HIKAYAT SEPASANG SANDAL

Pada setiap langkah kaki,
Dengan pasrah, kami relakan kesempurnaan diri.
Dan kami tak meracau, apabila orang mencekik leher,
Atau memutuskan urat, dan melapukkan tulang di punggung kami.

Mereka senantiasa mengajari kami untuk bersabar
pabila harus menahan perih tertikam duri
Dan atau saat mereka  membuang kami.
Hingga kami hanya termangu,
Dan hanya bisa bersedih merenungi nasib yang menimpa diri.

Hanya ketabahan yang harus kerap kali kami berikan
Sebab, barangkali kemuliaan hidup kami
Terpatri dalam kelapangan hati
Atas derita yang kami alami.

Annuqayah, 2017


 

HUJAN MALAM

Malam suram tanpa hiasan
Bintang gemintang pun menghilang
Hanya desiran angin menyelinap
Menembus pori, menggigilkan diri
Aku tak tahu apa yang tengah jangkrik dengarkan
Tanpa jeritan mengiring malam
Dan aku tak tahu kabar rembulan
Yang tak beralasan meninggalkan petang
Hanya hujan datang bercumbu
Mengguyur malam, menghapus keindahan.
Annuqayah, 2016


 

IKAN

Kami ikan-ikan yang hidup di lautan,
Menyimpan segenap harap pada besar gelombang.
Agar kami terlindung dari amarah para nelayan,
Yang kerap ingin merangkul kami pada sampan.

Kami ikan-ikan,
Senantiasa mengadu nasib pada rumput di lautan.
Sebab, bila kami ketakutan diburuh para nelayan,
Kami hanya bisa berdoa meminta kekuatan pada tuhan,
Sambil berharap dalam dekap karang,
Berharap lelah tak bertandang.
Sebab, jika lelah datang,
Maka, dengan rela kami harus menyerah diri.
Lalu berlabuh di tubuh sampan, terkapar
Hingga kami mati sebab terbunuh waktu yang bisu.

Annuqayah, 2017


 

KEPADA ANGIN
 :Teruntuk  Sahabatku

Kepada angin,
Aku titipkan rasa rinduku yang membingkai purnama
Sekaligus, aku harap kau berlabuh dalam mimpiku.

Kepada angin yang mengantar dingin,
Aku menaruh harap, agar tak menyelimuti malammu dengan gigil,
Seperti gigil yang saat ini mendekapku
Sebab, aku tak rela jika tubuhmu menggigil bisu,
Dan  malammu tak kau hias dengan senyum

Dan Kepada angin, aku berpesan
Bahwa, ingin sekali aku kembali menatap bianglala di tubuhmu
Yang selama ini, tak kau tampakkan pada semesta.

Annuqayah, 2017


 

KOPI

Barangkali, aku adalah penikmatmu.
Penikmat rasa pahit manismu
Apabila rindu bertandang pada jiwaku.
Sebab, mungkin hanya denganmu
Rindu yang membeku dan menggebu
Bias kuhapus dari hatiku.

Annuqayah, 2016


 

MENCARI PUISI

Aku tak mengerti, apakah puisiku itu?
Mungkin, puisiku hanyalah kata-kata
Yang kini tenggelam ke dasar samudera.
Dan terus berjuang untuk bangkit ke daratan.
Dengan menggenggam mutiara,
Yang suatu saat, akan menebar keindahan pada semesta.

Entah di manakah puisiku sekarang?
Ia masih hilang, tak sekali tampak di hadapan
Tetapi, aku yakin ia kini tengah menyusuri lautan,
Mencari mutiara, namun tertelan ikan kelaparan.
Dan ia masih memanjat doa pada Tuhan
Agar bisa kembali ke tubuh alam,
Menuntaskan doa dan segenap yang kuharapkan.
Lalu, ia bisa menjumpaiku, berkata padaku.
“Tuan, aku haturkan mutiara yang kau impikan,
Saat kau berjuang menabur kata pada tubuhku,
Mencari makna keindahan dalam gerak waktu”.

Annuqayah, 2017


 

QALANSUWATI*

Kembalilah, Qalansuwati
Resahku kian merekah akibatmu
Mencicip pahit rasa gula
Sebab, tak hadirmu dalam waktuku
Adalah rindu cakrawala pada bianglala

Dan ketahuilah, Qalansuwati
Sejatinya, kehadiranmu adalah indah purnama
Yang tuhan anugerahkan padaku
Namun, kali ini purnama itu telah gerhana dari tubuhku.
Maka kupanggil engkau kembali, Qalansuwati
Agar risau tak lagi meracau
Membisik rindu dalam qalbu

Annuqayah 2017

*Sebutan songkok / kopyah menurut orang Arab


 

SAJAK SANTRI
      ; Kepada Annuqayah

Annuqayah, di tanahmu kami tanam benih-benih harapan. Lalu, segenap doa kami senandungkan agar senantiasa ditumbuhkan pengetahuan, dan menuntaskan kebarokahan yang selama ini kami impikan.
Di pagimu, kerap kami amini doa burung di reranting. Agar kemalasan tak mencumbui kami hingga petang bertandang, dan hari kami, sempurna menyaring ilmu dari para Kyai.
Di malammu, kami sujud di tubuh gigil, memanjat istighfar pada tuhan, mengharap maaf atas dosa kami. Sebab, pabila siang datang sering kali kami mengintip santriwati di persimpangan.
Annuqayah, semoga dalam dekapmu senyap waktu bisa kami gunakan, tidak hanya tuntas menyairkan kata yang terpendam dalam tubuhmu. Akan tetapi, kami bisa tabah menjalani amanah dari Kyai, lalu kami dapat mencicipi manis kesempurnaan sebagai santri.

Annuqayah 2017


 

TUALANG
          ; Mengingat peristiwa 10 Juli

Kami mulai melangkah
bersama harap dan kepasrahan,
yang sempurna menggugurkan kelumit getir
dan keresahan yang kerap kali membayang,
bertandang pada  jiwa.

Di antara bisingnya keramaian,
Doa-doa tak lupa kami rapalkan
Agar sial dan sesal
Tak mencumbui kami di tengah jalan

Begitu pun, keluh-kesah kami lontarkan sepanjang jalan
Sebab, peluh tak henti bercucuran
dan menjelma tanda kelelahan
Saat kami berjuang menyusuri jalan
Untuk sampai pada harapan.

Kampung RL, 2017


 

SESAL
      :Kepada Guru ku

Kini aku tak sepiawai dahulu #
Impianku raib ditelan waktu
Sebab, masa yang serau kuhiraukan #
Menjelma hal tak pernah jadi harapan
Aku selalu gugur dalam persaingan #
Tersungkur orang yang sering kuasingkan
Desah nafasku selalu diiring resah #
Semangat juang hilang jauh tanpa arah
Aku ingin kembali cendekia #
Agar tak lagi selalu tampak cerca
Ku tak ingin kegagalan menghampiri #
Lalu, masa depan terpuruk tak pasti
Dan kepastian yang tengah mendekapku #
Hanya luntur oleh maaf dan doamu.

Annuqayah, 2017


Zen Kr. Nama pena dari Zainul Kurama’ Bermukim di PP.Annuqayah Lubangsa, santri asal Batang-Batang. Aktif di komunitas Persi

Facebook Comments