Aku tak takut melangkah menantang matahari, memijakkan kaki ke tanah yang asing di telapak kaki, aroma bahaya menguar, datang senja pulang fajar, karena ibuku mendoakanku setiap saat.

Tak masalah diriku lemah, penyakitan dan masih dianggap bocah ingusan. Tak salah kakak-kakakku mengecapku anak manja, karena memang aku bungsu dan amat dimanja ibu sepeninggal ayah. Baik, kubuktikan aku bisa menerabas batas antara diriku dan dunia luar yang penuh marabahaya. Aku bilang aku tak takut, doa ibuku mengalir untukku di setiap sujud.

Matahari di atas  ubun-ubun rasanya mendaras keringat tubuh yang lelah. Setelah perjalanan laut yang amat panjang dan memabukkan, tim relawan kami bersandar di pulau kecil yang bentuknya seperti tatakan kue satu. Perjalanan tadi membuatku trauma naik kapal, ombak bergulung-gulung tinggi dan pecah menampar lambung kapal, terombang-ambing seperti naik kora-kora namun lebih mengerikan. Aku muntah-muntah hingga tak ada yang bisa kumuntahkan lagi kecuali cairan pahit, sambil tak henti-henti melafazkan asma Allah, berharap pada-Nya bahwa aku dan timku masih diberi kesempatan untuk mengantarkan bantuan untuk korban tsunami di seberang pulau sana. Mataku melihat jutaan kunang-kunang berkelebat di depan wajahku, lalu gelap.

Namaku Juna, tercatat sebagai anggota muda Korps Sukarela di salah satu unit di Padang. Baru dua bulan dilantik sebagai anggota muda dan sebenarnya belum boleh turun ke bencana, tapi karena satu dan lain hal akhirnya aku turun ke bencana bersama beberapa orang seniorku, anggota organisasi lain di kampus atas nama universitas, bukan atas nama Korps Sukarela unit-ku.

Kabar di media, televisi dan BPBD, relawan membludak jumlahnya di dermaga-dermaga. Tak mungkin lagi diterjunkan karena di pulau pun jumlahnya sudah berlebih. Untuk evakuasi korban rasanya sangat cukup. Maka tim relawan dari diinstruksikan turun ke TKP membawa bantuan berupa sembako, pakaian dan perlengkapan sekolah untuk korban tsunami.

Beranggotakan 28 orang relawan dan membawa satu truk penuh bantuan untuk korban tsunami di salah satu pulau di Mentawai. Berpuluh kilometer kami merangsek jalanan hutan yang cukup terjal dan berkelok sekehendak hati. Kadang kami terpantul-pantul di atas truk. Kami sampai di kilometer 37, di mana kami akan mendirikan posko. Gerimis menyambut saat kami tiba. Tenda peleton didirikan di atas lapangan bulu tangkis tak layak pakai, karena hanya itu tanah lapang yang tersisa di sekitar tempat kami berdiri. Tenda tegak, kami pontang-panting menyelamatkan barang-barang bantuan ke dalam tenda karena gerimis telah menjelma menjadi hujan deras yang ditumpahkan dari langit. Sesuatu yang tak kusadari yaitu tenaga kami bertambah berkali lipat setelah lemas karena mabuk laut dan terpantul-pantul di jalanan terjal, semua hanya demi menjaga barang bantuan tidak basah sia-sia. Langit ungu menjadi pekat kelabu, azan memecah derasnya suara hujan.

***

Subuh belum jatuh ketika aku dan seorang rekanku merasakan ada aktivitas manusia di sekitar tenda. Berbisik keras, entah apa yang dibicarakan sambil mondar-mandir di sekitar tenda. Aku membangunkan semua rekan relawanku pelan. Di dini hari yang basah dan hitam, sekumpulan orang berusaha mengambil barang-barang bantuan yang kebanyakan berisi sembako, pakaian dan obat-obatan. Kami terkejut bukan main atas tindakan mereka. Kami marah, tetapi mereka lebih marah.

“Kalian ini siapa? Lancang sekali masuk ke daerah kami tanpa seizin ketua kami?! Mau apa kalian kemari?!” bentak salah satu orang di antara mereka.

“Kami tim relawan dari Padang yang diutus mengantar bantuan untuk korban tsunami dan kami sudah izin kepada wali nagarinya. Kami rasa itu sudah cukup” jelas Korlap kami. Mereka menyeringai tak terima.

“Bantuan ini biar kami yang membagikan! Kalian pulang saja!” kata ketua mereka.

Kami agak cemas karena mereka yang jumlahnya belasan orang dan terlihat membawa senjata, kami takut mereka berbuat nekat pada kami. Adu mulut panjang tak menemui titik sepakat untuk membuat mereka tidak mengacau. Beberapa orang dari tim kami ada yang anggota Menwa (Resimen Mahasiswa) di kampus, dari potongan rambutnya, postur badannya hingga pakaiannya sangat mirip tentara. Rekan Menwa kami maju dan menyeringai. Kelompok tadi mundur beberapa langkah dan tampak terkejut akan kehadiran rekan Menwa kami.

Rekan-rekan Menwa terlihat seperti tentara sungguhan, mereka menyuruh kelompok itu pulang dengan gaya seperti Jendral memarahi prajuritnya. Mereka terjajar, minta maaf dengan terpaksa dan langsung pergi. Rekan tim yang lainnya tertawa geli melihat kelompok tadi yang sok jagoan tapi menciut ketika bertemu dengan anak kuliahan yang hanya mirip tentara.

Paginya, aku dan dua orang rekanku pergi ke posko pengungsian untuk melakukan assessment. Jaraknya hanya 20 menit jalan kaki dari posko kami. Sekembalinya kami dari posko pengungsian, tim melakukan packing barang sesuai jumlah dari data assessment.

Pembagian bantuan berjalan sesuai rencana, lancar dan tak ada yang rusuh. Tenda-tenda pengungsi di tegakkan di sekitar sebuah bangunan sekolah dasar yang telah hancur setengahnya. Sembako kami bagikan per kepala keluarga, juga pakaian dan alat sekolah untuk anak-anak. Tak sampai di situ, tim relawan juga melakukan trauma healing untuk korban tsunami yang masih anak-anak. Kami ajak mereka bermain, bernyanyi, menggambar dan bersenang-senang sesuka mereka. Melihat anak-anak itu tertawa riang dan sejenak melupakan gelombang yang memorak-porandakan kampung halaman mereka, mungkin merenggut ayah ibunya, membuat jiwa mereka terguncang, mataku mengembun lalu menganak sungai.

Aku sudah lupa betapa mengerikannya kapal ditampar gelombang, lupa kondisi yang serba kurang makan kurang tidur, lupa badan remuk redam, lupa paru-paruku digigit dingin, aku lupa semua sedu sedan itu ketika mereka tersenyum, tertawa dan berhenti menangisi luka. Beban di kedua bahuku seakan luruh bersama suka cita. Rasanya tak sia-sia kami datang ke rumah duka.

Truk dan tim kembali menyibak belantara demi mencapai dermaga. Jalanan yang terjal mengular semakin sulit ditaklukkan karena basah hujan magrib tadi. Tepat di tengah jalan yang membelah hutan, truk terjebak di kubangan lumpur. Kau tentu mengerti kawan, jalanan berupa batu dan tanah berlumpur. Truk terperosok dan tak mampu bergerak. Sehingga ia pasrah berkubang dalam lumpur tanah yang dingin. Malam sudah merangkak cepat. Tim mendorong truk keluar. Namun sejengkal pun tak bergerak. Mencoba lagi, berpuluh kali, pakaian kami semua kotor terkena lumpur, ketakutan di tengah rimba, letih, lapar dan mulai dihinggapi keputusasaan. Dan untuk ke sekian puluh kali kami mencoba mendorong truk, putus asa meraja.

Tim beristirahat di tepi jalan, beralaskan matras pribadi, tidur tergeletak pasrah ditimpa lelah. Sekujur pakaian basah berlumpur kami tak acuhkan. Aku dan korlap berusaha menjaga api unggun tetap hidup agar sedikit dapat menghangatkan kami, walau tak semua dapat merasakan. Nyamuk hutan ini mengusili kami. Mereka menggigit sekehendak hati, pedih sekali. Kubiarkan mereka melakukan donor paksa terhadap kami, aku tak peduli. Di atas matras, kubaringkan tubuh penuh lumpur.

Langit, seluas jangkau pandang

Demi Tuhan kuhibahkan diri untuk kemanusiaan

Sepotong jasad dan selembar nyawa kusuguhkan

kepada marabahaya, di mana pun ia bertandang

Dan Kau jadikan malam pemeluk tubuh fana kami

Terlelap berselimut langit sepi

aku dan relawan

Bintang pecah, malaikat berhamburan

***

Matahari terbit lagi, masih dari ufuk timur. Tim relawan bergegas bangun dan packing perlengkapan kembali. Kutengok wajah rekanku satu-satu, sudah tak karuan penampakannya, berlumpur yang kini sudah mengering dan bercak-bercak merah peninggalan nyamuk semalam. Pun tangan dan kakiku dipenuhi bercak merah seperti penderita demam berdarah. Lumpur semalam sudah sedikit memadat di kubangan. Kami dorong truk sekali lagi dengan tenaga yang masih tersisa. Sementara jantung kami berdegup cemas, seandainya truknya masih saja tak mau bergerak, hati kami memanjatkan doa-doa mengharap pertolongan Allah SWT.

Dengan komando dari Korlap, kami berusaha mendorong truk. Allahuakbar! Tim terpekik mengucap takbir ketika truk berhasil keluar dari kubangan dan mesin berhasil dihidupkan. Kami melonjak kegirangan, bahagia tak terkira, akhirnya kami dapat keluar dari rimba ini. Sesampainya di dermaga, tim melompat ke laut dengan girang. Mandi air laut seperti bocah, bercanda ria merayakan kebebasan. Hari-hari di Mentawai telah bermetamorfosa menjadi kenangan, tak ada satu pun kata yang dapat mewakilkan. Seakan hari itu adalah hari kemerdekaan kami dari marabahaya.

***

Ah! Aku baru ingat, untuk kembali ke Padang kami harus naik kapal lagi dan aku akan muntah seakan lambungku ingin keluar. Sial.

 

 

*cerita ini diangkat dari kisah seorang relawan (252.IX) yang perdana turun ke bencana


Penulis bernama Amalia Aris Saraswati. Lahir di Banyumas, Jawa Tengah, pada 24 November 1997. Meminati cerpen dan puisi sejak kanak-kanak tetapi baru aktif menulis sejak SMP. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA di Jawa, sekarang penulis masih berstatus mahasiswa di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Andalas.

Penulis bisa dihubungi melalui email (amaliarizky0924@gmail.com) atau melalui line (ID: withoutnovember), FB: Amalia Aris Saraswati dan nomor telepon 081270864957.

 

Facebook Comments