Rinai hujan turun di penghujung bulan November. Beberapa orang menepi untuk berlindung dari tumpahan air yang berasal dari langit atau beberapa dari yang lain nekat membiarkan tubuhnya terkena bulir hujan. Sementara aku. Aku memilih untuk menunggu hujan reda ditemani dengan secangkir kopi.

Di kedai kopi yang letaknya di sudut kota. Aku memilih untuk menikmati secangkir kopi. Merutuki hujan yang turun kian deras. Ini sudah cangkir yang ketiga. Tapi langit sama sekali tak memberi isyarat bahwa hujan akan reda. Malah kini ia turun dengan ganas. Tak bisakah ia paham kalau aku sama sekali tidak membawa payung, jas hujan atau apapun itu yang melindungi tubuhku agar tidak basah?

“Jangan pesan lagi kopinya. Itu sudah cangkir yang ketiga”

Aku terlonjak kaget. Menyudahi meneguk kopi yang masih tersisa di cangkir. Tapi lelaki itu, siapa? Bisa-bisanya dia memperingatiku. Tidak kenal lagi.

“Jangan pesan lagi kalau tidak ingin perutmu sakit.” Tambahnya.

Ah. Sekarang dia persis sekali dengan ibuku!

“Sudah berapa lama kau duduk di situ?” Tanyaku yang tidak ingin membahas pesanan kopi lagi.

“1 jam”

Aku melongo. Dia telah duduk lama di depanku. Dan aku sama sekali tidak tahu.

“Kau sibuk dengan lamunanmu. Jadi, yah makanya kau tidak tau.” Katanya

Aku mengangguk mengiyakan kalimatnya. Dan setelah cangkir kopi ketigaku habis. Akhirnya hujan reda namun masih menyisakan gerimis kecil. Aku yang tanpa banyak berpikir lagi keluar dari kedai, menembus jalanan yang hingar bingar. Meninggalkan lelaki misterius itu tadi di kedai.

***

“Bukankah sudah kuperingati untuk tidak meminum kopi terlalu banyak”

Aku melenguh. Bosan mendengar kalimat itu-itu lagi. Di rumah, di kantor dan sekarang di sini. Di kedai kopi!

“Ini kan kedai kopi. Yah, sudah sepantasnya aku memesan kopi!”

“Tidak ada salahnya kau memesan kopi di kedai kopi. Tapi masalahnya sebanyak ini..” katanya dengan jemarinya yang sibuk menghitung tiga cangkir di atas meja.

Aku tertawa, “Kau mau?” Ah sial. Kenapa harus kata itu sih yang keluar dari mulutku.

Dia tertawa pelan “Aku tidak suka kopi” katanya. “Dan hei kenapa kau begitu menyukai kopi?” Tanyanya.

“Karena menurutku kopi selalu jujur. Ia tidak pernah menyembunyikan rasa aslinya. Ia akan tetap pahit dan asam sekalipun sudah dicampur gula, vanilla latte atau moccacino sekalipun,” jawabku.

Lelaki dengan wajah pucat dan mata kelabu itu tersenyum. Dan untuk kali ini ia membawaku tenggelam dalam lautan obrolannya. Hanyut dalam setiap canda yang acapkali dilontarkannya. Ah, tapi mengapa seluruh pasang mata di kedai ini menatap kami dengan tatapan yang tak kuketahui tatapan apa. Tak bisakah pengunjung di kedai tersebut tahu. Jika ternyata dia orang yang menyenangkan untuk diajak bicara.

“Kenapa pengunjung di sini menatap kita dengan tatapan seperti itu, apa aku ini ada yang aneh?”

“Tidak, kau tidak aneh” katanya diselingi dengan tawa yang renyah.

“Sering kali aku ditatap oleh tatapan mata, yang yah.. Seperti itu. Ntahlah aku suka bertanya-tanya sendiri apa potongan rambutku ini salah atau bajuku tidak pantas untuk dikenakan atau kacamata ini terlalu aneh untuk wajahku,” kataku sambil membetulkan letak kacamata.

“Jangan begitu. Kau sama sekali tidak aneh. Yah kau tahu kan kita tidak bisa menyenangkan banyak orang”

“Mereka bersikap begitu karena mungkin mereka tidak melihat apa yang bisa kau lihat,” katanya sambil tersenyum.

Aku menghela napas. Dan jujur aku tidak paham maksud perkataannya yang terakhir tadi. Namun yang jelas, sebab karena lelaki ini, aku tinggal di kedai lebih lama, meskipun hujan telah lama reda.

***

Aku terbiasa dengan kehadirannya. Kehadirannya yang tiba-tiba muncul dan terduduk di kursi depanku. Atau dia yang tiba-tiba datang entah dari mana muncul dan berkata “Hai Stephanie” sambil melambaikan tangannya yang pucat.

Tapi hari ini tidak seperti biasanya. Biasanya ia langsung hadir ketika aku baru saja memasuki kedai. Tapi untuk hari ini, sudah hampir 2 jam dan ia sama sekali belum hadir.

“Hai Stephanie”

Ah pasti lelaki itu!

“Kau dari mana?” Sergapku.

“Kau menungguku?”

Diam tak ada balasan dariku.

“Mau pesan?”

Ia hanya menggeleng lemah.

“Kau Sakit?” Tanyaku ketika melihat wajah pucatnya dan bibirnya yang membiru.

Ia hanya menggeleng lagi.

Tidak ada pembicaraan di antara kami. Aku terlalu sibuk tenggelam dalam pikiran yang kubangun sendiri atau mungkin lelaki itu juga begitu?

“Ada menu yang ingin di pesan lagi mbak?” Tanya pelayan memecah keheningan.

“1 Kopi Capuccino dan…”  dan apa? Tanyaku. Aku bahkan tidak tahu minuman apa yang dia suka. Aku hanya tahu kalau dia tidak suka kopi.

“Dan apa lagi mbak?”

“Dan… hmm dan 1 green tea latte” tebakku yang disambut dengan tatapannya yang seolah berkata bahwa kalau ia tidak mau. Duh kalau begitu dia suka minuman apa?

“Eh sebentar mbak bukan green tea latte. Hmm kau maunya apa?”

Ia menggeleng lemah lagi.

“Tidak usah sungkan. Aku yang traktir”

“Mbak ini bicara sama siapa? Pesanannya untuk mbak sendiri aja kan?” Tanya pelayan itu dengan kening yang berkerut.

Bicara dengan siapa? Ah aku semakin tak mengerti. Jelas-jelas aku bicara dengan lelaki itu.

“Mbak hanya sendiri di meja ini.” Tambahnya.

“Benarkah?”

Pelayan itu hanya mengangguk lemah.

Deg. Ntahlah, tiba-tiba sekujur tubuh ini seperti membeku. Kaku. Meninggalkan jejak gigil di tubuh. Padahal di luar sama sekali tidak hujan bahkan cenderung terik. Tapi mengapa tubuhku bergidik. Sekarang aku tahu makna tatapan-tatapan pengunjung kedai. Ya. Tatapan penuh tanya. Dengan siapa aku berbicara di kedai?


Arum Melati Suci, atau biasa disapa Arum. Saat ini penulis sedang menuntut ilmu di Yogyakarta. Bercita-cita menjadi seorang Ahli Metrologi dan Penulis. Kecintaanya dalam dunia kepenulisan didasari keinginannya untuk berkarya lewat tulisan yang dapat bermanfaat bagi orang banyak. Jika ingin menghubunginya bisa melalui akun facebook: Arum Melati, twitter: @arummelatis atau melalui email: arumsucii@gmail.com

Facebook Comments