Ia selalu hadir di tiap-tiap senja menjelang malam. Menghampiri setiap remaja (anak sekolahan) dan mahasiswa kekinian yang asyik kongkow-kongkow melepaskan penat dari rutinitas tetek-bengeknya dunia pendidikan. Terkadang pula ia menghampiri pengunjung yang berseragam.

Dandanannya sangat kumal, rambutnya hitam kemerahan, matanya sedikit sendu, kulitnya sawo matang tapi sedap dipandang. Perawakannya seperti gadis cilik yang makan sekolahan dasar. Tidak ada yang tahu persis siapakah gadis cilik itu? Dan mungkin tak ada juga pengunjung yang ingin tahu siapakah gadis cilik itu dan dari mana muasal gadis itu? Namun yang pasti, semua pengunjung tahu bahwa gadis cilik itu akan selalu menadahkan tangan, meminta selembaran rupiah.

Dan ada kisah tentang gadis itu, yang hendak kubagi denganmu.

***

Ketika malam menyelimuti dan hujan turun dengan derasnya, seorang tenaga honorer dari dinas sosial menepikan kendaraannya, tepat di depan kedai kopi langganan. Di satu sisi yang lain, tenaga honorer itu mencoba berlindung dari gempuran tentara kenangan yang biasa disebut armada hujan.

Sarabba’ Daeng, satu!” serunya.

Pria berperawakan sedang dengan balutan seragam dinas sudah menguasai satu kursi—walaupun tak se-empuk kursi kepala dinas. Sejenak pandangannya berkelana pada isi kedai yang menjajakan: kopi hangat, teh hangat, susu hangat, dan tentunya sarabba’ yang hangat. Tidak hanya minuman, terdapat pula menu berat seperti nasi goreng dan ayam goreng. Di bagian pojok sebelah kanan, terdapat teve lcd berukuran 21 inchi. Teve itu menampilkan seorang presenter yang sedang mewawancarai seorang pria dalam balutan seragam. Lelaki itu mengenali pria di dalam teve—lelaki berperawakan tinggi gemuk. Lelaki yang sering dipanggilnya: Bapak Kepala Dinas.

Syarif memerhatikan seksama, bagaimana presenter memberondong pertanyaan. Dan dengan mudahnya lelaki di dalam teve itu menjawab dengan lugas, cepat, dan akurat. Tak ketinggalan ia membeberkan keberhasilannya sebagai kepala dinas yang mampu membawa kotanya sebagai kota yang ramah terhadap anak-anak.

“Silakan, satu cangkir sarabba’ cukup ampuh untuk menembus malam yang begitu dingin,” sahut Pak Sulhan. Lelaki itu hanya tersenyum, pandangannya kini beralih pada pemilik kedai yang sudah lama membuka lapak di sudut Jalan Perintis Kemerdekaan.

Seperti kebiasaannya, lelaki itu mengawali ritus minum sarabba’ dengan menghirup aroma khas itu—aroma campuran ketumbar dan jahe serta berbagai rempah-rempah—hingga memenuhi rongga paru-parunya. Menurutnya, melaksanakan ritus itu membuat pikirannya menjadi jernih dan bebannya sebagai tenaga honorer—yang honorarium-nya sering telat dibayarkan pemerintah—terangkat bersama uap sarabba’ yang menyeruak ke udara.

Sruuuuuuuuup! Bunyi seruputan sedikit memenuhi langit-langit kedai yang terbuat dari atap rumbia. “Wah nikmat sekali!”  Lelaki itu memuji racikan sarabba’ dari Pak Sulhan, si peracik hanya mengulaskan senyuman sembari bertakzim dengan penuh khidmat.

Hujan semakin deras, tetiba saja gemuruh guntur diikuti angin kencang menerpa kedai Pak Sulhan. Angin itu menyibak tirai yang menutupi kedai. Sontak beberapa pengunjung menoleh, tak memerhatikan layar teve. Mereka serentak mendapati sesosok gadis yang muncul dari balik tirai itu. Pak Sulhan memicingkan mata, memfokuskan pandangannya pada objek yang samar-samar dari balik tirai yang tersibak. Lantas, Pak Sulhan mengulas senyum kemudian mengedipkan matanya sebelah kiri.

Seperti suatu kode khusus, gadis dari balik tirai itu kemudian masuk ke kedai, langkah kakinya disertai gemuruh hujan dan angin kencang. Para pengunjung kedai menatap sejenak gadis itu, kemudian mengalihkan pandangan, sibuk dengan kegiatan dan pikiran masing-masing.

Gadis cilik itu kemudian mendekati salah satu pengunjung yang duduk di bagian depan—dekat meja tempat Pak Sulhan meracik menu. Tangan mungilnya menyasar seorang pengunjung berseragam, yang di seragamnya terdapat sematan nama: Syarif Lahmady.

“Kasihan, bolehlah kiranya Om memberikan sedekah untukku. Sekadar menyambung nyawa malam ini.” Sahutnya dengan nada memelas.

Syarif menoleh, menatap lekat-lekat gadis itu, lalu sejenak tersenyum. Di dalam hatinya ia berpikir, menimbang-nimbang : apakah membagi rupiah atawa tidak? Maklum saja ia juga dalam keadaan payah. Sudah tiga bulan Syarif belum menerima honorarium yang tak seberapa. Gaji kecil yang tak sebanding dengan beban kerjanya. Di sisi lain ia juga ingin berbagi, karena ajaran orang tua dan leluhurnya yang menganjurkan untuk bermurah hati.

“Kamu duduk dulu di sini.” Syarif—lelaki itu—kemudian menepuk-nepuk bangku kosong yang ada di sebelah kanannya.

Sejenak, gadis cilik itu mengeritkan dahi, ia sedikit heran, mengapa pria di depannya tak mengusirnya dengan memberikan selembaran rupiah? Malah menyuruhnya untuk duduk bersanding di depan Pak Sulhan. Karena tuntutan untuk menyambung nyawa, maka gadis cilik itu kemudian menuruti permintaan Syarif untuk duduk di sampingnya.

“Kamu kenapa mengemis?” tanya Syarif.

Gadis cilik itu hanya terdiam, tak menjawab langsung pertanyaan Syarif.

“Sudah lama kamu mengemis?” Sekali lagi Syarif melontarkan tanya dan sekali lagi gadis cilik itu hanya diam menatap Syarif.

“Kamu tidak sekolah? Ibu dan ayahmu mana? Kenapa mereka tega menelantarkanmu?” Gadis cilik itu kembali terdiam, tak menghiraukan berondongan tanya dari Syarif.

Syarif kemudian mengalihkan pandangannya pada Pak Sulhan, kemudian pandangannya dialihkan pada daftar menu yang ada di hadapannya. Ada kegamangan yang kembali menerpa Syarif. Dompetnya hanya mampu menampung satu cangkir sarabba’ dan uang bensin untuk motornya—yang setara dengan satu cangkir teh dan seporsi nasi goreng.

“Tolong berikan satu cangkir teh dan seporsi nasi goreng untuk gadis cilik di samping saya.” Syarif kemudian melakukan closebill yang mengakibatkan dompetnya hanya menampung KTP, SIM, dan STNK. Semua lembaran rupiahnya sudah loncat dari dompet, menjelma menjadi nasi goreng dan secangkir teh hangat. Tak ketinggalan sarabba’ yang sudah dipesan sebelumnya.

Syarif menatap dompetnya, ia meratapi sejenak keputusannya. Nasib tenaga honorer, mengabdi selama lima tahun belum terangkat jua. Walaupun demikian, ada sedikit kehangatan yang menjalari hatinya. Ia masih bisa menjalankan petuah dari leluhurnya untuk tetap bersedekah bahkan ketika ia sendiri dalam keadaan yang begitu payah.

Makanlah, kamu pasti lapar,” sahut Syarif setelah menyerahkan seporsi nasi goreng dan secangkir teh hangat.

Gadis itu dengan lahap menyantap hidangan itu, setelah kenyang ia menenggak teh hangat yang ada di depannya. Setelah tegukan terakhir, gadis itu masih sempat bersendawa yang membuat Syarif menahan tawa. Lantas Syarif memberondong kembali pertanyaan-pertanyaan yang tak sempat dijawab gadis itu.

Apakah karena kenyang atau rasa terima kasih pada Syarif, gadis itu bercerita panjang lebar mengapa ia harus mengemis demi menyambung hidup.

“Ayah dan Ibuku sudah bercerai sejak saya berumur tujuh tahun. Setelah itu saya ikut dengan ibu. Ayahku entah ke mana perginya, kata bibi, ayah merantau ke Negeri Jiran. Tapi setahuku ayah lari dengan perempuan lain. Ibuku juga sudah sakit-sakitan, sudah tak mampu lagi bekerja sebagai pemulung, makanya saya mengemis seperti ini…”

“Tapi kamu masih sekolahkan?” Syarif memotong pembicaraan.

“Tidak, Om!” Jawab singkat gadis cilik itu.

Lantas Syarif kembali melontarkan tanya mencoba mencari alasan kenapa gadis cilik itu tak mengenyam pendidikan. “Kenapa tidak sekolah? Bukankah pemerintah sudah menggratiskan biaya sekolah?!”

“Iya, Om. Tapi saya tidak bisa bersekolah lantaran tidak punya uang untuk beli seragam dan buku tulis. Guru dan Pak Kepala Sekolah melarang saya ikut belajar kalau tidak memiliki seragam.”

“Loh kok gitu? Seragam itu Dek sudah masuk bagian dari program pendidikan gratis. Seharusnya pihak sekolah membagikan seragam untuk siswa yang kurang mampu.”

“Sebenarnya sih Om… seragam ada disiapkan tapi dibeli, tidak gratis. Makanya Om saya tidak bisa sekolah,”

Mendengar jawaban dari mulut mungil gadis cilik itu, Syarif hanya menghela nafas, ingatannya kemudian melang-lang buana pada saat rapat paripurna di DPRD. Saat itu ia diminta menemani Bapak Kepala Dinas untuk mendengar nota pertanggungjawaban Pak Walikota. Ia masih mengingat jelas, salah satu point utama yang disampaikan Pak Walikota adalah penyelenggaraan pendidikan gratis. Yah gratis, mulai dari pengadaan seragam, sepatu, buku, hingga pembebasan biaya SPP. Semua gratis…tis…tis. Tapi kini Syarif hanya bingung? Apa yang didengarkan dan dikonsepkan begitu berbeda dengan kenyataan yang ada di hadapannya.

Gadis cilik itu kemudian beranjak dari tempat duduknya, lalu menghadiahkan senyuman sebagai pertanda terima kasih. Gadis cilik itu kemudian menyibakkan tirai kedai Pak Sulhan. Bersama rintik hujan gadis cilik itu menyusuri pedestrian jalan, menembus malam dengan perasaan penuh kebahagiaan.

Adapun Syarif melangkahkan kakinya keluar kedai, lalu terpekur di depan kedai Pak Sulhan. Sembari menikmati rinai hujan yang menyelubungi tubuh dan jiwanya. Mungkin terdengar klise, hatinya sedikit meringis. Kota tempatnya berpijak kotanya tak ramah dengan anak-anak kaum papa yang ingin bersekolah.  Di satu sisi yang lain, Syarif teringat dengan wawancara kepala dinas di teve tadi, baliho yang terpampang di jalan, serta lukisan-lukisan di kantornya, yang kesemuanya menampilkan pandangan: tentang kota yang dipijaknya begitu peduli terhadap pendidikan….

 

 

            Jalan Perintis Kemerdekaan – Jalan Andi Mallombassang.

            Makassar – Sungguminasa, 2 – 5 Desember 2016.


Ilyas Ibrahim Husain, adalah nama pena dari Adil Akbar. Alumni Pendidikan Sejarah UNM ini lahir di Sungguminasa, Kabupaten Gowa pada 06 April 1993. Pegiat literasi di Paradigma Institute, Ruang Abstrak Literasi, dan Guru Tidak Tetap di SMAN 1 Sungguminasa (Gowa). Untuk lebih mengenal penulis dapat menjalin komunikasi di sosial media FB : Ilyas Ibrahim Husain, Twitter: @adilbabeakbar, IG: @adilakbarilyasibrahimhusain. Kini sementara melanjutkan studinya di Program Pascasarjana UNM.

 

Facebook Comments