Hatiku gersang, saat melihat ia datang. Terlalu tandas, bahkan untuk sebuah karang. Matanya yang bundar, laksana telaga bening coklat, mengkilap, tak berani menatap. Aku tahu tujuannya datang, bersilaturahmi. Tapi selain itu, aku tahu ia pasti datang. Untuk melepas janji, melepas hutang. Dan ia kemari membawa segudang penuh pertanyaan. Ia datang untuk merebut harapan, yang hilang.

Ia duduk saling berhadap-hadapan denganku, di atas kursi berwarna pandan layu. Wajahnya persis sama, dengan tahun-tahun biasanya. Kecuali, kumis yang ia biarkan bersemak di atas bibir. Tak tebal memang, seakan ia ingin menunjukkan dan bersua, Hei. Aku hari ini telah lebih dewasa.

Sedewasa apa pun dirinya, seberani apa pun dirinya, untuk satu hal ia tak mampu. Menatap mataku.

***

Aroma udara selalu sama, tak berkurang sedikit pun. Biarpun telah dihembuskan beratus atau barangkali beribu kali napas bau getah karet, aroma udara di sini, di rumah ini tetap sama. Aroma pandan. Hari ini aku datang, bukan untuk satu tujuan, tapi jutaan tujuan dengan tersingkap pertanyaan, tentunya. Dorongan, semangat berapi-api tiba-tiba padam, ketika kaki kian melangkah menuju lantai kayu rumah, ketika hidung menghirup aroma yang sama, setahun lalu, dua tahun lalu, tiga tahun lalu, dan seterusnya yang lalu-lalu. Tujuan utama tentu, bersilaturahmi. Sebagai pejalan tradisi, aku harus patuh. Dan, seberani apa pun niatku, sepengecut apa pun tingkahku, untuk satu hal, aku tak mampu. Menatap matamu.

***

Wajahnya tampak tegang, sesekali ia tersenyum sumbang karena gurauan, atau pujian yang dilontarkan. Wajahnya tetap manis, kehidupan kota tak membuat wajahnya menjadi bengis. Aku mengenalnya sedari lalu, ia Rusli, Rusli bin Tohari, dan ia pemuda tangguh. Mamaknya telah lama meninggal, kiranya ketika ia berumur lima tahun. Dan Abahnya, menyusul di kemudian tahun. Setiap tahun ia selalu kemari, menjalankan tradisi, katanya, bersilaturahmi.

Setelah sejak lama ia pergi ke kota, hendak mencari bahagia, tentunya. Dan hari ini, di atas ruang ini dia memenuhi janji, dia datang, kemari.

***

Tak tampak beda dari wajahnya, senyumnya, kulitnya, halus dan manis. Tampak dari sini, dari seberang tempatku duduk, terpisah meja kayu, sebagai alas dua cangkir kopi dan beragam makanan menyusul. Kecuali untuk satu hal, kini bibirnya telah berani diberi warna, kemerah-merahan. Begitu merekah, tapi tak mencolok. Daya tarik bagiku, karena aku telah mengenalnya sedari lalu, ia Senarsih, Senarsih binti Sudar. Wanita cantik, untuk ukuran warga kampung, ia amat cantik, bak permata ditumpukan benih emas, setidaknya. Setiap tahun, aku selalu kemari, bersilaturahmi sebagai bagian tradisi, dan untuk tujuan lain. Meledakkan rindu, tapi kian lama waktu, kian tak berucap.

Hari ini, setidaknya aku bukan pengecut, dan setahuku aku memang bukan pengecut, aku selalu menyempatkan datang kemari, ke rumahmu. Duduk bersama Abah dan Mamakmu. Wajah permatamu tak pernah bersua, hanya sesekali memerah senyum manismu, dari canda atas diriku. Dan kau tahu? Aku bahagia. Senyummu adalah pemantik rindu dalam hati, sekaligus pemadam rindu, yang tentunya, berapi – api. Dan di sini, di ruang ini, di antara aroma kopi, serat pandan, dan suara hati. Aku memenuhi janji. Aku datang, kemari.

***

Entah berita itu telah didengarnya atau belum, untuk satu hal, aku ragu. Di dengar atau tidak tak akan mengubah apa pun, ia tetap kokoh dengan pendiriannya, dengan janjinya. Aku tahu ia ragu, kecewa, marah. Sorot matanya merekah. Sesekali memalingkan kedip, ketika satu pandang bertemu lurus dan saling tatap, sekilas, antara aku dan dirinya, sering ia membuang muka.

Bukan berarti aku tak kecewa, marah, ragu. Melihat wajah tampannya dengan tatap mata, adalah permata di antara berlian, adalah tangkai di antara ranting, sama indahnya, tapi kian memunculkan aura berbeda. Aura kenyamanan.

***

Sejak lama aku telah mengikat janji, disaksikan sajak-sajak alam, dan sepasang merpati. Untuk sebuah kenyataan, kuakui aku keterlaluan. Lelaki tak sepantasnya hanya beradu dengan janji,  tapi apa daya kata, jika tradisi telah membungkam hati. Namun, bukankah begitu? Di antara tegasnya kasih, tetap pasti ada arah menuju hambatan, di antara beribu harapan, hanya sesekali menjadi kenyataan. Selebihnya, pelipur dalam mimpi hari petang. Sejak lama keraguan telah memalingkan sikapku, terutama sejak berita itu merongrong dalam telinga, menggencet perasaan dan jiwa. Bahwa kau akan melepas masa perawan, akhir bulan ini, bulan syawal. Hati ini bukan piama, bukan hanya pelengkap ketika bermimpi. Tapi, untuk satu mimpi aku serahkan sebuah kenyataan. Kenyataan bahwa wajahmu begitu tenang, sepintas dengan pancaran cahaya di wajahmu. Pancaran kenyamanan.

***

Bagaimana pula hubungan ini? Bila yang dinantikan akan lagi terjadi, bila dorongan akan tetap mengamati. Maka, untuk sebuah harapan, aku ingin menjadi merpati. Sayapnya elok putih membawa pula kesejukan pagi. Aku, ingin mencintai seperti merpati, mencintaimu dengan suci. Aku, Senarsih, sejak saat ini, bercita-cita dan bermimpi menjadi merpati. Dan kau tahu ?, aku menunggumu berbicara terkait hati.

***

Aku diam dalam untaian suara, perihal gempita malam telah tak lagi kuhiraukan, seruan abahmu kian lama tenggelam. Lantas, di antara ributnya suara jangkrik malam, dan pelipur aroma pandan, kata-kata itu datang, “Telah lama aku mencintai Senarsih, sedari aku masih muda benar, sedari aku masih disini. Dan hari ini, di hadapan Mamak dan Abah, Aku, Rusli bin Tohari melamar Senarsih. Dengan mahar diluar yang harus ditebus, untuk sebatas tradisi. Dengan mahar buku kumpulan sajak, kumpulan peristiwa, yang semua objeknya adalah ia, adalah Senarsih.”

Kau tahu ? Aku menaruh harap besar-besar, setiap kata sama besar harapnya. Harap agar mampu melunakkan hati tradisi Abah. Tapi, tetap tak kuasa. Semua berubah, bukan lagi beda yang menyapa. Aku terusir dengan kecewa di dalam dada.

***

Aku tahu, kau tak sekedar berjanji. Hari ini, aku, Senarsih binti Sudar telah melihat untaian permatamu, secara langsung dan berani. Kau adalah penyair, permatamu terletak dalam kata-kata. Dan, suaramu terlampau syahdu kala saling beradu. Tapi untuk segenap takdir, harus ada jiwa yang digelintir. Dan itu adalah jiwamu, jiwaku, jiwa kita. Semua telah berubah, bukan lagi beda yang menyapa. Kau terusir dengan kecewa di dalam dada, pastinya.

***

Segenap masa aku diam. Aku merasa telah hampa, ini bukan dendam. Bukan!.Ini adalah sayat perasaan. Untuk kemudian, aku ingin hidup di antara mimpi. Aku ingin menjadi merpati. Merpati adalah lambang cinta, lambang setia, dan itulah aku. Aku tetap mencintainya, Senarsih. Biar kita bertemu di bawah alam nyata, di antara alam mimpi yang telah menunggu. Aku dan dirimu akan menjadi merpati. Bebas berkasih-kasihan, bebas mengungkapkan perasaan, dalam bentuk apa pun, tak kasat penglihatan. Dibalik indahnya perasaan, kita akan terbebas dari tradisi persetan.

***

Kau hanya diam, menundukkan pandangan sayumu. Tapi tetap masih tersenyum riang, tanda kebesaran kehormatan. Aku tahu langkahmu gontai, bumi menarikmu, kecewa mengikatmu. Tapi sejak lama aku tahu, tak semua cinta berujung kawin, berujung bahagia yang dinantikan. Ada jurang di antara jalanan, di antara tebing perasaan. Toh kau selalu berkata dalam sajakmu, Aku ini merpati, lambang cinta, lambang setia. Untuk siapa berwangi pandan, berkulit bersih, Senarsih. Aku ucap setia.

Dan memang cinta tak terikat apa pun, bahwa lebah tetap mencintai mawar, walau ia hanya sebatas perantara perasaan, ia tahu dan tetap datang. Biarpun alam menentang, ia tetap datang, dan tetap datang. Dan untuk kesekian kali, aku meminta maaf, pada perasaan.

***

Aku mencinta, dia mencinta. Kami saling beradu rasa, bukan hanya sekedar bermanja-manja. Kami telah mengukir janji setia, bukan di antara batang pohon, seperti dalam sinema-sinema. Kami mengukir setia, untuk setiap rasa yang terletak di luar alam nyata. Di alam mimpi kita berjumpa. Dua merpati saling bercumbu, itulah kita. Yang satu saling merayu, yang satu tetap menunggu. Aku dan kamu, Rusli dan Senarsih. Aku kawin denganmu di luar alam lahir, di alam lain yang, menunggu.


Haryo Pamungkas, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, sahabat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Angota magang LPME Ecpose, tinggal di Jember. Blog daunbaur.blogspot.com

 

Facebook Comments