Bagi lelaki itu, setiap saat adalah pagi. Lantas ke mana perginya malam ? Mungkin telah mati atau tepatnya telah pergi, bersamaan dengan hilangnya nyala lilin terakhir. Bagi Zalham, malam hanya menyisakan pekat, selain sepi dan sunyi tentunya.

Jadi, untuk Zalham. Ia adalah lelaki yang tinggal dan ditinggalkan pada suatu keadaan yang mulanya hanya dianggap mimpi. Terkait ambang waktu, terkait ajal yang terbuka lebar kerahasiaannya. Manusia bukan lagi khawatir dengan kapan harusnya ia datang. Lebih tepatnya manusia berpikir bagaimana harus meninggalkan. Seperti satu dari tiga puluh mimpi.

***

Ia duduk di depan sebuah nyala lilin kecil di sebuah ruangan yang disekat oleh bilik. Tiada lain dalam ruangan itu, selain suasana hening dan dirinya. Keadaan di luar begitu gelap, menunjukkan waktu telah malam. Saat itu, ia masih belum membenci malam. Karna nyala lilin di depannya masih terasa terang dan mendamaikan.

Ada tiga nyala lilin sepanjang ruangan itu, dan ketiganya berdiri sejajar dengan tinggi yang tak tentu. Ketiganya membentuk api kecil, yang bagi Zalham merupakan pasangan sepanjang malam. Bagi orang-orang yang hidup di sini, nyala lilin adalah nafas kehidupan. Begitu ada lilin, maka tentu di dalamnya terdapat pula kebahagiaan. Bagi semua orang tak terkecuali Zalham, yang begitu menyenangi nyala api kecil dan selalu benci ketika apinya mulai mengecil atau mati dihembus angin. Atau mati karena sudah saatnya batang lilin meleleh habis.

***

Begitu lama ia berusaha menyambut pagi. Di antara jalan-jalan luar penuh keramaian. Menuju suatu tempat yang mungkin memang satu-satunya tujuannya. Tiga lilin masih menyala, pikirnya. Waktu masih membuka lebar-lebar segala keadaan dan batas. Karena sampai saat-saat ini, ia masih memutuskan bersahabat dengan waktu, berteman dengan malam.

Saat-saat nyala lilin masih tampak terang. Begitu terang, sehingga tampak pula di dalamnya cerita-cerita hidup yang mulai habis masanya. Untuk kemudian menyusul api kecil itu menjadi asap. Pun dengan segala cerita yang sebelumnya tampak.

***

Zalham berdiri di depan punggung seseorang. Wanita, dengan rambutnya yang tidak begitu tampak dengan jelas, karena terbalut sesuatu yang berwarna putih. Dihadapnya tampak pula tarian-tarian api kecil lilin. Bayangan hitam di dinding membentuk suatu gambaran wajah. Dari bayangan yang tampak, wanita itu terlihat anggun, bulu matanya tampak lentik dan sedikit terangkat. Bukan salah, dia Aelind. Satu-satunya yang membuat Zalham masih enggan membenci malam, selain lilin.

“Hari ini telah masanya tiga, bukan?” tutur wanita itu.

“Tiga, dan belum masanya habis. Tersisa dua atau lebih untuk malam berikut.” ujar Zalham.

“Lantas, setelah semua habis?” tanya wanita itu.

“Seperti semula. Aku akan membenci malam. Karena pekat tanpa nyala sama saja dengan sunyi. Dan itu satu langkah sebelum mati.” jawab Zalham dingin.

“Mati ?, bukankah itu hanya soal waktu?”

“Benar. Bukan salah siapa, hanya waktu. Dan dari semula aku memang tidak dapat menerima. Aku memang membenci malam.” Tutur Zalham.

Kemudian wanita itu membalikkan badan. Wajahnya sedikit gusar. Entah karena perkataan lelaki itu yang mungkin baginya terasa tidak tepat.

“Bukankah seharusnya memang demikian, Zalham? Tiada lain dan hanya malam yang melumat senja. Hanya langit yang menenggelamkan matahari. Dan hanya waktu yang menjemput ajal.” Tutur wanita itu.

“Ada masanya itu rahasia. Supaya ada yang tidak bersiap-siap. Untuk hal ini, aku memilih menjadi seseorang yang memang tidak tahu sama sekali, seharusnya. Karena berpura-pura tidak mengerti namun sangat paham dengan keadaan adalah sia-sia. Menjadi benar-benar tidak mengerti lebih baik. Masih tersisa dua puluh sembilan mimpi lagi, bukan?” kata Zalham.

“Tiada guna menyesal sekarang. pilihanmu adalah harapanmu. Seandainya itu tidak terjadi atau terjadi sekalipun, aku khawatir tidak mengubah apapun”

“Entahlah. Memang bukan seharusnya berbicara soal harapan. Apapun itu jarang menyentuh kenyataan. Seperti yang kamu atau orang-orang di sini pilih. Bahwa satu dari tiga puluh mimpi itu terkait dengan waktu dan batas. Sebuah kepahitan yang mendera manis.” tutur Zalham.

Lantas kemudian wanita itu tersenyum. Tampak begitu hangat, ketika dipadu dengan remang-remang cahaya api kecil lilin yang kini telah susut setengah bagiannya. Bagi Zalham, Aelind adalah api kecil, namun nyalanya begitu besar. Aelind adalah sebahagian dari lilin yang menjadi nafas kehidupannya. Aelind adalah Aelind. Dengan senyum hangat yang terlihat bahagia, walaupun bagi Zalham tampak seperti tangis yang sedemikian beratnya.

Sejalan dengan matinya lilin, Zalham pergi melangkahkan kaki menjauh. Seperti yang memang ia benci. Matinya api kecil lilin. Berapapun itu. Seribu, seratus, atau satu sekalipun.

***

Dihadapnya kini tersisa dua lilin. Yang berdiri sama tinggi. Keduanya membiarkan api kecilnya menari-nari riang sebelum dihembus angin suatu saat nanti. Dan kembali Zalham menyusuri jalan-jalan keramaian menuju tempat Aelind.

Ia melihat Aelind. Kali ini wajahnya tampak lebih cantik. Untuk beberapa kebiasaan, Zalham paham betul  bahwa Aelind memberi warna pada bibirnya. Kemerah-merahan. Tampak mengkilat dengan padu nyala lilin di depannya. Dua lilin yang satu di antaranya telah mencapai tahap setengah.

“Untuk beberapa hari ke depan setelah ini. Nyala lilin akan benar-benar menjadi pasanganmu. Kamu tahu, bukan ? Api lilin lebih indah daripada senja. Seringkali orang-orang berupaya berebut senja. Hingga mereka lupa indahnya api kecil ini. Dua api kecil yang tampak lebih bahagia. Mereka menari-nari bersama.” Tuturnya.

“Baiklah, bisa nampak bagaimana bila lilin itu hanya tersisa satu. Ia akan merasakan kepahitan yang dinamai sepi. Semua seolah baik-baik saja. Nyalanya masih tetap sama, namun hakikatnya hampa. Alasannya untuk tetap nyala sudah tiada. Selain hanya sekedar turut andil dengan takdir.” Ujar Zalham.

“Masih ada waktu. Sebelum nyala lilin terakhir. Untuk demikian, aku ingin menatap lekat nyala lilin itu. Yang di hadapanmu, yang membuat wajahmu sedemikian nyalanya, menarik wajahmu untuk menari-nari bersama api.” Ujar Aelind dengan senyum.

“Selain wajah, api itu juga menarik sebahagian sesuatu yang hidup dalam diriku, Aelind. Sebahagian keramaian dan menggantikannya dengan kekosongan.” Tutur Zalham.

“Apapun itu, nyala lilin telah hampir habis.”

Demikian pula, langkah Zalham kian menjauh, seirama dengan matinya nyala satu diantara dua lilin itu. Ia tahu apa yang sedang menunggunya. Sebuah keadaan yang disebut sepi. Maka, untuk kesekian, Zalham akan berusaha melawan; dengan apapun.

***

“Mengapa orang-orang banyak berebut senja, Zalham? hampir setiap cerita senja selalu menjadi bagiannya, bukan?” tanya Aelind.

“Karena senja selalu menawarkan perenungan, mungkin.”

“Kalau begitu, senja bisa dikatakan penawar?”

“Mungkin.”

Zalham dan Aelind duduk berseberangan, terbatas oleh meja kayu yang diatasnya berdiri sebuah lilin merah yang kian mengecil. Nyala apinya kian terang dan menari-nari.

“Untuk yang terakhir, mengapa kamu benci senja?” tutur Zalham.

“Karena orang-orang begitu banyak menyukainya. Sedangkan keindahanya telah dimiliki orang banyak. Berbeda dengan lilin yang bisa dinikmati sendiri, atau berdua”

“Dan, kenapa kamu mencintai?” tanya Aelind.

“Karena banyak orang yang membencimu. Mereka pikir tidak akan mendapat sesuatupun dari mencintaimu. Hanya tiga batang lilin yang tersisa dari waktumu, bukan ?, maka mereka pikir terlalu cepat.” Jawab Zalham.

Aelind kemudian beranjak dan berdiri seolah-olah mematung. Matanya menatap lilin kecil itu dalam-dalam.

“Setelah ini apa?” tuturnya.

“Aku akan mengantar, sampai terakhir. Sampai angin meniup habis api kecil, sampai waktu telah datang menjemputmu.” Ujar Zalham.

Tubuh Aelind tampak lebih pucat dan terang. Begitu terang seperti nyala lilin yang begitu banyak pada diri seseorang. Pandangannya tampak sayu, matanya kian berkaca-kaca. Lantas ia terus menatap.

“Baiklah, satu dari tiga puluh mimpi Einstein. Hidup pada keadaan ini. Dengan lilin dan kesenangan lain. Denganmu, Zalham. Terima kasih.”

Zalham sama sekali tak beranjak, melihat Aelind kala itu, sama saja dengan mengulang segala cerita dalam api-api lilin kecil. Berbaur dengan malam, menyelinap dalam pekat, lalu menengok. Aelind telah lepas, sepenuhnya telah hilang. Satu dari tiga puluh mimpi telah selesai bagi Aelind. Hanya tersisa kenangan dan bekas nyala lilin yang juga mati dihembus angin.

Jadi, untuk Zalham. Ia adalah lelaki yang ditinggal pada sebuah keadaan. Sebuah mimpi dari tiga puluh mimpi Einstein terkait waktu. Terkait kematian yang telah tertera jelas sejak awal. Zalham bukan lagi khawatir tentang kapan harusnya ia datang. Lebih tepatnya ia berpikir bagaimana harus meninggalkan dan apa saja yang harus dilakukan setelah ditinggal. Aelind.


Nama : Haryo Pamungkas

Email : pakujatuh@gmail.com

No hp : 089614887416

Penulis lahir di Jember, Jawa Timur. Saat ini sedang menempuh bangku kuliah semester tiga Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember. Anggota lembaga pers Ecpose dan PMII. Menyukai cerita sejak sekolah dasar, namun mulai menulis baru ketika sekolah menengah atas.

Facebook Comments