Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus ra, dari NAbi SAW, beliau bersabda: “Orang yang cerdas yaitu orang yang selalu menjaga dirinya dan beramal untuk bekal nanti sesudah mati. Dan orang yang kerdil yaitu orang yang hanya menuruti hawa nafsunya tetapi ia mengharapkan berbagai harapan kepada Allah” (HR At-Tirmidzi)

***

Subuh buta. Seorang gadis dari perjalanan yang sangat jauh dengan koper besar berdiri mematung. Hawa subuh menerpa tubuhnya yang sangat letih dari perjalanan panjang seharian. Khimar-nya berkibaran diterpa angin. Wajahnya terlihat sangat lelah, pucat. Aku menyongsongnya tergesa, ingin segera memeluknya. Rindu yang bergelung-gelung di dada jadi tumpah ketika sosoknya terlihat sejak dari kejauhan. Mataku mengembun, namun kutahan sekuat hati agar tak menangis.

Rindu. Aku tak ingin menangis, sedetik pun aku tak ingin terlihat lemah di matanya. Selamanya, diriku selalu ingin jadi sosok yang kuat di matanya. Ingin jadi penopang ketika dia jatuh. Sedikit pun, aku tak ingin dunia menyakitinya walaupun seujung kukunya. Karena dia adalah permata yang Tuhan hadiahkan dalam kehidupanku.

Aku memeluknya erat. Tak ada kata yang dapat menggambarkan momen saat itu kecuali rindu. Lama sekali aku tak jumpa dengannya karena dia baru menyelesaikan studinya di Cairo. Dia tersenyum, malah membuatku makin ingin menangis. Dia satu-satunya keluargaku yang tersisa di dunia ini.

***

Langit Minggu pagi biru cerah dengan awan sisik Januari yang lembut. Cirrus lembut bertali-talian tinggi. Matahari belum terik dan udara begitu segar memenuhi rongga paru-paru. Di usiaku yang sudah 25 tahun dengan pekerjaan padat dan jarang olahraga. Aku harus menjaga kebugaran tubuhku agar tak rentan terserang penyakit jantung dan stroke karena aku juga pecandu rokok dan alkohol. Aku olahraga kecil-kecilan seperti push up dan sit up. Zia keluar mengantar minuman dan aku langsung menyambarnya. Segar.

“Berapa usiamu sekarang? Aku selalu lupa kalau kau sudah besar, sudah dewasa. Yang aku ingat kau selalu jadi adik kecilku yang sering kujulang di bahu mengejar layang-layang sewaktu kecil.” Kenangnya, tersenyum.

“Aku 24 tahun dan aku bukan anak-anak lagi, tak ada yang perlu dikhawatirkan.”

“Kudengar kau punya pacar? Perempuan seperti apakah yang membuatmu melanggar larangan Allah?”

Mendengar begitu aku terperanjat bangkit. Itu urusan yang sangat pribadi bahkan kakakku sendiri tak perlu menyinggung soal itu.

“Dengar, aku sudah dewasa dan bisa bertanggungjawab atas perbuatanku, atas dosaku. Itu sama sekali bukan urusanmu” kataku serius, berdiri menatapnya tajam.

“Aku tak tahu persis itu urusanku atau bukan. Tapi, yang aku tahu, aku tidak bisa membiarkan saudaraku tersesat dan berkubang dalam dosa.”

“Apa yang dosa dari pacaran?” tanyaku, nadaku mulai meninggi. Ini sudah sangat menyebalkan.

“Allah mengatakan ‘Janganlah kau mendekati zina..’ dan pacaran itu wadahnya zina, telaganya zina, dan semua perzinaan bisa terjadi dari pacaran. Kutanya padamu, apa manfaat kau pacaran? Menaikkan semangat kerjamu-kah? Meningkatkan ibadahmu-kah? Membuatmu merasa dicintai-kah? Membuatmu merasa jadi orang yang paling beruntung di dunia karena memiliknya? Aku tak bisa membiarkan kemungkaran terjadi sedangkan aku melihat. Jika aku tak mengingatkan, apa yang akan kujawab di hadapan Allah tentang aku yang tak becus mendidik adik semata wayangku yang kami tanpa pendampingan orang tua, yang yatim piatu. Kalau aku diam saja padamu, nanti jika kau dihukum karena pacaran, merokok, mendengar musik-musik dan segala yang mengandung kemaksiatan terhadap Allah, kau akan menuntutku di hadapan Allah. Kau akan menuntutku, ‘mengapa kau dulu tak mengingatkanku wahai saudariku sehingga aku dihukum sebegini rupa?’”

Aku kesal padanya. Tak mau dengar ceramah sampahnya. Berlalu aku meninggalkannya di halaman tanpa kata.

***

Seminggu aku tak mau bicara dengan Zia sejak kejadian pagi itu. Aku sudah dewasa dan bisa bertanggungjawab atas diriku, dan dia tak perlu khawatirkan apa-apa. Aku juga benci bila ada yang mencampuri urusan pribadiku. Kata-kata Zia tempo hari sangat melanggar privasiku, secara tidak langsung dia menyuruhku memutuskan Sofiyah, perempuan yang aku pacari hampir 3 tahun lamanya dan seenaknya menyuruhku memutuskannya. Aku tak sudi.

Tiba-tiba suatu siang Zia mengajakku pergi keluar, mengajak Sofiyah sekalian. Katanya dia ingin berkenalan dengan Sofiyah. Dia tak mau mengatakan ke mana kami akan pergi.

Aku sungguh tak mengerti mengapa Zia mengajak kami ke pengajian seperti ini. Namun, Zia dengan sedikit bujuk rayu membuatku luluh untuk mengikutinya. Kami terlambat datang ke Masjid Raya, Ustadz-nya sudah ceramah panjang lebar. Saat kami baru tiba, Sang Ustadz sedang berceramah tentang kematian. Beliau mendemonstrasikan tentang proses mengurus jenazah seperti simulasi menjadi jenazah lengkap dengan perlengkapannya. Beliau meminta satu dari jamaah untuk menjadi jenazah selama 5 menit dalam simulasi. Aku baru datang dan melangkah ke jamaah hendak bergabung.

“Iya, Anda yang berdiri memakai baju biru.” Tunjuk Ustadz padaku. Aku bingung. Aku baru hendak bergabung, malah dikira mengajukan diri. Semua menatapku harap. Akhirnya aku menurut saja.

Ustadz memandu dengan microphone, memintaku berbaring ke atas meja panjang yang telah disediakan panitia. Mataku terpejam. Tanganku dibekapkan di dada. Jantungku berayun cepat, berdebar tak karuan. Kain kafan membalut tubuhku. Wajahku tersentuh kain kafan, kafan asli. Perasaan takut dan sedih menyeruak ke rongga dadaku. Aku menangis terisak-isak. Telingaku pun mendengar Zia dan Sofiyah menangis tersedu sedan di sampingku, membayangkanku benar-benar telah wafat.

“Coba renungkan Anda sudah wafat dan hiruk pikuk di masjid ini adalah di rumah pada saat Anda wafat. Bayangkan semua peluang amal saleh yang semestinya masih bisa Anda kerjakan, salat malam, sedekah, bakti kepada orang tua, baca Al Quran, salat berjamaah yang Anda sia-siakan dan Anda menyesal kenapa tidak kerjakan sekarang. Dan bayangkan semua peluang dosa yang tidak Anda sia-siakan. Kesempatan zina, dusta, riba semua yang mengakibatkan dosa dikerjakan dan Anda tak sempat taubat dan Allah akan hukum Anda sekarang.”

Aku menangis sejadi-jadinya hingga badanku gemetaran. Kemudian panitia mengambil keranda dan meletakkan tubuhku di dalam keranda. Saat tubuhku menyentuh keranda, makin kencang tangisku. Aku tak malu menangis lagi saat itu. Dalam pikiranku saat jadi jenazah itu, aku ingin dihidupkan kembali.

Saat aku terpejam, adegan-adegan penuh kemaksiatan dipertontonkan di mataku. Gambar-gambar hitam putih Ayah dan Ibu yang dulu semasa hidupnya selalu kubantah dan kulukai perasaannya. Bayangan Zia yang dengan wajah sabarnya selalu menyayangiku meski aku terus berkubang dalam kehinaan. Adegan-adegan terus berganti-ganti. Adegan saat aku merasa down dan melampiaskan ke botol-botol vodka haram. Tayangan saat aku menghisap rokok  dan tertawa-tawa dengan kawan, tanpa merasa berdosa. Adegan demi adegan tampak di mataku meski terpejam. Sangat jelas ketika aku tanpa rasa malu berdua-duaan dengan Sofiyah dan selalu nyaman memeluknya. Astaghfirullah. Dadaku sesak sekali mengingat semua dosa-dosa yang kuperbuat.

“Renungi dan resapi keadaan Anda ketika berada dalam keranda ini. Dan kami akan membawa Anda ke liang lahat”

Aku sudah tak bisa merasakan tubuhku. Tak dengar riuh jamaah di sekitarku yang tersedu-sedu. Aku tak peduli dengan semua itu. Aku hanya peduli pada diriku sendiri dan mencari ampunan agar aku dihidupkan lagi. Benar-benar merasa telah mati saat itu.

Liang lahat sudah disiapkan di samping masjid. Aku terus memejamkan mata karena membuka mata lebih mengerikan dan wajahku sudah basah air mata. Aku merasakan tubuhku diangkat dalam keranda.

“Inilah detik-detik terakhir Anda bersama kami. Terus sesali dosa-dosa yang pernah Anda perbuat dan ibadah-ibadah yang Anda sia-siakan, yang sekarang tak bisa lagi Anda kerjakan.”

Kemudian aku merasa tubuhku diangkat dan dimasukkan ke liang lahat. Aku menjerit-jerit ketakutan. Aku teriak-teriak ingin dihidupkan lagi. Menyebut-nyebut asma Allah yang sudah tak pernah keluar dari bibir ini, mohon dikembalikan ke dunia ingin salat yang dulu tak pernah kukerjakan, ingin sedekah yang dulu tak pernah terpikirkan, ingin bakti pada orang tua yang dulunya sering aku durhakakan.

“Bukalah mata Anda. Lihatlah, ini rumah Anda sekarang. Walaupun rumah Anda 1000×1000 meter di dunia, kembali ke 2×1 meter. Inilah tempat Anda sekarang. Dan malaikat sebentar lagi akan datang menanyakan pertanyaan yang Anda sudah tahu.”

Tak mampu lagi menangis. Tak mampu lagi berteriak memohon ampun kepada Allah. Suaraku habis, tangisku habis, air mataku kering. Dadaku bergemuruh kencang dan ketakutan itu semakin nyata. Malaikat-malaikat akan segera datang dan Ustadz beserta jamaahnya akan pulang dan aku akan sendirian. Munkar dan Nakir akan segera datang dengan wujud yang mengerikan karena aku jasad yang kotor bersimbah dosa-dosa. Mereka akan marah dan menyiksaku karena aku tak mampu menjawab pertanyaan. Aku menggigil terpejam lagi, sampai-sampai aku tak merasakan lagi darah mengaliri tubuhku. Hanya hitungan detik tapi kurasakan lama sekali aku di dalam liang lahat.

“Bukakan kafannya dan bantu keluar” instruksi sang ustadz kepada panitia.

“Ini hanya praktik jenazah, simulasi kematian.”

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Q.S Ali Imran: 185)”

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (al- Jum’ah: 8).

“Suatu saat akan datang masanya jama’ah sekalian dibungkus kain kafan, tidak bisa kembali. Sekarang masih bisa kembali untuk beramal saleh. Bersegeralah menuju ampunan Allah. Bertaubatlah dengan taubat yang semurni-murninya mudah-mudahan Rabb-mu menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…” tutup Ustadz.

Aku merasakan tubuhku dibantu berdiri oleh beberapa orang dan kafanku dilucuti. Tubuhku lemas sekali, basah keringat dingin. Aku tak mampu berdiri lama-lama sehingga aku dipapah keluar liang lahat. Di luar liang lahat, pandanganku berkunang-kunang saat kubuka mataku. Sofiyah berdiri di depanku, wajahnya kabur. Semakin buram pandanganku, sampai gelap dan aku tak ingat apa yang terjadi setelah itu.

Ketika aku bangun dan mendapati diriku di sebuah kamar. Ada Zia dan Ustadz yang tadi. Jantungku masih kurasakan berdegup. Seketika aku berlari keluar untuk shalat. Shalat dengan tangis, tangis tak berair mata lagi.


Penulis bernama Amalia Aris Saraswati. Lahir di Banyumas, Jawa Tengah, pada 24 November 1997. Meminati cerpen dan puisi sejak kanak-kanak tetapi baru aktif menulis sejak SMP. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA di Jawa, sekarang penulis masih berstatus mahasiswa di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Andalas. Penulis bisa dihubungi melalui email (amaliarizky0924@gmail.com) atau melalui line (ID: withoutnovember), FB: Amalia Aris Saraswati dan nomor telepon 081270864957.

Facebook Comments