Aku tahu Mita sedang berbohong. Dari cara matanya menatapku dan bicaranya yang kaku, jelas sekali dia sedang menyembunyikan sesuatu.

“Tapi aku yakin mendengar kau bicara dengan seseorang?” desakku.

“Aku sedang menelepon temanku. Mungkin suaranya kedengaran sampai kamarmu. Kau belum tidur?”

Mita mengalihkan pembicaraan. Aku tidak bertanya lagi dan kembali ke kamarku. Sekitar sepuluh menit lalu, samar-samar aku mendengar suara Mita bicara dengan seseorang di kamarnya. Padahal setahuku Mita pulang sendiri, tidak dengan siapa-siapa. Karenanya aku bertanya apakah ada temannya yang datang. Melihat reaksi Mita yang gugup, membuat aku curiga. Aku yakin sekali itu bukan suara Mita dengan seseorang di telepon, melainkan suara percakapan langsung di kamarnya. Dan yang membuatku bingung adalah suara itu terdengar seperti suara dua orang yang berbeda.

Namaku Hira, teman satu kos-kosan dengan Mita. Kami sama-sama mahasiswa berbeda Universitas. Mita baru pindah ke kos sejak tiga bulan lalu, karenanya kami belum terlalu akrab. Aku juga tahu dia kerja sambilan sambil kuliah. Tapi sejak seminggu lalu Mita sering pulang malam di atas jam sebelas, membuat aku yang bertugas sebagai pemegang kunci depan kos, harus ikut bergadang menunggunya pulang.

 “Nenek, tolong ceritakan satu dongeng untukku biar aku bisa tidur.”

Aku tersentak kaget mendengar lagi suara orang dari kamar Mita. Karena kamar Mita berada paling ujung dan tepat berada di samping kamarku, ditambah lagi suasana kos yang sudah sepi, suara itu cukup jelas terdengar dari kamarku. Kutempelkan telingaku ke dinding samping kamar Mita. Tiba-tiba aku menggigil ketakutan saat mendengar suara yang begitu parau dan serak-serak.

“Baiklah, Cu. Nenek punya sebuah cerita untukku. Pada zaman dahulu kala…

Aku tidak berani untuk mendengarnya lebih jauh dan segera pergi tidur. Tentu saja aku belum bisa tidur karena suara itu begitu membuatku ketakutan. Aku membayangkan yang bukan-bukan tentang suara itu. Mungkinkah Mita bisa bicara dengan makhluk halus, dan apakah makhluk itu kini berada bersamanya?!

Paginya aku terbangun dengan kondisi lemas. Suara nenek-nenek itu masih terngiang-ngiang di kepala. Kulihat Mita keluar kamarnya sambil membawa tumpukkan baju kotor untuk dicuci. Aku masih kepikiran tentang suara kemarin malam. Saat aku pulang kuliah, aku melihat Mita sudah lebih dulu pulang. Sepertinya baru selesai mandi karena rambutnya masih basah.

“Kau pulang awal hari ini?” tanyaku.

“Iya. Karena tidak ada kerja sambilan lagi”

“Lagi? Kau kerja di berapa tempat?”

Mita terdiam. Sepertinya dia kelepasan bicara seolah dia memiliki tempat kerja lebih dari satu.

“Maksudku kerjanya diganti shift pagi tadi, jadi malam ini aku santai.”

Aku tidak membalas penjelasan Mita. Pikirku biarkan saja karena aku juga belum punya bukti pasti tentang suara yang aku dengar kemarin. Saat aku sedang asyik mengerjakan tugas kuliah, lagi-lagi aku mendengar suara obrolan di kamar Mita. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul satu malam. Bulu kudukku berdiri semangat. Dengan perasaan ragu kutinggalkan tugasku dan berjalan mendekati dinding pemisah kamarku dan Mita.

Aku ingin makan sup jagung buatan nenek hari ini.”

Aku mendengar suara anak kecil yang kemarin.

“Baiklah, karena Betty sudah menjadi anak baik hari ini, nenek akan buatkan sup jagung kesuakaanmu.”

Suara sang nenek yang serak-serak menambah kengerianku. Aku terburu-buru keluar kamar dan mengetuk pintu kamar Mita. Lama sekali rasanya sampai Mita membuka pintu dengan wajah terkejut.

“Ada apa Hira? Ini sudah malam?”

“Seharusnya itu pertanyaanku! Aku mendengar suara orang bicara di kamarmu. Ada keluargamu datang, ya?”

Kucoba mengintip kamar Mita di balik pintunya yang sedikit terbuka. Mita seperti ketakutan dan berusaha menutup-nutupi pandanganku.

“Maaf kalau obrolanku di telepon mengganggumu. Karena tiba-tiba aku rindu sama ibuku, tanpa sadar aku meneleponnya. Jelas beliau agak marah karena ini sudah malam.”

Omong kosong pikirku. Jelas sekali itu bukan suara dari obrolan di telepon.

“Maaf, Hira. Lain kali suaraku akan kukecilkan. Selamat beristirahat, ya!”

Mita menutup pintu kamarnya. Suara itu masih terdengar namun kali ini lebih pelan. Perasaanku semakin tak karuan. Ingin sekali memberitahu teman-teman yang lain tentang kejadian ini, tapi aku takut jika Mita dijauhi atau aku dianggap membual jika ternyata semuanya hanya salah paham.

Hari ini aku melihat Mita pulang awal dengan membawa dua kantung plastik hitam besar. Wajah Mita kelihatan pucat hingga aku khawatir.

“Kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali.”

“Benarkah? Akhir-akhir ini kerjaanku banyak. Tugas kuliah menumpuk, belum lagi aku harus kerja sampingan. Sepertinya aku kurang darah.”

Mataku tertarik dengan dua kantung plastik hitam yang dibawanya.

“Itu apa?”

Mita seperti orang ketakutan dan langsung terburu-buru menuju kamarnya seolah tidak ingin aku tahu isi di dalamnya. Aku tersinggung tapi diam saja. Saat dia akan membuka kunci kamar, tidak sengaja bungkusan itu terjatuh dari tangannya. Isi kantung itu ternyata sebuah boneka anak kecil dan nenek-nenek. Mita memungutnya dengan cepat. Sebelum dia masuk ke kamar, aku sudah lebih dulu menahan pintu kamarnya.

“Boleh aku lihat bonekanya?”

Aku mencoba untuk bersikap santai agar Mita tidak panik. Dia sibuk melirik sana-sini seakan tidak ingin diketahui oleh penghuni kos lain. Dia mempersilahkan aku masuk ke kamarnya. Mita mengeluarkan bonekanya yang terjatuh tadi. Sebuah boneka tangan yang tingginya tidak lebih dari 60 cm. Boneka itu kelihatan lucu menurutku.

Mita memegang  kedua boneka itu dan menggerak-gerakkannya.

“Hai, namaku Betty!”

Suara Mita berubah seperti suara anak kecil yang aku dengar di malam itu.

“Terima kasih telah menjadi teman Betty.” kali ini suara nenek-nenek yang sempat membuat bulu kudukku berdiri.

Wajah Mita memerah menahan malu karena aku terkejut-kejut mendengar suara perut yang dikeluarkannya. Tak lama dia tersenyum dan menjelaskan.

“Ini Betty dan neneknya. Mereka boneka tangan yang kubuat dengan teman-temanku. Maaf, suara yang kau dengar akhir-akhir ini adalah suara perutku. Aku ditawari teman untuk mengisi acara panggung boneka tangan di tempatnya kerja. Karena masih pemula, aku harus banyak berlatih. Malam adalah waktu yang tepat karena semuanya sudah tidur. Aku sengaja merahasiakan ini dari kalian.”

Aku memegang kedua bonekanya. Bonekanya berbuat dari kain flanel yang dijahit dan diisi kabu-kabu. Boneka bernama Betty berambut ikal keemasan, terbuat dari benang wol. Matanya dari kancing berwarna biru. Bajunya bermotif polkadot berwarna merah dan berumbai-rumbai. Sedangkan sang nenek rambutnya berwarna abu-abu dengan mata dari kancing berwarna coklat. Bajunya lebih sederhana dari kain percak. Aku akui jika boneka Mita cukup menarik untuk digerakkan tangan.

“Kenapa kau rahasiakan? Suaramu bagus, kok. Kau membuatku tidak bisa tidur akhir-akhir ini karena suara itu. Jujur saja aku pikir kau sedang berdialog dengan hantu.”

Mita tersenyum mendengar komentarku.

“Sebenarnya aku malu. Aku masih belum terlalu pandai mengeluarkan suara perut. Jika anak-anak lain tahu, mungkin aku akan diejek?”

“Kami bukan anak kecil! Lebih baik kami tahu daripada kami mendengar suara-suara itu keluar dari kamarmu. Itu lebih menakutkan. Justru karena kau rahasiakan, aku jadi salah paham, kan?”

Mita hanya tersipu malu dan minta maaf. Kini ketakutanku lenyap seketika. Mita juga berjanji untuk mengundangku jika ada pertunjukkan lagi. Rahasia Mita tetap kujaga dari penghuni kos lain. Aku memang tidak berniat memberitahu mereka karena itu adalah haknya Mita.

Seperti malam-malam sebelumnya, samar-samar aku mendengar suara Mita sedang berlatih. Aku memang tidak takut lagi namun terkadang perasaanku tidak enak mendengar suara Mita sebagai nenek. Suara paraunya membuatku takut. Mita berlatih cukup lama dan suaranya semakin terdengar keras di telingaku.

Aku segera keluar kamar dengan maksud memberitahu Mita agar lebih mengecilkan suaranya. Aku terkejut melihat pintu kamarnya terbuka. Mita juga tidak ada di dalam kamarnya. Hanya ada boneka Betty dan nenek yang terduduk di atas tempat tidur.

‘Hira? Ada perlu apa?”

Jantungku terasa melompat mendengar suara seseorang memanggilku dari belakang. Kulihat Mita sedang sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk. Lama rasanya kuresapi kejadian yang baru saja terjadi.

“Kau dari tadi di kamar mandi?” tanyaku.

“Iya. Baru selesai mandi. Kenapa?”

“Lalu suara tadi…

Kata-kataku terhenti sebab aku mulai menyadari sesuatu. Keringat dingin mengucur di seluruh badanku. Kulirik Betty dan sang nenek di atas tempat tidur Mita. Kaku, diam, dengan wajahnya yang tersenyum.


Ogie Munaya, Lahir di Kota Khatulistiwa, yaitu Pontianak. Mulai suka menulis sejak SMP karena pengaruh dari hobi membaca. Terima kasih telah membaca!

 

Facebook Comments