“I have blisters on my feet from dancing alone with your ghost.”

– Tyler Knott Gregson

 

Lelah. Dengan malas aku melepaskan kaca mata minus yang semenjak tadi kupakai, lalu sejenak memberikan pijatan ringan di pangkal hidung, di antara kedua mataku. Sebenarnya aku sudah mulai lelah mengerjakan laporan keuangan yang sudah memadati waktuku semenjak dua hari yang lalu itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ini kewajiban yang harus kuselesaikan di setiap akhir bulan. Dan paling tidak, dengan ini aku bisa membunuhi waktu, bisa sedikit melupakan segala rasa tak menyenangkan itu.

Aku membuat apusan berbentuk huruf E di layar ponselku. Layar itu menyala, menunjukkan gambarmu dan si kecil. Tak ada pesan yang masuk ke ponselku. Tak pesan singkat, tak juga pesan-pesan di beberapa aplikasi messenger yang aktif di sana.

“Ayah, lihat!”

Aku menoleh. Gadis kecil itu berdiri di belakangku dengan senyuman lebar di wajah. Kedua tangannya memegang pinggiran selembar kertas yang dia bentangkan di dadanya.

“Ayah, lihat apa yang aku gambar!” katanya dengan ceria.

Aku bergeming. Dia lantas melangkah cepat mendatangiku lalu naik ke pangkuanku. Aku tak menolak, membiarkannya duduk di pangkuanku, lalu berceloteh tentang gambar yang dibuatnya.

“Ini namanya Popo!” Telunjuk kecilnya menunjuk gambar seekor kucing atau entahlah. Bagiku gambar yang diberinya warna abu-abu itu adalah seekor kucing. “Dia ini cerewet sekali, Ayah. Setiap pagi dia mengeong, membuatku tidak bisa tidur lagi.” Wajah itu ditekuk. Hanya sesaat. Kemudian ada keceriaan lagi di sana. “Tapi dia itu lucuuuu sekali. Dia selalu membuatku tertawa.”

Aku tak begitu tertarik dengan gambarnya. Aku sekarang lebih tertarik pada suara kikik kecilnya, tawa riangnya, wajah cerianya, lalu lesung pipit yang muncul di kedua pipinya setiap kali dia melakukan semua itu.

“Ayah lihat ini!” katanya lagi. Mau tak mau aku mengikuti ujung telunjuk kecilnya lagi. “Ini kamarku. Mainanku banyaaaak sekali di sana. Tempat tidurku berwarna ungu, sama seperti warna kesukaan Bunda. Aku punya boneka beruang berwarna putih dan ungu. Aku suka bermain dengannya!”

Aku hanya diam mendengarkannya bercerita. Dia terlihat begitu bahagia.

“Ayah, ayo kita berdansa!” Dia tiba-tiba berseru sebelum kemudian merosot turun dari pangkuanku. Tangan mungilnya meletakkan kertas yang sedari tadi dia bawa itu ke lantai. Dia lantas mengulurkan tangan ke arahku.

“Apa?” tanyaku.

“Ayo berdiriiiiiii….”

“Berdiri?” tanyaku. “Kenapa?”

“Ah ayaaaah… Ayo berdiriiiiii..” Dia mulai tak sabar.

Dan lagi, aku menurut.

Dia menyambutku, menggenggam kedua tanganku dengan kedua tangan kecilnya.

“Ayah dengar itu kan?”

“Apa?”

“Coba dengar baik-baik. Lagu itu… Lagu yang ayah sering nyanyikan untukku. Ayah dengar kan?”

 

Somewhere over the rainbow way up high

And the dreams that you dream of once in a lullaby

 

Entah dari mana lagu itu mulai mengalun. Gadis kecilku itu, tanpa aba-aba, langsung menaikkan kedua kaki kecilnya di atas kakiku lalu seperti tersihir, aku mulai mengayunkan tubuh, menggerakkan kedua kakiku bergantian, berdansa dengannya. Dia tertawa. Aku menyukainya.

 

Someday, I wish upon a star

And wake up where the clouds are far behind me

Where trouble melts like lemon drops

High above the chimney top

That’s where you’ll find me

 

Gadis kecilku ikut bernyanyi. Suaranya, aku menyukainya. Aku suka sekali mendengarnya. Begitu menyenangkan. Tapi, tiba-tiba aku berhenti mengayunkan tubuhku, hanya diam menatapnya.

 

Somewhere over the rainbow bluebirds fly

And the dreams that you dare to

Oh why, oh why can’t I?

 

Lagu itu masih terdengar, tapi tidak dengan suara gadis kecilku. Suara nyanyiannya berhenti. Dia menatapku.

“Ayah,” katanya. Dia melompat turun dari kedua kakiku, tapi tak melepaskan kedua tangannya dari tanganku. Tak juga melepaskan kedua matanya dariku. “Ayah jangan sedih lagi, ya?” Dia tersenyum.

Aku berlutut di hadapannya, ingin lebih lekat menatap wajah kecilnya, menelusuri setiap lekukan di sana. Kedua mata itu, yang sehitam kedua matamu, lalu hidung yang dulu semua orang bilang begitu mirip denganku, lalu kedua lesung pipit itu. Bibir mungil yang sedari tadi selalu tersenyum itu.

“Maaf.” Kata itu akhirnya terucap juga dari mulutku. “Seharusnya ayah nggak bilang kayak gitu. Ayah sayang kamu.”

 

“Kamu hamil? Memangnya tidak kamu minum itu pil KB-mu? Penghasilanku belum cukup buat membiayai dua orang anak. Mau dikasih makan apa nanti?”

 

Suara itu, kata-kata yang kuucapkan dengan penuh keputusasaan malam itu, semuanya bergema di dalam kepalaku. Seharusnya aku tak mengatakan semua itu sewaktu kamu menyampaikan kabar gembira itu, bahwa ada janin yang mulai hidup di dalam perutmu lagi.

Malam itu aku begitu lelah setelah disibukkan oleh pekerjaan yang serasa tak pernah habis. Lelah berusaha menyelesaikan tumpukan hutang yang masih harus kubayar. Lelah pada diriku sendiri yang merasa belum siap menjadi seorang ayah. Salahku. Itu salahku.

“Tidak, Ayah. Ayah tidak salah.” Gadis kecil itu tersenyum lagi. Tangan kecilnya dia lepaskan dari genggamanku lalu mulai mengapusi air mataku yang menetes. “Bukan salah ayah,” katanya. “Kita memang hanya dijodohkan selama waktu itu. Memang harus begitu. Aku memang tidak dijodohkan untuk bertemu ayah di dunia ini. Aku pergi bukan karena ayah. Aku pergi karena memang harus.”

Aku menatapnya dengan kerinduan yang luar biasa besar, lebih besar dari sebelumnya.

“Ayah tenang saja. Dia menjagaku di sana. Dia baiiik sekali, Ayah. Dia memberi apapun yang aku minta. Dia menyayangiku. Dia juga menyayangi ayah. Dia menyayangi bunda, kakak. Jadi ayah tenang saja. Aku baik-baik saja.”

Aku tak lagi bisa menahannya. Aku menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukanku, memeluknya erat.

“Maafkan ayah,” ucapku lagi.

“Tidak. Bukan salah ayah,” katanya tanpa berusaha memberontak dari pelukanku. “Bukan salah ayah,” katanya lagi.

Kedua tangan kecil itu berusaha merangkul tubuhku. Aku bisa merasakannya.

“Ayah jangan sedih lagi, ya? Aku tidak apa-apa. Ada Popo yang nemenin aku. Ada Dia juga yang sayang sama aku. Jadi ayah jangan sedih lagi ya? Aku sayang ayah,” katanya seraya mengeratkan kedua lengannya di tubuhku.

 

Someday, I wish upon a star and wake up where the clouds are far behind me….

 

“Mas?”

Aku membuka mata. Senyumanmu menyambutku. Aku menegakkan tubuh.

“Mas ketiduran di meja kerja lagi. Ayo pindah ke kamar,” katamu dengan lembut.

“Dek.” Aku menatapmu. “Ella sudah besar.”

Kamu mengerutkan dahi.

“Ella,” kataku. “Aku tadi berdansa dengannya. Dia sudah besar. She has your eyes.”

Kamu tersenyum. “Dia menyayangimu,” katamu seraya mengulurkan tangan, mengajakku berdiri.

Aku mengangguk, menurut, menyambut uluran tanganmu, dan berdiri.

“Dia sudah tiga tahun ya sekarang?” tanyamu sewaktu aku melingkarkan lengan di bahumu.

“Iya. Rambut hitamnya panjang, sama denganmu. Dia punya lesung pipit. Dua. Sama denganmu,” ceritaku lagi.

“Dia bahagia?”

“Iya. Dia bahagia. Dia bilang padaku, ‘Ayah tenang saja’. Sok dewasa sekali dia,” kataku lagi.

Tapi langkahku tiba-tiba terhenti di depan pintu ruang kerja sewaktu aku menemukannya. Selembar kertas yang di sana terdapat gambar entah apa, tapi bagiku gambar yang diberi warna abu-abu itu adalah seekor kucing.

I love you, too,” bisikku.

(Ternate, 3 Maret 2017)


Fina Mahardini, saat ini tinggal di Ternate, Maluku Utara. Tulisannya yang lain dapat ditemukan di blognya myperfecttwilight.blogspot.co.id. Penulis dapat dihubungi melalui email fina.mahardini@gmail.com.

Facebook Comments