Hari ini semuanya berbeda dari hari-hari sebelumnya. Aku seperti biasa bangun ketika orang-orang sudah di perjalanan untuk berangkat sekolah, tapi mama tidak meneriakiku, tidak menggebu-gebu membangunkanku dan tidak mengomel panjang lebar saat aku baru sarapan jam 7 kurang 10 menit, padahal bel sekolah berbunyi jam 7. Di meja makan, suasana dikuasai oleh sepi. Bila mulut mama yang tidak bisa diam itu kini menjadi diam, tandanya pasti semalam mama dan papa sudah bertengkar hebat. Tapi anehnya, aku tidak mendengar suara peperangan sedikit pun tadi malam. Aku menghela nafas, lalu memasukkan suapan terakhir nasi goreng. Saatnya berangkat sekolah dengan harapan tipis bahwa pagi ini aku akan selamat dari amukan Pak Bowo, sang guru BP.

“Ma, aku berangkat dulu.” Pamitku, langsung ngacir berangkat, tanpa menunggu jawaban dari mama karena aku hanya mendengar mama hanya bergumam, tidak tertarik dengan keterlambatanku pagi ini.

Sepertinya keberuntungan sedang menyelimutiku pagi ini. Pak Hery, satpam berkepala plontos yang kini sedang berpidato tentang kedisiplinan di depan para murid yang terlambat, tidak memergokiku sedikit pun. Padahal matanya selalu berhasil menangkap para murid yang berani menyelinap masuk bila terlambat. Aku melangkah lebar dengan harap-harap cemas bila tiba-tiba satpam itu berteriak dari belakang dan aku harus mendengar pidato kedisiplinannya kemudian dilanjut dengan pidato kedisiplinan dari Pak Bowo. Upss… Pak Bowo, baru saja aku memikirkan pidatonya itu, kini dia sudah berjalan mendekat. Aku bisa melihat dengan jelas bahwa dia melihatku yang masih berdiri di tempat dan kini dengan secepat kilat aku berbalik, berlari lalu bersembunyi di belakang mobil yang terparkir di halaman sekolah. Aku sudah pasrah bila akhirnya Pak Bowo menemukanku di sini. Kalau begitu kenapa aku bersembunyi ya? Ya setidaknya bersembunyi sejenak di sini bisa menyiapkan diri agar bisa bernafas dengan lancar ketika Pak Bowo berpidato.

Aku muncul perlahan dari balik mobil, tidak ada tanda-tanda kalau Pak Bowo akan mencariku. Dia malah sedang berpidato, dan saat itu juga dia menyuruh para murid terlambat itu mengikutinya, mungkin ke ruangannya seperti biasa.  Aku melirik Pak Hery yang kini sudah kembali ke pos satpamnya. Oh, alangkah indahnya hari ini.

Aku pergi dari balik mobil itu, melangkah dengan lebar, menaiki anak tangga dengan cepat menuju lantai 2 tempatnya anak-anak kelas XI. Dari kejauhan, kelasku, kelas XI IPA 4 masih ramai karena Bondan si anak jahil dan sohib-sohibnya masih berkeliaran di depan kelas. Aku menghela nafas, menyiapkan telinga dan hati bila si Bondan itu mulai bertingkah sok alim menasihatiku tentang keterlambatan dilanjutkan ejekan-ejekan. Sekarang aku yakin, pasti dia akan melayangkan ancaman untuk melapor ke Pak Bowo bahwa aku terlambat dan telah diam-diam masuk. Aku melangkah dengan cepat masuk kelas, tapi tak terdengar suara Bondan yang biasanya langsung meneriaki “cewek siang bolong”. Arti dari julukan itu adalah karena aku selalu bangun kesiangan, katanya waktu itu, saat aku tanyakan  alasannya memanggilku dengan julukan yang membuatku terkenal di sekolah ini, setelah Ratna yang lebih dulu terkenal karena kecantikannya. Ratna, teman sebangkuku sekaligus sohibku di sekolah ini.

Aku menoleh ke belakang, heran karena Bondan tidak membuka mulut comelnya. Cowok itu hanya diam merenung, pandangannya entah ke mana sambil melipat tangannya di dada dan bersender ke pilar koridor. Sedang insaf kali, pikirku, lalu aku melangkah menuju bangku di barisan terakhir. Tahun ini aku kurang beruntung karena mendapatkan bangku paling bontot dan sangat dihindari anak-anak cewek.

“Hai, Na. Beruntungnya aku pagi ini. Bisa selamat dari cekalan Pak Bowo, tadi aku-.” Aku terhenti saat melihat setangkai mawar merah nangkring di mejaku. Aku meraih mawar merah itu, lalu kutatap Ratna yang sedang termenung.

“Kamu tahu siapa yang menyimpannya di meja aku?” tanyaku sambil melambai-lambaikan mawar merah itu. Ratna menoleh, wajahnya langsung pucat. Aku bisa melihat dia perlahan menggeser kursinya, lalu melihat ke sekeliling kelas. Aku duduk, dan dia tambah menjauhkan dirinya.

“Ada apa Na?” Tanyaku heran, karena Ratna menatapku seperti seorang hantu.

“Nggak ada. Nggak ada apa-apa.” Katanya sambil menggeleng dan kembali menggeserkan kursinya ke posisi semula.

“Ini buat aku? Tapi dari siapa ya?” Tanyaku berharap Ratna tahu sesuatu.

“Iya itu buat kamu sepertinya. Aku nggak tahu dari siapa, tapi bunga itu udah ada saat aku sampai di kelas.”

“Wah, apakah ini namanya secret admirer? Seperti yang dilakukan para cowok kepadamu. Kamu setiap hari dibanjiri coklat dan surat, dan aku jadi ompong karena malah aku yang makan coklat itu.” Ratna terkikik mendengar itu. Aneh, padahal biasanya dia langsung protes bila aku mengungkit coklatnya yang malah masuk ke lambungku. Ratna adalah penyuka coklat, jadi dia selalu menerima dengan senang hati coklat dari para cowok yang mengejarnya tapi menolak dengan halus pernyataan cinta dari mereka. Tapi, sayangnya coklat itu lebih sering mampir ke mulutku.

Ratna tersenyum lalu mengusap lembut punggung tanganku. Telapak tangannya yang mungil itu menggenggam punggung tanganku. Raut kesedihan terlukis di wajahnya, sedetik kemudian raut itu tergantikan dengan senyuman yang menampilkan lesung pipitnya. “Kenapa kamu, Na? Suasananya jadi melow gini.”

Nggak kok. Thanks ya Sa.” Katanya bernada rendah. Dia menggigit bibirnya menahan air matanya karena aku melihat matanya yang indah itu berkaca-kaca.

“Terima kasih buat apa? Kamu kenapa Na?”

Pertanyaanku tidak terjawab, karena Bu Hanin sudah tiba di kelas dan para murid harus siap bertempur dengan pelajaran kimia.

***

Hari berikutnya, mawar merah itu kembali tergeletak manis di mejaku. Bertanya pada Ratna pun sia-sia karena dia tidak mengetahuinya. Baru saja aku akan menyentuh mawar merah itu lalu rencananya akan kusimpan di loker bawah meja, Bondan menghampiriku dan menatap mawar merah itu. Dia tidak bergeming, wajahnya sangat dingin, lagi-lagi kesedihan terlukis di wajahnya seperti Ratna kemarin. Ada apa dengannya hari ini? Biasanya dia akan memujiku lalu menjatuhkanku dengan ejekan ketika aku berhasil tiba di sekolah sebelum bel berbunyi. Tapi kini, dia seperti tak bernyawa.

“Ratna, aku pinjem catatan biologi kamu.” Katanya datar lalu menerima buku catatan itu dari tangan Ratna dan pergi begitu saja. Mataku mengikuti langkah Bondan menuju bangkunya yang berada di samping bangkuku tepatnya di sebelah kanan Ratna.

“Dia kenapa?” Tanyaku masih menatap Bondan yang sudah duduk dengan damai di kursinya tanpa menimbulkan kegaduhan seperti biasa.

“Entahlah.” Jawab Ratna seadanya, sepertinya dia tidak peduli. Harusnya aku pun tidak peduli dan bersyukur karena Bondan mulai ingin bertobat, tidak melancarkan terus ejekannya padaku.

“Dia aneh. Biasanya rajin ngeganggu orang-orang.” Kataku. Ya Tuhan, aku kan sudah berpikir tidak peduli kenapa masih membahasnya.

“Kamu kangen ya?” Goda Ratna

“Ihh…orang kayak dia dikangenin. Nggak ada untungnya buat aku!”

Ratna hanya terkikik menanggapi perkataanku. Dia mengeluarkan buku paket biologi dari tasnya, lalu membuka setiap  lembaran buku itu. Di tengah keasyikannya membaca buku itu, dia mengucapkan sesuatu dengan lirih, “Sebenarnya yang kangen itu dia, Sa.”

“Apa?” Tanyaku memastikan.

Nggak ko. Nggak ada apa-apa.”

“Tadi kamu ngomong apa? Maksudnya apa?”

Pertanyaanku kembali tidak terjawab, karena Pak Nandi sang guru biologi telah tiba di kelas.

***

Hari berikutnya, aku kembali mendapatkan mawar merah itu. Bunga itu menyapaku setiap pagi dan  aku memulai rencana dengan memasang alarm dan telingaku agar bangun lebih pagi serta menyaksikan siapa yang menyimpan mawar merah itu. Tapi sia-sia, mawar merah itu lebih dulu sampai. Rupanya dia lebih rajin bangun pagi daripada aku. Hari-hari berikutnya aku mencoba hal yang sama, tapi masih sia-sia aja, malah mawar merah itu bertambah lebih banyak. Pagi ini aku dikejutkan kembali dengan sebuket mawar merah cantik di mejaku. Tak hanya buket itu, tapi disekelilingnya pun terdapat banyak tangkaian mawar merah. Ditata dengan rapi dan cantik, membuat aku tersenyum dan tiba-tiba meneteskan air mata. Aku mengerjap, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba air mata mengalir di pipiku. Aku menghapus air mata yang kini sudah siap mengalir kembali saat menyadari Ratna menghampiriku.

“Kiriman bunga yang cantik.” Ratna juga sama terpukaunya denganku.

“Tapi ini dari siapa?” Tanyaku, tepatnya berbicara pada diri sendiri. Saat itu aku menyadari seseorang menyimpan setangkai mawar merah lagi di hadapanku. Ratna, dia tersenyum setelah menyimpan mawar merah itu tepat di depan mataku.

“Na, kamu-.”

Ratna menarik tanganku, menautkan jemarinya dengan jemariku lalu menggenggamnya erat. Dia menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan, dan menatapku dengan matanya yang sudah siap mengeluarkan air mata.

“Ayasa, kamu bisa pergi dengan tenang sekarang. Maafkan aku yang belum ikhlas kehilangan kamu dan membuat kamu masih di sini dengan kebingungan ini.  Semua orang di sekolah ini menyayangi kamu, termasuk aku yang lebih menyayangi kamu dari siapa pun. Terima kasih sudah melindungiku waktu itu.”

Wajah cantik Ratna sudah dibanjiri air mata. Tubuhnya bergemetar tapi genggamannya masih kuat. Matanya merah tapi tatapannya terhadapku masih kuat. Dia menatapku dalam, membuatku mematung di tengah suasana yang tidakku mengerti ini. Ratna melepaskan genggamannya lalu pergi meninggalkanku tanpa memberitahu alasan dia mengatakan itu. Siapa yang pergi? Kenapa aku pergi? Ada apa dengan mawar merah ini? Apa yang terjadi? Apa yang telah aku lakukan?

Aku menyusul Ratna, melangkah lebar lalu setengah berlari mengejarnya. Tapi seketika tubuhku merasa ringan, seringan kapas, tapi aku tak peduli. Aku berusaha berlari mengejar Ratna yang mulai menuruni tangga. Tepat saat kakiku akan menginjak anak tangga, perlahan tubuhku melayang dan menghilang. Aku menatap ke sekeliling, teman-teman melewatiku dan menembus tubuhku begitu saja Tidak menyadari aku yang menghalangi tangga ini. Aku ini apa? Apa yang terjadi? Ada apa denganku? Penuh tanya dalam benakku.

Saat aku melihat mang Karman si tukang bersih-bersih sekolah sedang mengepel lantai anak tangga, tiba-tiba kejadian yang entah kapan terjadi itu terlukis di depanku. Kejadian yang diawali oleh kemarahan Ratna kepadaku  pagi itu. Entah apa yang terjadi antara aku dan Ratna, tapi saat itu aku mengejarnya. Aku melihat Ratna berlari menuju tangga penghubung lantai 1 dan saat itu ember penuh air tertabrak olehnya, membasahi lantai anak tangga. Dia kehilangan keseimbangan karena kakinya terpijak pada lantai yang sangat licin. Kejadian itu sangat cepat, secepat aku menariknya dan melemparnya ke sisi yang lebih aman. Tapi saat itu, lantai yang dipenuhi air tersebut lebih memilihku untuk jatuh ke undakan anak tangga, membiarkan tubuhku menggelinding dengan cepat dan kepalaku dengan mulus mencium lantai, yang kini telah dipenuhi oleh cairan berwarna merah pekat.

“KYAAAAA!!!!”

Telingaku masih berfungsi mendengar teriakan Ratna, mataku masih berfungsi melihat wajahnya yang sangat khawatir saat di depanku dan bibirku masih berfungsi untukku bentuk seulas senyuman terakhir untuknya. Tapi semua itu hanya berfungsi sesaat, karena seketika semuanya menjadi gelap.

***

Aku menatap ke sekelilingku. Tidak seharusnya aku di sini. Semuanya telah mengikhlaskanku. Mama telah melepasku dengan damai sehingga dia tidak perlu membangunkanku lagi setiap pagi, meneriakiku karena aku yang rajin terlambat. Pak Bowo dan Pak Hery tak perlu berpidato lagi di hadapanku yang sering menjadi langganan pendengar pidato mereka. Bondan, pasti dia sudah kehilangan semangat jahilnya karena kejahilan setiap pagi padaku harus dihilangkannya. Sedangkan Ratna, baru hari ini dia telah ikhlas melepaskanku. Aku senang masih bisa membuatnya terkikik ketika aku dan dirinya sudah berbeda dunia. Dia telah melepasku, menyimpan mawar merah itu di mejaku, seperti yang para murid lakukan. Terima kasih teman-teman, satu hari pun tak kalian lewatkan untuk menghadiahkan mawar merah itu untukku.


Merinda Lounita Putri. Kelahiran Jakarta, 13 Oktober 1996. Kini sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas di kota kembang. Mulai menulis semenjak sering membaca novel dan bermimpi karyanya dapat dibaca sendiri dalam bentuk buku. Bisa menemukannya di instagram: merindalounita

Facebook Comments