Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran orang lain yang selalu menatapku sinis seakan aku hanyalah virus cilik yang bisa mengancam nyawa mereka sewaktu-waktu. Padahal, aku hanyalah gadis biasa—lebih tepatnya anak kuliahan berumur sembilan belas tahun. Keseharianku tak begitu bervariatif, kupu-kupu—kuliah-pulang begitu seterusnya. Tidak bisa dikatakan sebagai manusia tertutup yang melewati seluruh kesehariannya di kamar, aku pun punya pacar tampan bernama Neo. Pacarku itu pria yang matang meski usia kami sama, dia seorang CEO pemilik sebuah perusahaan bonafit.

Jika kalian berpikir kisah kami seperti di negeri dongeng, tepislah jauh-jauh! Walau kami sudah menjalin hubungan selama empat tahun, Neo selalu bersikap dingin terhadapku. Menganggapku tak lebih dari sekadar pembantu yang tiap hari ia suruh seenak jidatnya, aku memang tinggal di apartemen miliknya—membersihkan ruangan, mengelap seluruh perabotan tapi tidak untuk memasak. Katanya,  aku ini seorang yang menjijikkan; jarang mandi, gosok gigi pun bila ingat, dan jarang keramas yang membuat rambutku kusut.

Aneh memang, jika menanyakan apa alasan laki-laki tersebut mau menjalin hubungan denganku. Namaku sendiri Aksari, sepuluh tahun terkurung dalam rumah sakit jiwa atas fitnah tidak beralasan yang dilontarkan penduduk desa. Hanya karena mereka mendapatiku seorang diri dengan pisau yang menancap di mata seekor kucing yang berada di pangkuanku—mereka menggiringku keluar rumah, menggelandangku menuju rumah sakit. Dan di sanalah aku merasakan penyiksaan yang bertubi-tubi; tanganku harus terikat, bibirku tersekap, dan jarum yang tiap hari menyentuh pergelangan tanganku hingga membekas sampai sekarang.

Lalu, empat tahun yang lalu alangkah adilnya sang Esa mempertemukan aku dengan seorang laki-laki bernama Neo. Di mana aku sempat meragukan kehadirannya di dunia ini, apakah dia nyata atau hanya sebuah ilusi yang kuciptakan sendiri? Dan Neo memang nyata, buktinya ia yang menyelamatkanku dari lubang kenistaan tersebut. Mengadopsiku sebagai kekasih sekaligus pembantunya, baik hati sekali bukan pacarku ini?

Aku yang saat ini menarikan jemariku di atas tuts keyboard laptop terhenti sebentar, pintu kamarku terbuka—menampakkan sebuah wajah frustasi itu lagi. Matanya terlihat merah dan kantung di bawahnya makin menghitam, “Pulanglah Aksari! Aku benci melihat wajahmu itu!” bentaknya. Ia mulai melempariku dengan barang-barang, aku hanya diam saja—tak merasakan sakit walau benda keras itu mengenai lengan dan keningku.

“Saya tidak akan pulang, di sini juga rumah saya!” pekikku pedih. Ia tersenyum sumbang, mengawasi penampilanku dari atas hingga bawah. Ia berjalan mendekat, membuat tubuhku beringsut mundur.

“Kamu kenapa? Takut sama saya?” katanya tersenyum jahat. Neo memang tidak pernah berubah, suka berbuat kasar dan seenaknya terhadapku. Tak pernah memikirkan masalah hati dan fisikku, yang ada di otaknya hanyalah image-nya sebagai pengusaha kelas kakap. Pernah suatu hari pria itu mengatakan apa alasannya mengadopsiku; hanya demi meraih sebuah penghargaan atas gemilangnya karier pria tersebut walau di usia muda.

“Buat apa saya takut sama kamu, kamu bukan Tuhan yang menciptakan saya,” balasku. Kami berdialog layaknya orang asing yang baru saja bertemu—formalitas yang selalu kami pilih walau dalam kalimat percakapan sehari-hari sekali pun. Tiap harinya, aku harus memanggil namanya dengan embel-embel “Lord.”

“Terserah Aksari, toh saya tidak akan menganggap kamu nyata adanya. Kamu hanya bayangan bagi saya, sudah sepantasnya kamu pergi!” katanya bersikeras mempertahankan argumennya. Aku hanya diam, menguatkan hati dari kata-kata pedas yang senantiasa keluar dari bibirnya. Sempat aku berkaca—apakah diriku seburuk itu untuk bisa dicintai orang lain? Lalu, mengapa Tuhan tak pernah menghadirkan kecantikan dan kemolekan pada diriku?

Ia pun kembali melangkah keluar, meninggalkanku sendiri dan berkawan dengan sepi. Hampa sudah perasaanku, jatuh cinta pada kekasih sendiri yang tak pernah menganggapku nyata. Dia selalu mengatakan jika diriku adalah bayangan—sebuah fatamorgana yang paling menakutkan. Padahal, aku ingin sekali menjadi aurora—cahaya yang membuat kolong lagit hitam menjadi lebih bermakna. Namun, laki-laki itu selalu berdalih jika manusia rendahan sepertiku tidak pantas berkhayal tinggi untuk menjadi sebuah bintang.

***

Malam ini, hujan turun dengan lebatnya, petir menyambar angkasa dengan kejam. Perasaanku panik kala Neo belumlah lekas pulang, dengan pikiran yang berkecamuk aku duduk di ranjang menunggu pria itu sampai datang.

Harapanku sepertinya terkabul, pernah dengar filosofi hujan? Intinya, doa yang terucap di antara derasnya hunjaman rinai bakal segera dikabulkan sang Esa. Malaikat tengah merotasikan bumi, melihat siapa saja tangan-tangan ringkih dan bibir mungil yang bertasbih dan berkecepak mengagungkan sang Esa—dan kali ini aku juga termasuk dari bagian mereka.

Pintu ruang utama terbuka lebar, namun lagi-lagi hatiku dikecewakan dengan fakta yang ada. Seorang laki-laki berjalan dengan tubuh tertatih dengan seorang wanita yang berpakaian serba minim, tangan mereka saling bertautan dengan kepala laki-laki itu menyender pada bahu si perempuan yang terbuka. Bahkan, aku pun sebagai kekasihnya tak pernah disentuh olehnya, Neo benar-benar keterlaluan.

Akhirnya aku berjalan ke hadapan mereka, menerjang tubuh mereka hingga tumbang ke ubin lantai yang dinginnya menusuk sampai ke sum-sum. “Aduh, sakit!!” rintih si perempuan memegangi pantatnya yang baru saja berciuman dengan lantai. Neo langsung menatap ke arahku, pandangannya begitu berkilat layaknya iblis dalam kegelapan. Ia berdiri mencekik leherku, namun lagi-lagi aku tak merasakan sesak napas persis seperti yang biasa kurasa saat menghadapi kekerasan fisik olehnya.

“Perempuan tidak tahu diri!” pekiknya. Kulirik perempuan yang hanya menatap kami pongah, bibirnya terbuka dan seakan terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya.

“Kamu yang tidak tahu diri! Kamu sudah punya saya, kenapa masih membawa perempuan lain di hadapan saya?” tanyaku dengan terluka. Ia tertawa hambar, suaranya mengisi kehampaan ruangan ini—menggelegar bertautan erat dengan geraman sang petir yang tengah membelah angkasa raya.

Entah karena pertengkaran kami yang terlalu menegangkan, perempuan itu lari terbirit-birit keluar rumah. Neo mendecak sebal, kemudian tak lama laki-laki itu tumbang ke lantai—mungkin kadar alkohol yang berada dalam darahnya sudah dalam ambang abnormal.

***

Jingga mulai terlihat di cakrawala, burung bul-bul muncul kembali. Terbang bersama kawannya, hendak mencari rezeki Tuhan hari ini. Kubuka tirai kamar sehingga membiarkan si kuning kunyit masuk ke dalam ruangan luas ini. Laki-laki itu masih terpejam dengan pakaian yang masih melekat di tubuh atletisnya. Aku tak berani menyentuhnya, sungguh! Aku tidak ingin tangan lebar itu mampir kembali di pipi tirusku.

Akhirnya, yang bisa kulakukan ialah meniup wajahnya agar ia terbangun. Kedua kelopak itu pun terbuka, netranya langsung menatap ke arahku. Namun, tak ada lagi kedinginan yang ada di tatapannya.

“Aksari, pulanglah…” katanya lembut. Bahkan, tangannya yang tak berhenti memukulku kini mampir di surai gelapku mengelusnya layaknya majikan terhadap anak kucing yang terluka. Aku menggeleng, bingung mengapa ia selalu menyuruhku pulang.

Prang!

Bunyi pecahan itu terdengar kala Neo membanting gelas berisi susu yang sudah kubuatkan untuknya. “Apa kamu bodoh? Atau kamu lupa? Kamu hanyalah fatamorgana bagi saya! Kamu bukan lagi bagian dari diri saya, Aksari kamu bukan manusia! Kamu hanyalah bayangan yang hadir setelah terpisahnya ruh dengan ragamu. Percayalah pada saya, saya.. saya hanyalah manusia yang secara kebetulan memiliki kemampuan istimewa untuk melihatmu,” apa yang ia katakan barusan? Fatamorgana? Bukan manusia? Lalu kenapa aku ada di dunia?

“Saya sadar, saya selalu salah selama ini. Mengekangmu hingga membuat kamu tertekan secara batin dan fisik. Tak ingatkah kamu, tentang jasad seorang perempuan yang ditemukan setengah tahun lalu? Perempuan berambut panjang dengan gaun merah muda yang tenggelam dalam bak mandi dalam keadaan lengan terkoyak?”

Aku mematung di tempat, memandanginya dengan tatapan berkaca-kaca. “Ya, itulah kamu! Kamu sudah mati setengah tahun yang lalu. Dan kamu adalah ilusi yang selalu hadir di hadapan saya, sekarang pulanglah..” pintanya sekali lagi.

Air mata itu mendobrak keras kelopak mataku. Bayangan seorang wanita yang menangis tersedu-sedan membayangi pikiranku. Wanita itu bergaun merah muda, menangis meraung-raung karena tak memperoleh kebebasan seperti yang ia inginkan. Lalu mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis mengiris pembuluh nadinya dengan silet, mengakibatkan darah mengucur deras memenuhi bak mandi di mana wanita itu berendam—dan itu adalah aku..


Linda Kartika Sari—lahir di sebuah desa kecil yang jauh di Pulau Jawa, gadis kelahiran tahun 2000 ini memulai menulis pada saat kelas 2 SMP setelah terpukau oleh karya sahabatnya. Salam literasi!

Facebook Comments