ISTIRAHAT KAWAN

sudah
istirahat kawan
bajumu berkata demikian
pernah kita sama-sama berjuang
kini sudah
istirahat kawan
kau dimana pun adanya
tengok sepatumu
suaranya terdengar parau
risau ia diseret ke jurang jelaga
penuh ular berbisa
bak dongeng-dongeng
yang diceritakan pemuka agama
sebelum tidurmu
cukup
istirahat kawan
lemah degup jantungmu meradang
lama-lama ia tak lagi terdengar
lama-lama ia terlantar
bahwa kita pernah melawan
semua jadi sejarah
lalu ini hari
istirahat kawan
dukamu mengalir dalam urat nadi
abadi sampai mati
ia nanti jadi mata air
dari air mata yang bernama;
janji
mimpi
angan
harapan
dari yang lemah
dari yang memikul takdir
lantas kini
istirahat kawan
hari sudah malam
sudah waktunya untuk tidur
kata ibu
.

Jeddah, 1 April 2017


 

TANAH KAMI

tanah bukan hanya milik penguasa
tanah bukan hanya milik juragan kaya
tanah bukan hanya milik cukong-cukong
tanah milik kami meski sepetak
kami berhak
tanah milik kami meski tandus
kami urus
tanah milik kami meski keras
kami bebas
di sini nanti kami dikuburkan
di sini nanti ada batu nisan
walau tanpa kembang
walau tanpa hiasan
tanah ini bukan tanah suci
tanah ini tanah kami
digemburkan dengan keringat dan air mata

Mekkah, 7 April 2017


 

CERITA BATU

batu
enggan
bersuara
angin berbisik untuk tunduk
batu tetap tabah
ia memaku ego
memaki keraguan
memangku waktu yang resah
gurat-gurat di atas batu berkisah
tentang hampa yang merana
jarak yang tak terukur
tak terukir
batu masih memberi bayang yang cukup
untuk melepas lelah
untuk berdua setelah sendiri
untuk setidaknya bercerita
kenapa kita sama-sama di sini.

Mekkah, 8 April 2017


KALA BERCERMIN AKU

kalau di cermin itu bukan aku
lalu bayang mana lagi yang kau anggap nyata?
atau mungkin benar bayang itu berkecamuk
merasa jenuh untuk dipaksa serupa
ada yang kalanya kelabu
enggan mewujudkan warna-warni
atau terkadang hanya semburat garis di muka tanpa emosi
lebam tetap ada namun tanpa sakit
simpul di bibir tetap jelas namun tak menjelaskan kata-kata
bahagia
biru
seribu musim
semu
bungkam
aku meragu
sebenarnya cermin hanya setengah meniru
mempermainkan tanda tanya
ia tak tahu apa-apa
harusnya ia tak pernah bertatap muka
bila memang setia menyerupai
harusnya ia tak segan memunggungi
bila memang ia tak berjarak
namun yang baik kadang menuntut terbalik
agar tak bingung aku mengenali wajah sendiri
agar bayang tetap datang kala dipanggil
agar tetap ada telinga yang mau mendengar
tanpa mengecam jerit

Doha, 10 April 2017


KERETA TUA

Kereta tua,
satu gerbong pula.

Kala malam tiba ia terkekau-kekau
mencari penghuni yang akan bercerita,
menyanyikan lagu pengantar tidur.

Kereta tua tak lagi mengantar emosi membuncah
dan lelap yang sejenak mengencani waktu kosong.

Ia tak usah lagi tersinggung
dengan perebutan kursi dan siapa yang berdiri.

Kereta tua dipaksa pisah dari relnya,
ia dulu tinggal di sana berharap tak mati-mati,
mencari nafkah.

Namun bahkan besi bisa rongsok,
tanah ramai bisa sepi,
hati terbolak-balik,
dan tempo menuntut untuk segera diperbaharui,
baik itu jarak atau rumah.

Rel tak lagi peduli,
kereta tua tinggal besi,
ia hanya ingin dipotong-potong
sesingkat-singkatnya,
secepat ia dulu berlari
menjemput dan memisahkan pesan-pesan.

Bosan ia berkawan batu-batu kerikil,
bercumbu debu-debu jenuh,
jauh melangkah dan akhirnya menyerah.

“Lumat saja lalu enyah
jadi sendok dan garpu.”

Begitu bisiknya, sebelum kembali berpasrah.

Rabat, 16 April 2017


Dilahirkan dengan nama Agus G. Ahmad. Agus karena lahir pada Agustus 1996. Menikmati masa kecil di Jakarta lalu merantau ke Malang dari SMP sampai lulus SMA. Sempat aktif di teater Sajadah Senja dan jatuh cinta dengan sastra. Kini diasingkan ke Maroko untuk mengambil Sarjana Studi Islam. Menggunakan nama pena: Inas Pramoda. Masih terus berproses dalam berkarya. Kumpulan puisinya bisa dibaca pada antologi puisi Purnama Merah (2017).
Email: inaspramoda@gmail.com
Facebook: Agus Ghulam Ahmad

Facebook Comments