“Maaf. Bisa kamu ulangin lagi?”

“Pak Ruben minta kamu jadi pelatih basket.”

“Joe siapa yang kamu maksud? Di sekolah ini ada 5 orang dengan nama panggilan Joe selain aku. Kamu salah orang.”

“Nama kamu Reggy Arvanjota, ‘kan?”

“Tapi Pak Ruben sendiri yang ngeluarin aku dari tim. Kalau sekarang aku diminta jadi pelatih, aku yakin Pak Ruben belum sarapan waktu ngomong seperti itu.”

Kedua gadis bertubuh mungil itu tersenyum geli mendengar sahutan Joe. Viona, si manis dengan rambut panjang, kini menyambung obrolan mereka.

“Maksud Pak Ruben mungkin baik. Beliau ngeluarin kamu dari tim agar kamu bisa jadi pelatih anak SMP.”

“Anak SMP? Anak SMP mana yang harus aku latih?” Tanya Joe semakin bingung.

“Selebihnya, mending kamu tanya Pak Ruben langsung, deh. Yang penting mandat dari Pak Ruben udah sampai ke telinga kamu.” Ucap Prissy sambil menggamit lengan Viona. “By the way, kamu keren dengan baju seperti ini.” Lanjut gadis berkacamata itu sembari tersenyum manis.

Kontan Joe memandangi pakaian yang melekat di tubuhnya. Karena jam sekolah sudah berakhir dan Joe hendak latihan band di Archita Studio, dia memakai Polo Shirt merah bata dipadu sweater V-Neck abu-abu serta Skinny Jeans putih. Joe tersenyum heran menatap punggung kedua gadis yang menjauh itu. Mungkin Prissy dan Viona terdaftar dalam list penggemar rahasia Reggy Arvanjota.

***

Fiuhh!

Setelah kepayahan mengelabui geng kembang tujuh rupa yang menyatroni DullMotion Band di Archita studio, akhirnya Joe tiba juga di lapangan basket sekolah. Fendy yang pertama melihat kedatangan Joe. Dia menyenggol Alredo dan memberi kode untuk menoleh ke arah mantan kapten mereka.

“Saya terlambat, Pak?” Tegur Joe menyapa Pak Ruben.

Laki-laki bertubuh tegap itu menggelengkan kepala. Dia meneliti penampilan Joe dari ujung kepala hingga ujung sepatu kets-nya. Menelusuri tubuh setinggi 185 cm itu membutuhkan sekitar 30 detik bagi Pak Ruben. Sesaat kemudian dia kembali menggelengkan kepala namun dilakukannya beberapa kali.

“Kamu kenal Della dan teman-temannya?”

“Oh, geng kembang tujuh rupa itu.” Celetuk Joe datar.

“Della itu anak tiri saya.”

“Oh, maksud saya, mereka sekawanan murid-murid cantik SMA Gospell.” Joe segera meralat ucapannya sambil meringis. “Siapa yang nggak kenal Della sama teman-temannya, Pak? Mereka cewek-cewek andalan sekolah.” Lanjut Joe sedikit memuji.

“Della dan teman-temannya ribut mendaftarkan diri di ekskul basket sejak saya pilih kamu jadi kapten tim menggantikan Gibran yang off dari basket.”

“Oh, jadi karena itu Bapak ngeluarin saya dari tim?”

“Kamu pikir saya pribadi yang subjektif?”

Joe mengatupkan mulutnya lagi. Dalam hati, dia mengutuk mulutnya sendiri yang selalu berbicara ceplas-ceplos tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya.

“Saya nggak pernah bilang kamu keluar dari tim. Turnamen tahun ini, kamu tetap harus ada di lapangan. Meminta Alredo menggantikan posisi kamu sebagai kapten bukan alasan saya mengeluarkan kamu dari tim. Coba lihat teman-teman kamu. Apa kamu bisa lihat ada yang salah di sana?”

Joe mengikuti arah pandang Pak Ruben ke lapangan. Alredo baru saja menembakkan bola ke ring namun gagal. Jason segera melesat cepat menangkap bola rebound. Satu tembakan kembali dilepaskan demi menambah angka kemenangan.

“Jason menempati Power Forward?” Tanya Joe sembari mengernyitkan kening. “Bukan masalah untuk posisinya, tapi ‘kan dia….”

Laki-laki itu batal melanjutkan ucapannya. Pak Ruben pun tetap diam membiarkan Joe memahami mini game yang sedang berlangsung di lapangan. Tidak ada obrolan beberapa saat di antara mereka. Pak Ruben juga tidak berniat memberi arahan pada pemain seperti biasanya. Seolah-olah, dia sedang menemani Joe menonton sebuah pertunjukan drama. Mungkin memang benar, nyaris semua anggota tim di lapangan lebih cocok disebut sebagai pemain drama.

“Herman paling mahir melakukan tembakan Three Point. Posisinya sebagai Shooting Guard memberi banyak kesempatan Three Point Shoot tapi jarang dia lakukan.” Gumam Joe.

“Mungkin dia berpikir tim lawannya sudah tahu kemampuan dia. Pasti Alredo dan teman-temannya bisa mengantisipasi lemparan Herman. Mereka sudah berlatih bersama selama sekian tahun, mana mungkin tidak hafal ritme gerakan teman sendiri?” Sahut Pak Ruben. “Apa lagi yang kamu lihat?”

Joe diam sejenak. Sepertinya Pak Ruben memberi kesempatan pada Joe untuk melucuti satu persatu kesalahan rekan tim basketnya.

“Alredo cocok jadi Center. Tapi sepertinya cuma dia yang dominan mencetak angka. Lalu Fendy sering membuat gerakan yang salah. Posisi tangannya, caranya melompat….”

“Dia menganggap remeh mini game ini karena ini bukan game yang sebenarnya.” Ucap Pak Ruben nyaris bersamaan dengan Joe tapi Joe segera mengatupkan mulut membiarkan Pak Ruben melanjutkan ucapannya.

“Chandra tidak datang lagi, Pak? Biasanya dia jadi mood booster teman-temannya.”

“Kamu tahu kalau saya nggak mungkin menurunkan Chandra di lapangan sepanjang pertandingan. Dia bisa mati kepayahan kalau itu terjadi.”

“Jadi Bapak ngeluarin Chandra dari tim?”

“Sudah saya bilang kalau saya bukan pribadi yang subjektif!” Tukas Pak Ruben. “Saya sendiri tidak tahu di mana Chandra sekarang. Dia menghilang bukan atas perintah saya. Apa kamu masih belum ngerti juga maksud saya nyuruh kamu ke sini?”

“Untuk lihat kesalahan dan kemampuan teman-teman saya?”

“Sudah mengerti untuk itu?”

Joe menganggukkan kepalanya.

“Saya sudah tahu sejak saya bergabung dalam tim.”

“Saya memilih kamu sebagai kapten bukan tanpa alasan. Kamu bisa memahami kemampuan teman-teman kamu dan menutupi kesalahan mereka. Tapi kapten tim yang baik tidak bekerja dengan cara seperti itu. Kamu boleh menutupi kelemahan tim saat pertandingan agar tidak mudah terbaca oleh lawan. Tapi di belakang itu, seharusnya kamu menjelaskan apa saja kelemahan mereka, apalagi kamu sudah memahaminya sejak lama.”

“Saya hanya khawatir melangkahi tugas Bapak sebagai pelatih.” Kata Joe sedikit membela diri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Jadi bukan salah saya kalau sekarang saya minta kamu jadi pelatih, ‘kan?”

“Tapi Bapak minta saya jadi pelatih anak SMP, ‘kan?” Joe berbalik tanya dengan bingung.

“Anak SMP?” Gelak Pak Ruben. “Tapi memang benar, mereka bermain seperti anak SMP.” Sahut Pak Ruben sambil melempar pandangan kembali ke lapangan.

Joe menelan ludah dengan tatapan nanar. Sepertinya Pak Ruben melakukan kesalahan dengan meminta Joe menjadi pelatih teman-temannya sendiri.

***

Fendy terduduk lelah di samping Joe yang masih sibuk mempelajari posisi pemain dari kertas di tangannya. Game masih berlangsung di tengah lapangan. Beberapa pemain kubu Alredo kepayahan menghadapi lawannya. Pak Ruben menepuk-nepuk kedua tangannya memberi arahan pada anak-anak didiknya. Sesekali Joe melempar pandang ke arah lapangan tapi kemudian memfokuskan perhatian pada lembaran di tangannya lagi.

“Ini gila. Walaupun cuma latihan, mereka nggak bisa dikecoh.” Celetuk Dony sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Anak-anak itu makan apa, sih? Gerakannya sering salah, tapi nggak bisa dikibulin.” Sambung Herman dengan napas ngos-ngosan.

“Lo ngerjain kita, Joe? Lo beberin kelemahan kita ke mereka sampai mereka bisa ngalahin kita, ‘kan?” Tuduh Fendy.

Joe mengulum senyum mendengarnya.

“Kalian masih unggul 3 poin.” Sahutnya.

“Tapi ini gila! Mereka juga gila. Pegang bola aja sering nggak bener!” Tukas Dony.

“Yang pasti, mereka nambah angka dengan cara yang bener.” Sahut Joe membela tim binaannya. “Time out!” Pinta Joe sambil beranjak dari duduknya.

Kedua kubu tim menepi seketika. Alredo dan teman-temannya berkumpul melingkari Pak Ruben sementara sisa pemain menghampiri Joe. Joe tampak bersemangat memberi arahan dan perubahan strategi. Semuanya mendengarkan arahan Joe dengan seksama.

“Pak, ini bercanda, ‘kan? Kok kita lawan perempuan sih, Pak?” Gerutu Fendy pada Pak Ruben.

Pak Ruben tersenyum sambil melirik Joe yang dikerubuti para gadis. Della tampak bergelayut manja di lengan Joe meskipun dia tetap fokus pada petunjuk laki-laki jangkung itu. Teman-teman yang lain pun serius mendengarkan Joe sambil sesekali bercanda dengan manja pula.

“Joe bukan melatih mereka, tapi kalian.” Ucap Pak Ruben membuat anggota tim mengernyitkan kening.

“Kok?”

“Apa kalian mau dikalahin perempuan? Apalagi jam terbang mereka nggak setinggi kalian.” Kata Pak Ruben lagi.

“Walaupun perempuan, tapi mereka tahu semua titik kelemahan kita. Padahal kita nggak tahu apa kelemahan mereka sedetail itu.” Protes Herman.

“Jadi kamu mau seperti apa? Nunggu turnamen dan tim lawan kalian yang membaca semua kelemahan kalian?” Tanya Pak Ruben. “Kelemahan kalian bukan untuk ditutupi, tapi diperbaiki. Permainan kuat saja belum cukup untuk memperoleh kemenangan. Basket bukan hanya membutuhkan tenaga, tapi juga strategi. Kita sudah membicarakan strategi kita sebelum game ini dimulai. Terapkan itu.”

Tidak ada yang berani menyahut lagi. Sesekali mata mereka terarah pada Joe yang sedang membuka satu persatu kelemahan tim laki-laki di depan tim perempuan. Meskipun kemampuan individu pemain perempuan tidak terlalu menonjol, tapi jika mereka menyerang tepat sasaran, siapa pun pasti bisa kalah.

Game ini memang hanya permainan, tapi melatih kemampuan kalian bukan termasuk permainan. Saya pilih lawan perempuan agar kalian juga menjaga permainan tetap lembut. Kalian nggak mungkin bermain kasar dengan perempuan, ‘kan?” Kata Pak Ruben lagi sambil sedikit mundur.

Joe memberi kode sesuatu pada Pak Ruben yang segera dimengerti dengan baik.  Time out sudah habis dan semua pemain harus kembali ke lapangan. Masih sempat terlihat Joe dan para pemain wanita berfoto kilat sebelum berhamburan ke lapangan dan bangku cadangan.

“Ini hal gila pertama yang gue lakuin sepanjang sejarah gue di tim basket.” Desah Alredo sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Pertama kalinya kita main dengan perempuan, dan pertama kalinya kita dihabisin mati-matian sama perempuan.” Sambung Herman tak percaya.

“Dan pertama kalinya gue jadi pelatih tim basket perempuan yang bisa ngalahin kalian. Perhatikan langkah kalian. Gue lihat semuanya. Jangan bikin malu reputasi sekolah kita karena tim kita kalah untuk pertama kalinya lawan tim perempuan amatir.” Timpal Joe sambil tersenyum geli.

“Resek lo, Joe!” Dengus Fendy yang hanya disambut Joe dengan tawa lebar.


Amarta Shandy, atau perempuan dengan nama asli Revika P. Purwitasari, lahir di Yogyakarta pada 4 Desember 1993. Gadis yang tinggal di Jl. Teluk Banyu Biru 26 Malang sekaligus baru merampungkan studi sarjana sains-nya ini bisa disapa dan diajak berbincang melalui akun facebook-nya: @amarta.shaddy atau email: ciezzy.shaddy@gmail.com. []

 


Dapatkan buku Antologi Cerpen My First, berisi cerpen menarik lainnya, pilihan hasil lomba cipta cerpen nasional perdana bersama Jejak Publisher. Cara pemesanan: http://jejakpublisher.com/product/my-first/

 

Facebook Comments