SECANGKIR KOPI
Secangkir kopi,
menghantarkan kita berpetualang menuju imaji
melewati batas-batas yang membatasi
sampai tiada kata lagi yang terbatas.

Secangkir kopi,
kita mereguk hangat penuh kenafsuan
di atas manis berbalut kepahitan yang mendasar
dari kebebasan yang terjenggal dalam wadah lingkar fatamorgana
lalu, membentangkan kalbu di tengah hamparan samudera yang membentang lautan.

Secangkir kopi,
kita mengatas namakan dahaga yang meraja
meraung-aung hingga keparauan mendesah
di atas aksara bertumpah derita .

Secangkir kopi,
kita merengut liang kenikmatan hingga mendasar dalam kehangatan kita bertemu suka
melumat habis manis, tinggal menemui derita pahit di dasar
mengusuk-ngusik ketenangan kalbu yang bermimpi.

Secangkir kopi,

Tanpa !
(Manis-pahit) temukan dalam secangkir kopi yang merangsang kehangatan
Tak kan rela mengantar imaji penembus mimpi

(2017)


KALA ITU

Kala itu,
suatu malam yang dingin menembus kekuatan kulit
menahan hingga para tulang tak lagi menjerit dan menilang kata-kata
“ Aku tak kuat di sini hentikan atau kuberhentikan”
Lalu, kita ?
Terhenti sejenak membungkam satu sisi
terentak pada bayang semu di bawah
langit malam yang memerah dan memekik
menurunkan butiran-butiran rindu yang tertampung
memasuki  sela-sela kota yang tuli
membasahi hati yang tandus memekik kebisuan kesibukan
berlalu lintas ia (basah) menghampiri  dengan pekikan
lima menit mengatup mata telah terasa ia di hati sampai membanjiri,
mengundang  angin berlari liar lalu menjadi batu api yang mengamuk
“ Hampir saja mati di kesepian”

(2017)


B-OTOL

Kemarin kau berikan aku botol
berisi ramuan-ramuan yang telah tersaji
tersusun gemulai penuh makna yang melampau batas imaji
maka, biarkan aku mencoba meramu kembali
telah kuterka! kau kan berbisik pada ujung lidahmu tentang kepahitan
kan kunanti bisikanmu lalu, kuulangi kembali kepahitan itu
sampai kau berbisik kemanisan di hati lewat ramuanmu!

(2017)


PUTIH DAN ABU

Mengutip sehelai kenangan, membuaikan aku dalam kantuk yang merindu tak bersudah dan kita melepas canda pada sehelai benang coret-moret penuh misteri, lalu  nyanyian syukur kita tumpahkan terhadap-Nya melepas putih dan abu yang menjadi penghias hari kita kemarin, satu persatu langkah kita tempuh hingga melepas batas mimpi dan kita berada pada jembatan yang tak lagi sama, menunggu pertemuan rindu yang tak berkesudahan. Semoga cercahan itu masih kita simpan.

(2017)


ANDAI

Terlalu indah untuk mengukir kenangan yang kita rajut
melewati hari-hari penuh tawa
pagi kau merajut senyum
seatap kita suka-duka, menggapai andai yang kita andaikan dahulu

Dan kini seatap kita tak begitu ramah
memakai topeng layak kehilangan rupa
menggugat penuh ambisi
mengundang bunga-bunga yang kian menumbuh menjadi layu

Bisakah tanpa meja hijau duka
menyisir  api yang membara
andaikan andai itu kita mulai berandai
mangkinkah ?

(2017) 


Mohammad Oktavino, lahir di Tanjung pinang, kesehariannya sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMRAH, bergiat di Komunitas Boedak Bilek Sastra, Kumpulan Puisinya telah terbit dalam buku: Mengapa Kopi (2017), Antologi Puisi Cinta pertama (2016).
Facebook : Muhammad Oktavino

Facebook Comments