di sini kapten Anda, Andi, berbicara. Kita sudah keluar dari cuaca buruk dan kondisi saat ini sudah kembali stabil. Kita akan tiba di bandara Sultan Hasanuddin setengah jam lagi pada pukul 11.00 WITA. Terima kasih dan selamat menikmati perjalanan dengan kami.”

Aku menempelkan kening di jendela pesawat yang tirainya setengah terbuka. Oh, aku suka dinginnya. Aku juga suka keajaiban dalam pesawat di mana hujan tidak jatuh ke bawah melainkan meluncur ke belakang, suatu pemandangan yang menakjubkan. Langit di luar masih kelabu tetapi para penumpang sudah bisa tersenyum lagi.

Waktu aku kecil, aku suka berdiri di tengah hujan dan menjulurkan lidah untuk merasakan asinnya. Saat itu aku penasaran apakah kalau kita berada di atas awan kita tidak akan kebasahan saat hujan. Gadis bodoh, aku tak percaya dulu aku mengira awan akan turun menyentuh tanah seperti durian yang matang jatuh dari pohonnya dan membayangkan berbaring di atasnya untuk merasakan sensasi kasur paling empuk sedunia. Saat sudah dewasa, aku malah takut terjun bebas menembus awan di luar sana.

Ada banyak hal yang aku takuti, bahkan bisa dibilang paranoid. Mulai dari cicak di dinding, mati lampu, juga orang asing yang tiba-tiba menghampiriku di pinggir jalan padahal hanya ingin menanyakan arah. Tapi satu hal yang tidak aku takutkan adalah menua seorang diri. Umurku bahkan belum tiga puluh tapi orang tuaku sudah lama mendesak agar aku segera menikah.

“Sarah saja menikah waktu dia masih dua puluh tahun. Kamu kan kakaknya, masa tidak malu sama orang-orang.” Begitu kata mama di telepon tiap kali kami berbicara.

Awalnya aku pikir adikku menikah muda adalah hal yang baik. Dengan begitu, orang tuaku bisa menimang cucu sehingga mereka akan berhenti menggerecokiku. Tapi nyatanya mereka malah semakin gencar menggebahku sampai akhirnya aku mengiyakan saja saat mereka berkata akan menjodohkanku dengan Azka, kakak kelas yang juga merupakan tetangga sebelah rumah kami. Aku bahkan tidak tahu seperti apa dia sekarang. Sebenarnya aku belum pernah jatuh cinta pada siapa pun. Bukan karena tidak mau tapi aku terlalu takut untuk jatuh cinta. Entah itu hal buruk atau justru hal baik.

***

Acara adat memang merepotkan. Aku masih ingat kerepotan ketika adikku menikah. Sekarang aku harus mengalaminya lagi, bahkan lebih parah karena aku yang jadi pengantinnya. Calon pengantin tidak boleh saling menemui sebelum acara pernikahan dimulai. Sungguh menggelikan mengingat terakhir kali kami bertatap muka secara langsung adalah saat aku mulai masuk SMA dan dia sudah bersiap untuk melanjutkan kuliah keluar kota. Selama ini aku tidak pernah bertanya tentang pekerjaannya karena menurutku tidak begitu penting. Lagi pula aku sudah terbiasa menghidupi diri sendiri jadi apa pun pekerjaan suamiku nanti tidak akan masalah. Ya ampun, feminis sekali.

Azka beberapa kali mengajakku chatting tetapi hanya sekedar menyapa, sama sekali tidak ada hal yang menunjukkan bahwa kami adalah pasangan yang akan segera menikah. Suatu hari, aku melihat desain undangan pernikahan kami dan aku menghela napas melihat namanya yang pasaran: Andi Azka. Sepertinya setengah populasi di kota ini bernama Andi, baik laki-laki maupun perempuan. Sebenarnya itu bukan hal yang buruk mengingat itu adalah gelar adat tapi namaku juga Andi Hera. Sekarang orang-orang di luar pulau pasti akan mengira kami pasangan yang aneh.

Aku ingat dulu dia suka melempar pesawat kertas ke belakang kepalaku lalu berteriak, “Yeah! Mendarat dengan sempurna.” Setelah itu aku akan memelototinya kemudian dia pasti langsung kabur secepat angin sambil tertawa penuh kemenangan. Tak disangka dia benar-benar menerbangkan pesawat sungguhan sekarang. Ya, pekerjaannya adalah pilot. Sehari sebelum pernikahan kami, dia mengaku bahwa dia adalah pilot yang menerbangkan pesawat yang kutumpangi ke sini.

Sepertinya dia memang menyukai pekerjaannya itu. Bahkan gambar profilnya pun MIG-28 dari Top Gun, film Tom Cruise zaman dahulu. Aku tidak bisa menemukan satu pun foto dirinya. Jangan-jangan wajahnya terlalu memalukan untuk dipampang.

***

Aku duduk di dalam kamar dengan bosan saat orang-orang mengintip pengantin pria yang sudah masuk ke dalam rumah.

“Seperti apa dia?” Tanyaku tak bisa menahan rasa penasaran.

“Aku tidak tahu harus bilang apa.” Gumam salah seorang sepupuku dengan mulut ternganga.

 

“Kak…” kata adikku seraya menaruh satu tangannya di pundakku “Kamu harus bisa tabah menjalani pernikahan dengan suami seperti dia.” Dia mendengus keras sambil geleng-geleng kepala.

Ternyata apa yang aku takutkan menjadi kenyataan. Memangnya separah apa tampangnya? Tapi sudahlah, aku pasrah saja. Azka berdiri di luar kamar sambil mengulurkan tangannya saat aku menundukkan kepala dengan hiasan yang berat untuk bisa keluar dari pintu kamar sempit itu. Aku meraih tangannya dan saat melihat badannya yang terbalut jas pengantin, aku setengah bersyukur ternyata perutnya tidak buncit seperti yang kubayangkan. Aku menengadah untuk melihatnya dan terkejut bukan main.

Makhluk ini jauh dari kata jelek. Dia nyengir kepadaku yang kemudian kubalas dengan sikap jual mahal. Sebisa mungkin aku memasang muka datar. Sarah berbisik di telingaku “Tuh kan kak, sekarang kamu harus tabah karena perempuan-perempuan lain pasti akan selalu melirik suamimu.”

***

“Kenapa kau mau menikah denganku?” tanyaku padanya suatu hari.

“Kenapa kau mau menikah denganku?” balasnya dengan pertanyaan yang sama.

 

Aku kesal dengan sikapnya yang arogan itu jadi aku memutuskan untuk meninggalkannya yang sedang asyik dengan pesawat modelnya untuk masuk ke dalam kamarku. Ya, kamarku, bukan kamar kami. Mana mungkin aku mau menyerahkan diriku sepenuhnya pada orang yang tidak aku cintai.

Belum sedetik aku membalikkan badan, dia sudah meraih tanganku kemudian mendekapku dalam pelukannya. Aku bisa merasakan hangat napasnya saat dia membisikkan sesuatu di telingaku “pesawat awan.”

Ingatanku melayang saat aku masih kecil dan ingin menjadikan awan sebagai kasurku. Ada anak laki-laki yang berdiri di dekatku saat aku menatap langit tanpa berkedip.

“Matamu bisa buta kalau kau melihat matahari terlalu lama.”

“Bukan matahari yang aku lihat, tapi hamparan di sekelilingnya, aku ingin tidur di atas awan itu. Aku harap awannya bisa jatuh persis di depanku.”

Anak laki-laki itu terlihat geli mendengar perkataanku.

“Awan tidak bisa jatuh tapi kau bisa terbang menembusnya.”

“Benarkah itu?” Tanyaku tidak percaya tapi sekaligus terkesima.

“Tentu saja. Kau bahkan bisa terbang menembus apa saja, melampaui tak terbatas ke mana pun angin membawamu.”

Kami bermain seharian dan dia mengajariku bagaimana melipat pesawat kertas. Aku menerbangkan pesawat kertas yang dia buat untukku dan mengejarnya sampai ke jalan. Tanpa kusadari, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Aku melihat mobil itu semakin dekat ke arahku tapi sekujur tubuhku mendadak membatu dan tidak bisa bergerak. Aku pikir saat itu semuanya sudah berakhir sampai kemudian seseorang mendekapku erat dan kami terguling ke trotoar.

***

Aku dapat mendengar detak jantung Azka yang sangat kencang. Aku ingin mengangkat kepalaku tapi terlalu malu untuk melihat matanya.

“Ingat apa permintaanmu dulu?”

Aku menenggelamkan kepalaku semakin dalam, takut dia melihat wajahku yang seperti kepiting rebus. Berani taruhan, dia pasti sedang menyeringai.

“Biar aku mengingatkanmu” katanya dengan suara setenang aliran sungai. “Jangan lepaskan aku. Jangan pernah. Setidaknya hanya itu yang bisa kuingat di antara semua tangisan dan ingusmu itu.”

Aku memukul dadanya cukup keras supaya dia melepaskanku kemudian memelototinya sambil melipat tangan.

“Kau mau menyangkalnya?” Sindirnya.

“Tentu saja.” Tantangku “Aku tidak pernah… ingusan.”

Setelah mengucapkan itu aku pergi ke kamarku dan mengunci pintu, meninggalkannya yang sedang tertawa terbahak-bahak seorang diri. Aku menyandarkan punggungku lalu merosot ke bawah dengan muka cengengesan sambil menutup muka. Jantungku serasa akan melompat keluar saat kami berpelukan. Baru pertama kali aku merasakan perasaan seperti ini. Semua rasa takutku akan kegagalan cinta sehingga memutuskan untuk menjalani rumah tangga dengan orang yang tidak kucintai tergantikan oleh ketakutan yang lain. Aku takut sudah terjerat olehnya.

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu.” Teriaknya dari luar kamar.

Ah masa bodoh, lalu aku memutar kunci di lubang pintu itu.

***

Aku berada di bandara di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang histeris. Seperti mayat hidup, aku berjalan sangat pelan dengan sorot mata kosong. Orang-orang ini tidak berhenti menjerit dan meraung-raung. Apa yang mereka keluhkan?

TV di ruang tunggu itu diputar dengan volume maksimal. Suaranya bak gaung tak berbalas di tengah tangisan dan teriakan.

Sore ini pesawat boeing 737 jatuh di perairan Selat Sunda. Semua penumpang beserta para awak pesawat tewas seketika. Pilot pesawat ini, Andi…

Saat namanya disebut, semuanya berubah menjadi dengungan panjang di telingaku. Napasku terengah-engah menahan tangis dan aku jatuh tersimpuh di lantai dingin itu. Sebuah foto terjatuh dari tanganku. Foto itu menunjukkan gambar makhluk kecil dengan tulisan USG di sampingnya. Aku menyentuh perutku dan aku bersumpah bisa mendengar detak jantungnya, kuat seperti ayahnya.

Seharusnya aku mengatakan padanya sebelum dia pergi, bukan malah menunggu memberikan kejutan bodoh untuknya setelah kembali. Nyatanya akulah yang terkejut bukan kepalang.

Aku berjalan gontai keluar dari bandara. Di luar, langitnya sangat biru. Aku melihat ke atas tanpa berkedip, tersenyum pedih. Mungkin Azka masih terbang sekarang, menuju tempat yang sama sekali tak terpikirkan olehku.

Tanpa kusadari aku sudah berdiri di tengah jalan dan lampu mobil itu terlihat sangat menyilaukan saat menyorotku di bawah sinar matahari. Aku menutup mata, berdoa agar ada awan yang turun untuk membawaku terbang ke tempatnya.


Mahsumi Yumi Rhe. Sewaktu kecil, bercita-cita untuk menjadi penulis. Sayangnya, takdir berkata lain dan dia sekarang seorang scientist. Meskipun begitu, dia tidak berhenti menulis karena belum mau melepaskan impian masa kecilnya. Penulis berdomisili di Cimahi. Jika ingin menghubunginya bisa melalui account facebook dengan nama Mahsumi Yumi Rhe atau email: yumirumy@yahoo.com.

Motto: “Happiness can be found in the darkest of times if ones only remember to turn on the lights.”


Dapatkan buku Antologi Cerpen My First, berisi cerpen menarik lainnya, pilihan hasil lomba cipta cerpen nasional perdana bersama Jejak Publisher. Cara pemesanan: http://jejakpublisher.com/product/my-first/

Facebook Comments