Ada kepulan asap rokok yang menutupi wajahmu. Rokok dengan merk yang itu-itu saja dari dulu sejak aku pertama kali mengenalmu. Rokok yang tidak pernah jauh dari jangkauanmu.

“Kenapa kamu begitu membenci hitam?” tanyaku. Aku meraih cangkir berisi kopi hangat dari atas meja tamu yang ada di hadapan kita lalu menyeruput isinya.

Tidak ada jawaban darimu. Kamu bisu, terlalu asyik dengan batang rokok yang sesekali terselip di antara kedua bibirmu kemudian lepas dan diikuti oleh kepulan asap yang seolah diproduksi dari dalam leher dan hidungmu. Kedua matamu menatap menembus jendela ruang tamu menuju air hujan yang sejak siang tadi ditumpahkan dari langit.

Aku meletakkan kembali cangkir kopiku ke atas meja lalu menoleh padamu. “Kamu sedang tidak ingin bicara?” tanyaku. Sebuah pertanyaan retorik karena aku sebenarnya sudah tahu dari dulu bahwa kamu tidak pernah mau berbicara denganku.

“Hmmm.” Hanya itu komentarmu. Tidak ada kata lain yang bermakna, tidak anggukan maupun gelengan kepala.

Yah, aku tahu kamu memang selalu tak banyak bicara. Tapi entah kenapa, hari ini aku yakin sekali kamu akan menjawab pertanyaanku. Pertanyaan yang selalu menggangguku sejak dulu; tentang kebencianmu pada hitam, warna kesukaanku. Tapi ternyata kamu masih saja bisu.

Aku berdiri, bersiap pergi seperti biasanya setiap kali gagal membuatmu mau berbicara padaku. Bersiap menemui kamar tidur kita yang selalu setia menantiku walau tanpa pernah ada kehadiranmu.

“Kenapa kamu begitu mencintai hitam?” Lima kata yang keluar dari mulutmu itu cukup untuk membuatku mengurungkan niat untuk meninggalkanmu.

Ada senyuman yang berusaha keras aku sembunyikan. Aku menatapmu, dengan ekspresi yang aku buat sedatar mungkin.

“Maksudmu?” tanyaku.

“Kamu itu perempuan. Kamu seharusnya menyukai warna-warna perempuan; pink, hijau muda, kuning, biru muda….” Kamu menggantung ucapanmu. Tapi itu sudah jauh lebih baik daripada bisumu. Dan aku menyukainya.

Senyuman itu akhirnya muncul juga di wajahku, tidak mau lagi disembunyikan.

Kamu mematikan api di puntung rokokmu lalu berpaling padaku. Tidak ada lagi kata-kata, hanya tatapan matamu yang sekilas menyapu ke arahku lalu berpindah ke bagian sofa yang tadi aku duduki. Tapi tanpa ada kata-kata pun aku tahu kamu menahanku, memintaku kembali duduk.

“Jangan menatapku seperti itu,” katamu kemudian sewaktu aku kembali duduk dan, dengan senyuman di wajah, tidak melepaskan pandangan darimu. Kamu lantas kembali memalingkan muka, tidak lagi menatapku.

Ya, kamu memang selalu tidak suka setiap kali aku memandangmu. Risih, katamu sewaktu hari itu aku tanyakan.

“Hitam itu hebat, Al. Warna apa yang kehilangan keindahannya jika disandingkan dengannya?” tanyaku.

Kamu kembali bisu. Tapi aku tahu kamu menanti kelanjutan ucapanku, karena bungkus rokok yang ada di hadapanmu itu tidak kamu sentuh sama sekali.

“Warna apa yang tidak cocok disandingkan dengan hitam?” tanyaku lagi. Kali ini kamu mengangkat bahu, menjawabku, walaupun tidak menatapku. “Itulah, Al. Aku ingin seperti dia. Aku ingin selalu bisa masuk ke komunitas apa pun, bergaul dengan siapa pun, tanpa membuat mereka tidak nyaman atau berpura-pura. Aku ingin berteman dengan siapa pun tanpa membeda-bedakan. Seperti dia. Dia tidak pernah membedakan, tidak pernah mengeluh dipasangkan dengan warna apa saja, entah itu sesama warna primer, warna sekunder, maupun warna tersier.”

Kamu tidak berkomentar, tidak juga berpaling padaku. Tapi kamu juga tidak menyulut batang rokok yang baru. Kamu masih menunggu kata-kataku selanjutnya.

“Padahal hitam itu kuat loh, Al. Dicampur dengan warna apa pun. Dia tetap menjadi hitam. Dia tetap dominan.”

“Abu-abu?” tanyamu.

“Ya. Itu juga kehebatannya, Al. Hitam itu kuat. Semua orang menganggapnya sebagai warna yang menggambarkan kekuatan, warna laki-laki. Dicampur dengan warna apa pun dia tetap menjadi dirinya. Tapi, ketika bertemu dengan pasangannya, dengan Putih, dia mau melebur, membentuk warna baru; abu-abu.”

Kamu menoleh. “Pasangan?” tanyamu, sedikit mencibir. “Dua warna yang begitu berbeda kok kamu sebut pasangan.”

“Memang pasangan itu seperti apa, Al?” tanyaku balik, tak melepaskan pandangan darimu.

Kamu tidak menjawab, hanya memalingkan muka, menghindari tatapanku.

“Buatku, pasangan itu tidak harus punya banyak kesamaan, Al. Apa asyiknya menikah dengan diri sendiri? Apa bagusnya warna hitam yang dipadukan dengan hitam? Bukannya mati? Bukankah lebih bagus jika hitam kita padukan dengan putih? Mereka saling mengisi; putih memberikan keceriaan pada hitam dan hitam memberikan kekuatan pada putih. Lebih bagusnya lagi, mereka bisa menghasilkan warna baru.” Aku menarik napas panjang. “Bukankah lebih indah kalo pasangan juga seperti itu, Al? Harus punya perbedaan supaya bisa saling melengkapi?”

Lagi-lagi tidak ada komentar darimu. Tapi, tetap saja tidak ada batang rokok yang kamu sulut. Artinya, kamu memperhatikanku, menantiku menyelesaikannya.

“Tapi setiap individu itu unik, Al. Jadi aku tidak akan memaksa kamu memiliki pola pikir yang sama denganku. Kamu bebas. Ini hanya aku saja. Aku percaya setiap pasangan itu pasti punya perbedaan, harus punya perbedaan agar dapat saling mengisi, saling melengkapi, saling melebur dan melahirkan warna baru seperti hitam saat bertemu putih.”

Kamu menelengkan kepala walaupun tetap bisu.

“Hitam itu juga membuat nyaman, Al. Malam itu selalu identik dengan hitam. Malam adalah waktu yang disediakan oleh Tuhan bagi makhluknya untuk beristirahat. Malam selalu bisa membuatku rileks, membuatku tenang, membuatku beristirahat, membuatku tidur, dan menghadiahiku mimpi.”

Aku masih menatapmu, dan untuk pertama kalinya menemukan senyuman di wajahmu. Kamu yang masih bisu.

“Aku ingin seperti itu, Al. Walaupun dulu kita tidak saling mengenal, walaupun kita berasal dari dunia yang berbeda yang secara mendadak dipertemukan dalam perjodohan yang diatur oleh orang tua kita, walaupun kita punya begitu banyak perbedaan, aku tidak ingin menyerah, Al. Kita sudah sampai di sini, kenapa harus berhenti? Kalo memang aku dulu sama sekali tidak mengenalmu, kenapa harus menyerah dan bukannya berusaha mengenalmu? Kalo memang dulu aku tidak mencintai kamu, apa sekarang aku harus tetap tidak mencintai kamu?” Aku berhenti sejenak dan beberapa kali menarik napas panjang. “Jadi, kenapa kamu begitu membenci hitam?” tanyaku.

Sekarang giliranmu yang menarik napas panjang. Kamu lantas menoleh padaku.

“Karena kamu begitu mencintainya.” Kamu menarik napas panjang lagi dan untuk pertama kalinya menatap kedua mataku. “Aku cemburu padanya. Aku mau cinta yang seperti itu. Dari kamu.”


Fina Mahardini, saat ini tinggal di Ternate, Maluku Utara. Tulisannya yang lain dapat ditemukan di blognya: myperfecttwilight.blogspot.com. Penulis dapat dihubungi melalui email fina.mahardini@gmail.com.

 

 

 

Facebook Comments