Tu, ngomong-ngomong soal obrolan yang kau rangkap kala malam itu sungguh menyayat hatiku. Bukan hanya sayatan hatiku yang melebar, kelopak mata yang seolah-olah tertutup sehelai kain ini pun kini dapat dengan jelas memandang. Alias terbuka lebar mata ini. Suaramu yang sayup-sayup kala jam dinding menunjukkan pukul 10 malam sama sekali tak ingin membuat orang-orang lain di sekitarmu terjaga dari tidurnya. Tentunya orang lain selain aku. Karena meski mataku sesekali terpejam telinga ini tetap berpusat pada celoteh alamimu.

Tu, kau memang anak kemarin sore. Tapi kau tahu, beberapa rangkap cerita yang kau ajukan padaku sungguh melampaui usiamu yang baru menginjak 10 tahun. Kulihat sorot matamu yang memproyeksikan sebuah kisah apa adanya tanpa ulasan tambahan. Membuatku percaya bahwa sebuah kejadian besar memang berawal dari kejadian kecil. Tentu saja, opini itu bukanlah isapan jempol belaka.

Kau adalah Putu. Bocah 4 SD yang tergolong masyarakat modern tapi nomaden. Singkat cerita, kau harus ikut berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti kemana ayahmu akan bekerja sebagai seorang pegawai negeri. Begini mulanya, Putu lahir di Sidoarjo Jawa Timur, menjadi murid TK di salah satu sekolah di Maumere NTT, melanjutkan SD di sebuah sekolah di Ternate Maluku Utara, dan akhirnya ia melanjutkan pendidikan SD lagi di sebuah sekolah di Denpasar, Bali. Lantas aku melontarkan sedikit gurauan malam itu dengan pertanyaan “Kamu anak mana sebenarnya? Atau anak seribu pulau?”

Putu tertawa, menyeringai, lalu lenyaplah senyum itu.

“Ah nggak juga. Aku kan sempat lahir dan gede di Sidoarjo.”

Ya benar juga. Setidaknya di akta kelahiran Putu, tempat lahirnya adalah Sidoarjo. Namun ada sebuah hal yang membuatku tertarik untuk bertanya. Bukan, kapan ia akan memulai masa pubernya. Tapi bagaimana seorang anak dengan usia jagung bisa sangat lihai membaurkan diri dalam lingkungan baru dan berganti-ganti.

“Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya jadi anak seribu pulau? Apa enak?” aku sengaja tidak memberinya pertanyaan yang tepat pada poin utama lantaran aku ingin mengorek-ngorek apakah yang sebenarnya Putu rasakan selama ini. Karena bisa saja bocah itu tidak nyaman dengan status kependudukannya yang berpindah-pindah.

Putu tersenyum, menyeringai, lalu tertawa. Ups! Ia baru sadar, suaranya dapat menggema ke kamar sebelah. Dan bisa-bisa ayah ibunya akan terbangun. Akhirnya tawa itu sirna.

“Sstt.. maaf-maaf!—“

“Jadi begini, jadi anak seribu pulau itu ada enaknya dan tidaknya.”

Sesekali Putu membenahi posisi duduknya yang kini lebih terlihat tegang. Ah bocah itu seolah-olah petuah yang akan memberiku wejangan habis-habisan malam ini. Wajahnya yang tadi terlihat santai ala bocah SD kini ikut menegang—sangat serius.

“Apa tidak enaknya?”

Ia menghela napas sebagai jeda percakapan kami.

Tu, mestinya kau tau. Jadi anak minoritas di tengah kelompok mayoritas akan terasa sulit. Tidak. Tidak hanya sulit. Namun akan sangat sulit. Terlebih keadaan itu kau terima di usiamu yang terlalu dini. Belum banyak pengalaman yang kau dapatkan untuk menghadapi situasi rumit ini. Tapi setelah kau memaparkan segala macam kisah, aku mulai yakin bahkan pengalaman yang kudapat tak selaras dengan pengalamanmu yang sangat beragam.

“Dasar penyembah patung!”

“Dia pakai gelang jaranan!”

“Bau menyan!”

“Dasar  kafir!”

Kata-kata itu meluncur tanpa ada bilasan kilau dan terasa membusuk di hati. Membuat pedih siapa pun yang mendengar. Meski kalimat itu adalah uraian sederhana dari seorang bocah 4 SD. Tapi setidaknya sudah cukup jelas bagaimana ia diperlakukan.

“Aku malah pernah mereka lempari batu. Sampai akhirnya kakiku memar.”

Paparnya dengan terpaksa. Lantas ia menunjukkan sebuah bekas keunguan pada lutut kaki kanan dan paha sebelah kirinya. Aku hampir terisak. Ia hanya bocah 10 tahun dan ia sudah menerima perlakuan ‘tidak menyenangkan’ bahkan dari teman sebayanya. Ironi! Apalagi yang bisa kukatakan pada gambaran pendidikan nusantara? Bangga? Oh tidak! Ini hanyalah sebuah gambaran kecil.

“Bagaimana dengan tindakan ayah dan ibumu?”

“Ibu bilang, ‘temui kepala sekolahnya! Ini bisa jadi perkara!’ terus ayah akhirnya datang ke sekolah. Begitu.”

Kukira masalahnya akan berhenti saat itu juga. Kupikir setelah ada campur tangan orang dewasa semuanya akan berakhir. Ternyata aku salah. Putu justru menerima masalah di tempat lain, dengan pelaku cilik lain.

Tu, sungguh. Aku sudah menyederhanakan kisahmu agar tak terlalu terdengar ironi. Namun nyatanya jika kuceritakan ulang hati ini akan terasa miris. Malam itu percakapan kecil kita berubah jadi sebuah percakapan yang sebenarnya layak untuk dikonferensikan oleh khalayak. Aku hanya ingin tahu, apa anggapan mereka di luar sana mengenai kisahmu.

“Jangan menyerahkan fotomu yang masih menggunakan baju ‘Jawer’!”

“Dasar Jawer!”

Sekarang yang lebih tak masuk akal, makhluk penghujat tanpa otak itu adalah guru. Sebuah profesi yang notabene dilimpahi wewenang seutuhnya atas pembentukan moral dan karakter tunas bangsa. Seorang pendidik yang seharusnya mengayomi setiap anak didiknya, ikut menghakimi Putu. Baik, jika menghakimi akibat kesalahan fatal aku mungkin masih dapat memaklumi. Tapi karena pemikirannya yang terlalu mendiskriminasilah justifikasi itu terjadi. Keterlaluan!

Sebut saja oknum guru itu adalah Mawar. Ya memang Mawar  adalah seorang guru yang memiliki darah keturunan suku asli tempat Putu bersekolah. Ia bisa menghukum siswanya yang melakukan kesalahan apa pun. Tapi apakah pantas ia melontarkan kalimat yang tak seharusnya diucapkan oleh seorang terpelajar sepertinya? Lebih parahnya, oknum itu memicu aksi bullying berkelanjutan dari para siswa lain. Maka sejenak saja bayangkan!

“Jawer jawer! Jawer jawer!” bayangkan jika olok-olokan ala anak SD itu terngiang di telinga. Bukan membully perkara fisik, tapi sudah menjurus SARA! Ini sangat gila!

Tu, aku mulai yakin, bahwa berawal dari kasus seperti yang kau argumenkan kini terungkap sudah bagaimana kedudukan Bhineka Tunggal Ika di era milenial. Aku mulai menyadari, bagaimana kerusuhan-kerusuhan yang berujung perpecahan bangsa sudah terlihat di depan mata! Bahwa dari kisahmu juga bagaimana Kitab Sutasoma kini tidak lagi dianggap bagian dari pangkal persatuan bangsa. Juga dari pengalamanmu aku mengerti bahwa Gajah Mada tidak dapat memenuhi isi sumpah palapanya. Dan dari kisahmu aku memahami bahwa sumpah pemuda akan lekas menjadi sumpah omong kosong para pemuda.

Jika kau tahu bagaimana bobroknya wajah ngeri ibu pertiwi, kelak ketika kau dewasa, kau akan mengetahui. Bahwa di luar sana bahkan terdapat banyak pelajar yang jauh kurang beruntung sepertimu datang ke sekolah, seolah-olah menyerahkan nyawa dengan suka rela. Meregang nyawa di sebuah instansi yang digadang-gadang akan mencetak anak bangsa bermoral!


Ade Vika Nanda Yuniwan. Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Unijoyo Madura. Penulis adalah penggemar literasi dan pencinta senja. Kritik dan saran dapat dikirim melalui e-mail: adevikananda24@gmail.com

Ig / Fb : adevikananda / Ade Vika

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments