ASA DAN CITA-CITA

benarkah itu dirimu
yang kutahu
bulan bersinar purnama
dan engkau cahayanya

dalam setiap bintang-bintang di hatiku
tersimpan asa dari pandanganmu

kita hanya sebatas memandang
gedung yang tinggi tak kan mencakar langitmu
gunung yang tinggi tak kan mengejarmu

Aku hanya lilin yang memandang purnama
Di batas sangkakala


BERI AKU WAKTU SUBUH

beri aku waktu subuh
untuk berpadu pada kiblat-Mu
biar penuh seluruh

waktu menunggu di ambang pintu
sebentar saja azan berlalu
maka biarkan aku bersatu
menepati janjiku pada-Mu

(Ditulis waktu subuh)


BILA ANAK SAKIT

satu malam menegangkan bila anak sakit
tubuh ini demam panas darah ikut mengguncang
jantung memompa dan mengayun-ayun perasaan

degupnya tak siang tak malam
seperti menghitung kekhawatiran
buah pikiran tak bervitamin

doa tergenggam dalam ikatan malam
sembuh dibasuh ke seluruh tubuh
doa dilafalkan dan cinta dilabuhkan
adalah kekuatan kepada-Mu menjadi garis lurus
pada setiap tarikan napas yang tak terputus

dari menit ke menit
meminta kekuatan  dari semua cinta
pada-Mu jua
kalau anakku yang sakit
darah yang mengguncang jantung ini
memompa dan mengayun-ayun perasaan
tak siang tak malam jarum jam
terus berdetak menghitung kekhawatiran

Bahkan pikiran tak bervitamin meski
diobati doa dan sayang tak berbilang

Kepada-Mu aku pasrahkan
menjadi satu garis lurus
kekuatan dalam setiap tarikan napas ini

Di dadaku membuncah harapan dari menit ke menit
kekuatan semua cinta hanya pada-Mu


BISIKAN DIAM

setiap langkah yang salah
adalah karena diammu tak terarah
jika langkah yang terarah
diammu tak bersalah

jangan biarkan diam itu
tanpa gemuruh suci bisikan diammu
terasah pada kitab suci
dan noktah noda akan terampuni

membaca diammu dengan kitab suci
berharap pada pertemuan ini
mengemas rindu sejati
hanya pada Illahi


CERITA DI BIBIR PANTAI

di laut
disebabkan angin meniupkan ombak
dan arah mata angin para pencari penghidupan
menggantinya dengan kesenangan

mereka tawarkan speedboat dan banana kepada para pelancong berlayar di tengah ombak menggulung layaknya nelayan yang bersahabat dengan laut ombak dan angin mengarahkan pelancong menjadi pelaut

seperti itu rupanya nelayan memberi contoh kehidupannya
Laut ombak dan angin tantangannya
mereka bersandar di bibir pantai untuk menjajakan cerita pada anak mereka
Sambil mengumbar uang recehan

di bibir pantai
adalah nyanyian hatiku pada pohon nyiur melambai
mendatangkan cerita panjang tentang nelayan yang tak pernah usai
hingga sekarang
Pantai sejatinya selalu bermain ombak hingga tubuhku rebah di sini

Ya, seperti itu deburannya menghantam  pada laut sedangkan gadis kecilku berkaki palsu hendak bermain sky

Aku hanya termangu mengagumi cerita laut ombak dan angin
langit membiarkan burung elang bercanda di angkasa


Apin Suryadi, lahir di Pandeglang-Banten, 8 April, mulai aktif menulis puisi tahun 2017 setelah 30 tahun ditinggalkannya. Sehari-hari menjadi guru relawan bagi anak asuh Raudhatul Athfal Ad-Dzikro. Saat ini tengah mempersiapkan 2 buku kumpulan puisi .¬† Kini ia bergabung bersama Komunitas Sastra Gunung Karang di Pandeglang-Banten. Baru satu buku kumpulan puisinya yang digarap bareng komunitas media online “Embun Pagi di Lereng Pesagi” (2017).

Facebook Comments