Apakah kau pernah bertemu dengan seseorang yang begitu berarti dalam hidupmu? Aku pernah. Dia adalah seseorang yang kehadirannya seakan-akan membuatku menemukan sesuatu yang menjadikanku utuh. Tidak, dia bukan kekasihku yang selama ini kuimpikan. Dia juga bukan malaikat dari surga. Dia hanyalah sosok mungil yang memiliki senyuman paling manis di dunia.

Dia sahabatku.

Aku bertemu dengannya saat usia kami menginjak sembilan tahun. Saat itu, kami sama-sama duduk di Sekolah Dasar, saat di mana rambutku masih dikepang dua, dan saat di mana hal yang paling membahagiakan dalam hidupku adalah bermain. Aku sama sekali tidak memikirkan hal lain di luar itu.

Memangnya, apa yang lebih menyenangkan bagi anak-anak selain bermain? Mendengar suara hujan, kami bagaikan mendengar sebuah musik indah yang diturunkan dari surga. Kami berlari dari dalam rumah, tidak mendengarkan suara teriakan ibu yang berusaha melarang, dan yang ada di benak kami hanyalah sebuah kesenangan. Air hujan tidak pernah terasa dingin dan ia tidak akan pernah menyakiti kami. Ia bahkan memberikan sebuah kenangan yang berharga, yang sampai sekarang membuatku teringat bagaimana aroma tanah basah di sore hari itu, saat pohon cemara di pekarangan rumahku masih setinggi aku.

Namanya Pia. Gadis kecil mungil dan berambut ikal. Saat itu, tinggi kami jauh berbeda. Aku jauh lebih tinggi darinya, meskipun sebenarnya aku sendiri juga tidak terlalu tinggi. Dia membuatku merasa canggung saat kami harus berjalan bersama. Dia memiliki tahi lalat kecil di bawah matanya.

Pia cantik sekali ketika tertawa. Bibirnya yang tipis melengkung ke atas  dan sebuah lesung kecil tercetak di pipi kanannya. Dia selalu menyukai warna merah muda dan juga es krim rasa strawberry.

“Tapi mama akan marah jika melihatku memakan es krim.” Ucapnya suatu hari, saat kami menghabiskan waktu untuk duduk di teras rumahku. Kulihat, kedua mata Pia yang kecokelatan itu berbinar-binar.

Pia tinggal di Ibukota sejak kecil dan kami mulai bertetangga saat ayahnya ditugaskan di kota kami. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang hanya berjarak tiga rumah dari rumahku. Aku ingat, dulu sebelum keluarga Pia datang, rumah itu hanyalah rumah kecil yang kosong dan terlihat menakutkan. Kakakku senang menakut-nakutiku ketika kami melewati rumah itu saat malam hari. Dan setelah keluarga Pia datang, rumah itu sama sekali tidak menakutkan. Justru, terlihat begitu hangat dan menyenangkan. Rumah itu tidak memiliki halaman. Rumah itu kecil, berpagarkan dedaunan. Cat temboknya berwarna kuning dengan pintu depan berwarna cokelat tua dan juga kursi kayu panjang di terasnya.

Sebelum Pia datang, aku tidak memiliki teman sebaya. Hanya terkadang, aku ikut bersama kakakku yang selalu bermain sepak bola pada sore hari dan itu pun tidak membuatku merasa senang. Aku hanya menonton di pinggir lapangan dan jelas saja mereka tidak akan mengajakku bermain.

“Anak perempuan tidak bisa bermain sepak bola! Terkena lemparan saja pasti langsung menangis!” aku ingat sekali salah satu teman kakakku pernah berkata seperti itu. Dan akhirnya, aku lebih memilih untuk bermain sendiri di halaman rumah, belajar menaiki sepeda berwarna merah, atau terkadang bermain ayunan.

Pia satu tahun lebih muda dari aku. Tapi meskipun begitu, kami memasuki Sekolah Menengah pada saat yang sama. Aku ingat saat itu kami menaiki sepeda dan aku memboncengnya di belakangku. Pia tetap bertubuh mungil dan dia cantik dengan rambutnya yang mulai memanjang. Kami tidak pernah peduli pada hujan. Malahan, senyuman kami akan melebar begitu hujan turun di tengah-tengah perjalanan kami pulang.

Pia sangat suka tertawa. Suaranya terdengar seperti anak kecil yang bahagia. Dia tidak pernah terlihat murung dan kedua matanya selalu bercahaya. Meskipun tubuhnya lebih kecil dariku, aku yakin sekali dia adalah sosok yang dewasa. Dia tegar, dan dia selalu berusaha untuk tertawa meskipun sebenarnya aku yakin, terkadang dia memaksakan tawa itu.

“Mama pernah bilang, katanya, semuanya akan baik-baik saja ketika kita menerimanya dengan ikhlas.”

Aku mengangguk mengiyakan. Saat itu, kami tengah duduk berdua di pinggir lapangan. Aku menatap kedua kakinya yang terbungkus sepatu olahraga berwarna putih, hadiah ulang tahun dariku. Aku tahu, aku telah melakukan kesalahan besar dengan memberikannya hadiah itu. Dan aku terlambat menyadarinya. Aku tidak pernah melihat Pia memakai sepatu olahraga, dan kukira itu karena ia tidak memilikinya. Karena itulah aku membelikannya untuk hadiah ulang tahunnya ke lima belas. Dan aku sama sekali tidak tahu, jika ternyata, dia memang tidak pernah menyukai sepatu olahraga.

Dia benci olahraga. Dia benci berlari. Dan dia benci merasa kelelahan. Kedua kakinya yang mungil itu tidak bisa dipaksa untuk bekerja terlalu keras, atau dia akan terjatuh dan wajahnya terlihat sangat pucat. Aku membenci keadaan itu, dan aku berusaha menyembunyikannya karena aku tahu Pia tidak akan menyukainya. Pia akan selalu berkata kepadaku bahwa ia baik-baik saja. Dan senyuman itu tidak akan terlepas dari wajahnya.

Saat itu, usia kami tujuh belas. Itu adalah saat ketika aku menyadari segalanya telah berubah. Hari-hariku seakan kembali seperti saat sebelum aku mengenal Pia dalam hidupku, dan aku akan selalu mendapati bangku sebelahku kosong. Pia tidak masuk sekolah, untuk waktu yang lama, atau bahkan untuk waktu yang tidak bisa kuhitung. Bukan hanya aku yang kehilangannya, tapi juga teman-teman sekelasku. Kami merindukannya, dan kami akan semakin merasa kehilangannya saat  pelajaran seni berlangsung. Pia sangat suka menggambar. Dan kami selalu ingat, guru kesenian kami amat menyukainya.

Saat itu, Pia sedang berada di rumah sakit. Ia tertidur lelap dengan baju pasien berwarna biru, dan juga selang-selang infus yang amat ia benci. Aku yakin sekali ia sedang berusaha untuk bertahan hidup. Dan kami semua akan selalu mendoakannya. Berharap, kami akan kembali melihat tawanya yang ceria.

Pia memiliki jantung yang lemah sejak ia lahir. Karena itu, dia sudah begitu akrab dengan rumah sakit sejak masih kecil. Setiap hari minggu sore, aku ingat, aku akan selalu mendapati rumahnya kosong. Dan belakangan aku tahu jika ternyata Pia selalu pergi ke rumah sakit untuk check up mingguan. Karena itulah ia tidak boleh sampai kelelahan. Ia juga tidak pernah mengikuti pelajaran olahraga. Dan aku selalu bersedia untuk memboncengnya di sepedaku kemana pun ia ingin pergi. Aku akan  mengayuh sepeda lebih kuat, dan aku akan melakukan apa pun asalkan aku tetap bisa mendengar suara tawanya.

“hey, apakah kita akan tetap seperti ini sampai dewasa nanti?” Hari itu, pulang sekolah. Hujan turun dengan deras dan Pia berkata di sela-sela tawanya. Aku tahu dia sedang menertawakan ‘Kita’ yang selalu bersikap konyol dan tidak dewasa. Dan saat itu, di dalam hatiku, aku berkata ‘Iya’.

Iya. Aku ingin tetap seperti itu. Atau bahkan, aku tidak ingin tumbuh dewasa agar tetap melihatnya di sampingku.

Keadaannya semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Jantungnya semakin melemah dan suatu saat dokter berkata bahwa ia akan membutuhkan jantung baru.

Pia, saat mendengar itu, aku takut sekali.

Aku tahu dia selalu berusaha untuk optimis, karena orang tuanya sudah mengajarkan hal itu sejak ia masih kecil. Mengajari ia tentang bagaimana menjadi tegar, bagaimana harus bersikap tenang, dan bagaimana harus selalu berpikiran positif. Mungkin, karena itulah aku selalu bisa melihat senyumnya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.

‘Keadaan terburuk’. Aku selalu ingin melenyapkan itu dari balik kedua mataku. Aku selalu ingin pejamkan mata setiap kali aku mendengarnya, dan aku ingin menutup kedua telingaku dengan rapat. Aku tidak mau mendengarnya, aku tidak mau melihatnya, dan aku tidak mau mengakui jika itu semua adalah nyata.

Pia. Sosok mungil yang menyukai warna merah muda dan selalu terlihat bahagia. Aku selalu membayangkan betapa cantiknya dirinya ketika ia tumbuh dewasa. Aku masih mengingat bagaimana ia berharap tingginya akan bertambah beberapa senti lagi, lalu ia akan menjadi gadis paling cantik di dunia. Dan aku akan tetap memiliki imajinasi itu. Aku melihat bagaimana wajahnya, dan aku akan membiarkannya tumbuh di dalam hatiku.

Aku tahu Pia memang berusaha untuk tetap bertahan hidup. Tapi, ternyata tubuhnya menolak jantung baru itu. Ia masih berusia tujuh belas tahun. Dan itu berarti, ia tidak akan pernah menemui lilin ber-angka delapan belas pada kue ulang tahunnya di pertengahan bulan Januari. Pia tidak akan membuka matanya lagi dan aku tidak akan mendengarkan suara tawanya lagi. Hari itu, adalah malam hari Kamis yang kelabu. Malam yang terasa begitu panjang bagiku.

Aku ingat bagaimana suasana pemakaman Pia pada keesokan harinya. Hari itu langit terlihat biru tanpa setitik awan dan matahari bersinar cerah, seolah-olah kesedihan hanyalah untuk kami yang ada di bumi. Aku berharap itu benar. Dan Pia yang telah pergi, tengah terbang ke sudut langit dengan perasaan bahagia. Aku yakin dia benar-benar bahagia, karena di suatu tempat yang tak pernah bisa kubayangkan, mungkin dia bisa mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan, juga terbebas dari rasa sakit yang selama ini selalu membuatnya menderita.

Di dunia ini, tidak ada yang namanya kebetulan, bukan? Karena itu, aku selalu berharap Pia tidak akan pernah lupa, bahwa setiap kisah akan selalu membawa akhir yang bahagia. Begitu pun kisah persahabatanku dengannya. Aku hanya cukup mengingat bagaimana caranya tertawa dan saat itu pula ia telah memenuhi setiap sudut ingatanku.

Bolehkah aku tetap merindukanmu seperti ini? Dan aku akan selalu menyebut ‘Kita’ untuk kau dan aku, dan untuk hari-hari penuh tawa itu.

Dan hari ini, malam bertahun-tahun sejak hari itu. Matahari mulai beranjak pulang dan langit sore yang tidak menampakkan jingga itu tengah dipenuhi gerimis. Pekarangan rumahku telah basah oleh rintik yang tak kunjung reda dan aroma tanah basah itu membuatku kembali teringat pada saat pertama kali kami bertemu. Hari itu, bulan Desember enam belas tahun yang lalu. Aku ingat itu adalah hari Rabu. Aku berganti pakaian setelah pulang dari sekolah dan melihatnya duduk di teras rumahku, bersama ibunya. Aku ingat hari itu Pia memakai baju berwarna pastel dan dia manis dengan bando berwarna merah muda yang dikenakannya. Itu adalah saat pertama kali kami berkenalan dan juga saat pertama kali kami bermain bersama. Tidak ada yang berubah dari tempat itu, kecuali pohon cemara yang sudah ditebang karena terlalu tinggi. Sisanya, tidak ada yang bisa menghapus jejaknya. Dan juga hujan, yang selalu memiliki kenangan tentang kita. Kenangan yang begitu indah.

Pia, saat ini, usiamu sudah Dua puluh lima tahun, dan aku membayangkan bagaimana kau telah tumbuh dewasa. Kau terlihat cantik sekali. Kau akan selalu tumbuh di dalam hatiku dan tidak akan pernah pergi.

Ya, seperti yang selama ini kutanamkan di dalam pikiranku sendiri. Bahwa tubuh seseorang itu bisa saja pergi. Tapi, selama aku masih memiliki semua kenangan tentang dirinya, maka dia tidak akan pernah pergi.

***


Tita Andriani, lahir di Jawa Timur tahun 1996. Saat ini tengah menempuh pendidikan di salah satu Universitas di Surabaya. Mempunyai hobi membaca dan menulis. Bisa dihubungi melalui alamat email: titaas1007@gmail.com, FB: Tita Andriani.

 

 

 

Facebook Comments