TERKOYAK BINASA

Hatiku bukanlah sepotong puisi yang bisa kau baca
Pun bukan syair yang senantiasa memesonakan jiwa
Tapi aku adalah luka yang bernanah
Serta musim yang telah terkoyak binasa
Tiada lagi memiliki keindahan
Seperti senja yang kau rindukan
Juga malam berhias bintang
Seperti yang selalu dambakan
Dan aku adalah padang cinta yang enggan bernyanyi juga ladang kasih yang dingin menepi
Berhentilah untuk bermimpi
Bila yang kau dambakan kilau cinta seindah pelangi
Serta dendang rindu semesra bisikkan mentari pagi
Dan berhentilah untuk berharap
Karena di tanganku
Sang mawar telah kehilangan semerbak wangi
Pun melati yang tak lagi putih berseri

Sukabumi, 24 Agustus 2017


DESIRKAN NADA INDAH

Lirihkanlah malamku
Desirkan nada indah
Lewat petikan jemari sang bayu
Yang mengalun dalam denting biola merdu
Kala sunyi telah menakhta
Purnama mulai mereda bias sinarnya
Biar aku bisa tertidur dengan tenang
Dan bermimpi indah tentang kerlip sang gemintang
Karena hatiku merindukan pagi dalam damai
Jua binar fajar yang hangat
Serta nyanyian embun yang menyejukkan
Karena samudera rinduku kini terisi penuh riak gelombang
Ia bergulung membawa debur ombak derita
Menghempaskan buih luka ke atas hamparan sunyi pantai jiwa
Senandungnya penuh derai air mata
Dan menghunjam perih ke dalam sukma lara

Sukabumi, 24 Agustus 2017


MUSIM GUGUR

Sang waktu bertitah pada setangkai mawar layu
Sebuah pesan angin hantarkan kabar di jiwaku
Tentang musim semi yang telah berlalu
Dan tentang daun-daun yang telah habis meluruh
Ilalang kering resah merintih di tengah senja sepi
Pilu meratap di hamparan ladang yang telah mati
Gelisah tangisannya di balik duka yang tak mau pergi
Di antara kepingan musim yang telah retak dan menepi
Kabut senyap pelan berarak menyelimuti gersangnya hari
Burung-burung pun beterbangan meninggalkan kicauan sunyi
Berhamburan sayap-sayapnya kala angin menjerit lirih
Di pucuk ratap cemara di sebuah ranting mati
Matahari enggan berlabuh ke dalam peraduan waktu senja
Pun terpaku di atas gulungan jingga bisu
Semesta terdiam di balik hening samudera biru
Ketika gelombang cinta memecah ketepian rindu

Sukabumi, 24 Agustus 2017


SANG WAKTU

Gemercik rindu menetes ke dalam aliran waktu
Bersama simfoni tanpa jeda
Menciptakan sebuah nyanyian dalam aneka kidung irama
Yang mengalun di antara tawa serta tetesan air mata
Sang pena tak kan berhenti menuliskan banyak kisah
Menggores jutaan kata yang bersenandung dalam jiwa
Seperti matahari yang datang lalu pergi karena janjinya
Kehidupan pun tumbuh dan mati dalam berbagai alur cerita
Waktu berdetak menggulirkan roda-roda masa
Berjalan menyusuri aneka musim yang tercipta
Gugur dan bersemi laksana nyanyian bunga-bunga
Di atas hamparan tanah yang mengering juga basah
Fajar memancar Indah ketika pagi menuai cinta
Laksana wajah kembang desa
Senja pun datang bersama temaram yang memerah
Meredup di pintu malam saat gelap sapa semesta

Sukabumi, 23 Agustus 2017


P(E)NA

Tentang p(e)na di ujung malam
Yang mengeja waktu pada bilangan kata
Menasbihkan jiwa pada goresan aksara
Dalam selembar kertas buram penuh noda
Hanya tulisan hening
Yang tertulis tanpa warna
Tergores tanpa tinta
Hilang tenggelam tak tersisa
Ujung pena pada kertas malam
Meliuk sunyi dalam tarian jemari
Mengukir titik sebelum selesai
Pada untaian syair yang belum usai
P(e)na goresan malam
Merangkai sunyi dalam diam
Kusam mengering pada tinta hitam
Saat waktu kian tenggelam
Dan p(e)na adalah inspirasi sunyi
Bait pun terhenti pada titik sepi
Hening terhanyut mencintai mimpi
Saat letih mengoyak nurani

Sukabumi, 24 Agustus 2017


MENUA BERSAMA SAMPAI USIA SENJA

Aku ingin bersamamu melewati puluhan senja
Memetik nada rindu yang berdenting di jiwa kita
Sealun lagu cinta yang bercerita tentang asmara
Sampai bayang mentari semakin redup di cakrawala
Aku ingin bersamamu menyusuri tepian senja
Bercengkerama ditemaram saat langit berubah warna
Kan kugenggam jemarimu mengayuh biduk cinta
Sampai gelap malam datang melabuhkan penat kita
Aku ingin denganmu lalui belantara senja
Menyibak ribuan duri yang menghalangi langkah kita
Kan kubimbing setiap resahmu dengan uluran kasih mesra
Sampai engkau akan lupa bahwa kita tengah gundah gulana
Aku ingin engkau ada setiap kali senja menyapa
Walaupun kadang bentuk langitnya tak lagi berwarna sama
Kan kunyanyikan tembang indah agar hatimu tak pernah lara
Sampai engkau dan aku menua bersama sampai usia senja

Sukabumi, 24 Agustus 2017


Neng Eka, perempuan sederhana yang punya banyak impian. Pecinta literasi, pecandu senja. Jika ingin menghubungi bisa lewat email : nengekasepti@gmail.com dan facebook : Neng Eka

Facebook Comments