TIBA GILIRANKU
Ketika giliranku telah tiba
Jangan coba halangi aku membela negeri
Takkan gentar, kuberani berseteru
Sampai darah membiru
Nadi-nadi jadi debu

Ketika tiba giliranku
Jangan coba halangi aku bentengi negeri
Takkan surut jiwa raga berdiri walau keringat jadi pati
Tulang belulang terselimut abu bara api
Mimpiku tak mati

Sampai tiba giliranku nanti
Jangan halangi aku pertahankan negeri
Takkan terhenti jantungku berdetak
Meski air, angin, dan api hendaki aku  mati
Aku tak peduli

Sampai giliranku telah tiba
Jangan halangi aku membela negeri
Takkan terbuka mulut tuk merintih
Meski jasmani dirusak ribuan luka
Darah dan nanah mandikan aku dalam siksa

Ketika tiba giliranku
Jangan coba halangi aku  pertahankan  negeri
Takkan terhenti langkah sekali berlari
Walau mati sekali, seribu jiwaku hidup lagi
Seribu jiwa itu pergi, takkan  berarti
Demi mimpi negeri abadi


SURABAYA 1945

Kau terbaring di sini, hanya mampu melihat langit
Surabaya dengan mata tertutup
Debu-debu menderu
Mengerangkan ribuan jiwa dalam derita yang tersebar
Mengelilingi setiap sudut kota
Untuk memberi tahumu, aku ingin Surabaya

Kau tergeletak di sini, hanya mampu mendengar teriakan
Surabaya yang bisu
Mesiu-mesiu yang meletus
Melontarkan peluru kepada ribuan jiwa yang tersebar
Memenuhi sepanjang jalan kota
Untuk memberi tahumu, aku mau Surabaya

Kau tertidur di sini, hanya mampu bermimpi
Surabaya di tanganmu
Tulang –tulang yang remuk
Mengerakkan ribuan jiwa yang berdarah
Tersebar mengisi setiap sisi kota
Untuk memberi tahumu, aku punya Surabaya


MALAM SEBELUM BANDUNG LAUTAN API

Kepada Bung Toha

Jadilah malam ini semakin kalut terliput
Di mana tempat bernaungnya tentara-tentara TRI dalam selimut
Namun tidak, Sang Jendral yang tidak mau semua berlutut

Terpikir kembali olehnya kedatangan sekutu
Dengan deru-deru pemberi haru
Pada 17 Oktober 1945 lalu

Bersuar dengan dalil-dalil membantu para pejuang
Yang gencar melucuti senapan-senapan tawanan tanpa tuan
Tetapi kedoknya memang lucu, wajahnya pun tidak sampai kerungu
Hingga akhirnya kita diperbodoh dengan gelagak sandiwara lawak
Untuk membungkam semua tawa
Dengan melayangkan ultimatum ke pelupuk syukur

Yang pertama 21 November 1945 sudah kami laksana
Hingga rela kota jadi dua dan kongsi sama rata
Tetapi datang lagi tadi, 23 Maret 1946
Sudah tidak bisa diterima

Geramlah Sang Jenderal dalam balutan malam sunyi
Terlampau kesal pekiknya hingga pecah kesendirian
Melawan mimpi merdeka yang menawan

Ucap halo dengan lantang
Deru Sang Jendral berkumandang
Membangunkan semua TRI yang semringah siap bergerilya

Ucap halo dengan suara lantang
Deru Sang Jendral berkumandang
Menggerakkan 200000 rakyat yang geram siap menghantam

Pada para sekutu yang setulus hati menyapu debu
Maka jadilah 24 Maret ini kami beri kau
Sepercik semangat jiwa api
Untuk melalap Kota Bandung


NYANYIAN PADA SELEMBA

Pada masa penjajahan ini

Hujan memang selalu tinggalkan cucu pemalu
Menatap rindu pada sebuah nisan batu
Yang bercerita tentang atuknya, di Selemba pagi itu

Terik memang selalu tinggalkan anak malang
Memegang erat bunga-bunga terkarang
Yang dipersembahkan untuk bapaknya di Selemba pagi itu

Bulan memang selalu tinggalkan adik manis
Memangku air-air mata tangis
Yang dibeli oleh kakaknya di Selemba, malam itu

Mereka termangu, merintih, dan tersedu
Mata mereka berlinang, hati mereka mengenang
Tubuh mereka menggarang, pada para tirani
Yang menembak mati atuk, bapak, dan kakak kemarin hari

Kemudian mereka bersatu padu
Anak-anak yang merindu
Bawa cerita, bunga, dan air mata
Mereka menderu, bisu melantunkan lagu-lagu
Pada Selemba hari itu


PADAMU NEGERI

Kami berikrar janji palsu
Dan puisi, muncul di antara mereka yang kelaparan

Disumpal mulutnya dengan nasi menggunakan tangan dekil penuh debu
Agar mereka jadi bungkam dan tidak bisa beri tahu
Uang apa itu yang di dalam saku

Padamu negeri, kami berbakti dalam paksa
Dan puisi, muncul di antara mereka yang bertani

Dibisikan telinganya dengan kata-kata yang menderu dalam mulut penuh debu
Agar mereka tidak dengar dan tidak bisa beri tahu
Uang siapa yang dipakai mengimpor beras ke Negara agraris

Padamu negeri, kami mengabdi dengan pamrih
Dan puisi, muncul di antara mereka yang melaut

Ditutupnya mata dengan geladak kapal-kapal besar yang melintas ke depan
Agar mereka tidak bisa lihat dan tidak bisa beri tahu
Uang yang mana dipakai mengimpor ikan ke Negara maritim

Bagimu negeri, jiwa raga kami hanyalah sampah
Menunggu busuk memberi kaidah
Untuk dibuang bersama uang penuh kesah


Nama asli adalah I Gede Santana Wiratmaja, memiliki nama pena Sujana Wiratama. Suka menulis, terutama puisi dan dimulai sejak dari SMP. Akan tetapi, baru aktif ketika duduk di bangku SMA. Kelahiran Banyubiru, 5 November 2000 adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Negara, Jembrana, Bali. Akun media, facebook : Santana Wiratmaja, Ig : Sujana Wiratama.

Facebook Comments