RINTIK RINDU TAHUN 1990

Tahukah kau deru air hujan yang menetes ke bumi
Dengan irama tak tentu, namun sangat berharmoni
Gelegar halilintar yang kian menghentikan setiap balok nada
Sedang jeritan anak-anak kecil di sebuah pelataran
Sungguh syahdu, mengalun alam

Di sanalah tercipta kaki melangkah
Dengan seribu impian yang dilangitkan
Beribu cita, rasa dan karsa yang telah hilang oleh era sekarang
Yang telah musnah oleh belatung-belatung kesiangan
Mereka telah memakan ide dan kreasi anak bangsa

Berundak kaki-kaki jantan dan betina kecil
Mencicit ruas-ruas rindu yang menghunjam rindu pada sang ibu
Kini mereka telah tiada tanpa jejak
Sedangkan budaya telah menghentikan langkah dengan membendung otak secara beringas
Di sini rinduku ada untuk disampaikan pada alam, senja dan semesta

Yogyakarta , Agustus 2017


TEPUKAN BELALANG KUPU-KUPU

Satu tepuk untuk belalang
Satu tepuk lagi untuk kupu-kupu
Mereka menjadi satu tepukan anak kecil yang diidolakan
Siang makan nasi kalau malam minum susu

Siang di mana kita bekerja dengan menguras tenaga
Malam, saatnya untuk mengistirahatkan pikiran dan tenaga
Bermain dengan para sahabat dan alam sekitar
Mereka berdua saling berjodoh
Saling membentuk siklus permainan yang dipuja-puja

Sekarang tepukan itu lenyap dilalap oleh raksasa
Ditelan mentah dan mungkin tak akan dimuntahkan
Hanya sekelumit era-nya yang mampu membangkitkan
Tak tahu harus berbuat, hanya dalam diksi puisi ini aku dendangkan rindu untukmu anak-anak zaman

Yogyakarta , Agustus 2017


PETAK UMPET

Berderik anak-anak malam untuk bermain bersama bulan
Bulan yang sedang menunjukkan purnamanya
Sangat indah dan memanjakan mata
Di sinilah permainan itu mempunyai kesan sampai hayat yang hanya terkenang

Petak dan umpet
Menutup mata dan mencari saudara yang hilang ditelan kegelapan
Dering bibir yang berisik yang hanya bisa ditangkap
Mungkin bulan saja yang bisa menerangi keberadaannya
Namun terpenting hanyalah mampu menjadi penjaga yang baik

Tak ada lagi canda tawa seperti dulu
Memeluk batang pohon sebagai jepong tangan
Tak ada lagi permainan malam , hanya seputar belajar yang memenjara
Hanya sekilas rindu yang tak bisa ditularkan
Inilah dunia sekarang , hanya mampu berbicara dengan batu dan patung

Yogyakarta, Agustus 2017


SUSU COKLAT DI SUNGAI

Bila kau melihat airmu sekarang maka akan kutunjukkan airku dulu
Betapa airku sangatlah jernih dibanding susu coklatmu itu
Yang hanya bisa membuat bencana dan beribu tangisan
Lihatlah aku di sini bisa menghirup udara dengan oksigen tak terhingga
Tapi engkau, hanya bisa sehirup dua hirup lalu mati

Aliran itu sudah menjadi susu coklat pekat
Hanya bercampur dengan musibah dan laknat
Tak bisa tangan ini menggapai oleh kemajuanmu yang terlalu cepat
Hingga kau terlena dan melupakan sahabat alammu
Ikan pun tak mau berenang apalagi hanya setengok menjumput lumut hijau

Batu-batu hanya bisa diam dan menjadi toping yang menghanyutkan
Ketika hujan pun datang , tak lagi bersahabat
Perang dan perang , begitu hanya menelurkan ketakutan
Sirna oleh angin dan merusak pencernaan muaramu
Semua tinggal menunggu di mana zaman akan berakhir

Yogyakarta, Agustus 2017


 
MATI

Ketika kematian itu sudah menjadi teman
Maka engkau tak mengerti siapakah sahabatmu
Siapa pula yang berperan menjadi sahabat
Mungkin semua akan menjadi teman-teman lawan

Sudah banyak korban bergelimpangan
Tak harus menyalahkan siapa yang berbuat
‘Tapi cermin diri sudah cukup untuk menjawab pertanyaanmu
Sekali lagi, ketika kematian sudah menjadi teman

Purna sudah kehidupan
Purna sudah jati diri
Purna segalanya
Tak mampu jari-jari ini diangkat protes pada sang Maha Tahu
Takdir sudah ditentukan oleh masa-masa kehancuran
Kini tinggal kau , aku bisa membendung itu semua dengan berbuat
Ingin mati atau hidup

Yogyakarta , Agustus 2017


Mempunyai pengalaman menjadi wartawan di surat kabar menjadi pengalaman super bagi Muhammad Erik Nurhidayat , lahir 01 mei 1990, YK. Banyak artikelnya yang dimuat. Mempunyai blog andalannya di erikomando.blogspot.co.id mengenai perjalanan travelling atau keilmuan.. Fb: Muhammad Erik Nurhidayat, Wa/Hp. 085643989808, Email : eriknurhidayatmuh@gmail.com

Facebook Comments