Mendung memang membisikkan padaku untuk tetap di sini. Mereka berucap ada hal penting yang akan kutemukan di tempat ini. Tempat yang penuh kenangan menyakitkan. Ya,  tempat pertama kali kita bertemu dengan indah.

Bertahun-tahun lalu, aku dengan kacamata tebal berjalan menunduk ke bangku belakang sekolah ini. Sekolah elite yang sudah kudiami hampir tiga tahun. Dengan mata lelah mulai kubaca tulisan menjengkelkan yang ada di buku itu. Saat aku tenggelam oleh puluhan teori, kau dengan cueknya melempar kulit kacang yang sedang kau makan di atap pohon. Dengan satu kaki menjuntai ke bawah,  kau memberikan senyum tanpa dosa saat aku menatapmu.

“Ah, maaf. Kena orang lagi belajar ya..”

Setelah itu aku buru-buru menutup buku tebalku untuk pergi menjauh darimu. Namun kau segera turun dari pohon mangga itu lalu menarik tanganku, ”Orang pintar emang gak mengenal kata maaf ya?” tanyamu sambil memiringkan kepalamu.

Aku pun juga memiringkan kepala,  heran akan tingkah sok polosmu. Apa kau sedang berlakon? Kau dikenal paling brengsek di sekolah ini. Kau penakluk wanita, kau nakal, kau preman.

“Untuk apa aku memaafkanmu? Kau kan tidak sengaja melakukannya.”

“Kau peringkat satu kelas sebelah, kan?”

“Aku tidak punya waktu, tolong lepas tanganmu.”

“Ajarkan aku.”

Aku menatapmu seolah kau adalah orang gila. Ujian akhir tinggal menghitung Bulan dan kau minta belajar padaku dengan tatapan memohonmu.

“Aku tidak mau.”

“Oh begitu rupanya.. Lalu untuk apa otak cerdasmu itu? Untuk kau nikmati sendiri?”

Perkataan disertai mimik kecewamu membuatku tak enak. Tanpa sadar aku sudah terdampar di sini,  kembali duduk di bangku yang sama beberapa menit lalu,  denganmu.

Kau nampak bersungguh-sungguh saat kuajari teori-teori dasar dari buku tebalmu. Kau terlihat sangat polos jika begitu. Setelah waktu yang aku pun tak tahu berapa lama yang kita habiskan, kau berkata cukup.

“Wah, terima kasih ya. Kepalaku sudah pusing. Tapi.. Kau mau mengajariku kembali besok? Pulang sekolah lagi? Di sini?” katamu dengan senyum cerahmu. Kepalaku mengangguk tanpa kusuruh. Kau bertepuk tangan lalu menyalamiku.

“Mau kuantar pulang?” tawarmu.

“Tidak usah. Aku tinggal di asrama.”

Aku pergi setelah itu. Meninggalkanmu dengan bangku kusam itu. Tanpa kau tahu,  hatiku sangat riang menyambut pertemuan pertama kita. Pertemuan yang sangat berharga bagiku. Keesokannya aku kembali. Lagi-lagi hatiku merasa senang melihatmu di sana, duduk di bangku kusam itu dengan buku di tangan kananmu. Tanpa sadar aku memperbaiki anak-anak rambut yang berkeliaran, membuatku merasa tak cantik.

“Hei, aku membawa buku hari ini. Ayo belajar!”

Dan kita belajar, kau sangat cerdas, membuatku terkagum-kagum dengan kemajuan pesatmu. Aku ikut tersenyum saat kau tertawa lepas setelah berhasil mengerjakan sebuah soal. Acara belajar bersama kita akhiri saat kau memegang kepalamu dengan mimik mau muntah.

“Aku sumpek!”

“Baiklah.. Ayo istirahat.”

Kita diam. Matamu terpejam dan aku memperhatikan.

“Kenapa mendadak ingin belajar?”

Kau membuka matamu, “Aku hanya bosan. Aku ingin pintar dan berguna. Sepertimu.” sahutmu dengan sungguh-sungguh,  membuat darahku berdesir,  membuatku bertanya-tanya reaksi apa yang kurasakan.

“Oh ya.. Kita belum berkenalan secara resmi, aku Deva.”

Aku menatap uluran tanganmu di udara. Tangan yang akan kurindukan hari-hari berikutnya.

“Aku Rinai.”

“Namamu bagus.”

Aku tersenyum gugup karena senyum indahmu. Berkali-kali aku merapikan rambut, berusaha mengusir perasaan berdesir itu.

“Aku ingin jadi sepertimu.” ucapmu sambil menatap langit. Diam-diam aku memperhatikanmu lagi.

“Kenapa tidak dari dulu ingin jadi sepertiku?”

Kau menoleh,  matamu dipenuhi tekad keras saat mengatakannya, “Aku pertama kali merasakan ini… Kurasa seseorang sudah berhasil menginspirasiku.”

Tanpa sadar aku tersipu. Senyum manismu kembali muncul. Indah sekali.

Hari-hari berjalan indah setelah itu. Kita bertemu setiap hari sepulang sekolah, hanya ada kita. Aku tak menyesal menghabiskan soreku walaupun akibatnya aku dipanggil oleh guru karena nilaiku yang menurun. Senyumnya mengatakan semuanya, betapa indahnya berbagi. Kau baik sekali padaku, kau selalu belajar dengan rajin bahkan kau sangat sering meneleponku untuk menanyakan hal-hal yang membuatmu penasaran. Hal yang paling ku suka adalah saat kau membawa setangkai bunga yang tak sengaja kau temukan entah di mana dan memberikannya padaku. Kau tertawa saat aku tersipu dan aku akan merasa malu.

Ujian telah berakhir, kau dengan girang menunjukkan padaku hasil ujianmu. Aku tersenyum senang, walau aku sudah tahu. Kau juara dua di kelasmu. Semua guru bergiliran mengucapkan terima kasih padaku. Tapi bukan itu yang membuatku senang, kau yang tetap menginginkan pertemuan rutin kita, itulah yang membuatku senang.

Kau membuatku nyaman. Perkataanmu yang membuat jantungku nyaris meloncat. Jam yang sama, setiap hari, kita berjumpa di bangku kusam itu.

“Kau punya waktu besok?”

Ada. Aku terbiasa belajar saat hari minggu. “Tidak.” dustaku padamu.

“Mau tidak jalan-jalan denganku? Kau kan sudah mengajariku selama ini, aku ingin mentraktirmu.”

Tentu saja aku menolak mengatakan tidak. Kau akan menungguku di alun-alun besok dan kita akan pergi. Berdua saja.

Akhirnya hari itu tiba, setelah melewati malam yang sangat panjang dan tumpukan baju-baju jelek aku menunggu dengan riang di alun-alun. Kusenandungkan puisi cinta dalam hatiku. Cinta akan datang membawa bunga-bunga harapan, dengan Indah melangkah dan tersenyum, sungguh aku menantinya. Puisi itu masih tumbuh subur sampai sosok Deva berjalan ke arahku.

Dan harapan itu memakan hatiku. Harapan yang jahat telah tiba.

Deva menyapa namun aku masih terpaku pada gadis yang dibawanya. Gadis yang mengenakan tongkat dengan senyumnya yang terlihat bodoh.

“Rinai, ini Seli.” ucapmu, lalu meneruskan dengan setengah berbisik, “Si penginspirasi.”

Dengan tegar kupegang ujung hati yang retak dengan sebuah senyum palsu.

“Oh. Hai.”

Dan gadis yang bernama Seli itu membalas sapaanku namun melihat ke arah pepohonan di seberang. Dia buta. Dia buta dan apa yang coba kau lakukan, Dev? Untuk apa kau belajar rajin? Untuk mengobati matanya? Ingin kuteriakkan kalimat itu di depanmu namun aku tak seberani itu. Kau tahu aku pengecut. Aku si pintar yang pengecut.

***

Kursi ini semakin dikikis usia. Kursi tua. Pohon itu sudah tidak ada. Dan aku masih di sini, tempat pertama kita bertemu. Aku pun bingung, untuk apa aku kembali. Untuk menatap bayang indahmu yang membuat sakit? Atau hanya untuk mengenang masa lalu sebagai empedu pahit? Namun aku tetap di sini. Dan akhirnya kau datang membawa anak kecil tak berdosa yang menatapku penuh ingin tahu.

“Hei!”

“Hai.” sebuah senyum palsu cukup untuk membuatmu berpikir bahwa aku baik-baik saja. Kau mendekatiku, “Ayo sayang.. Kenalan sama Tante Rinai..”

Aku tersenyum pada anakmu yang menyapaku malu-malu. Lalu kau duduk di sampingku. Bertanya apa pun yang kau bingungkan, menceritakan kehidupanmu, dan hal-hal yang sesungguhnya aku benci. Mungkin aku akan sangat gembira jika itu sepuluh tahun lalu, saat kita masih berseragam SMA.

Aku tidak membenci anakmu. Aku tidak membenci Seli. Seharusnya aku tidak membenci Seli. Sesungguhnya kau yang pantas kubenci. Seli adalah wanita pertama, sang inspiratormu. Lalu kau berpindah pada Luna, yang membuatku harus mengajarimu piano. Memang benar, kau suka mempermainkan wanita. Seharusnya aku menjauh, namun gagal. Betapa bodohnya aku sempat berpikir untuk membuatmu berubah menjadi seorang pria yang lebih baik. Dan betapa bodohnya hatiku yang tiba-tiba begitu membenci Seli. Jika ingin, seharusnya hatiku membenci orang yang pernah mendapat perhatian lebihmu, senyum indahmu dan tatapan hangatmu.

“Kamu tidak rindu dengan Luna?”

Aku menggeleng. Aku tidak pernah merindukan wanitamu. Aku hanya selalu merindukanmu.

“Sudah punya calon? Atau berencana menjadi janda kembang?” tanyamu lagi disertai kekehan. Anakmu hanya diam memperhatikan.

Aku menggeleng.

“Mau menjadi istri keduaku?”

Aku mengangguk. Kau terlihat kikuk.

“Tidak lucu, Rinai…”

“Salahmu bertanya.”

Kau mengacak rambutmu, “Kapan kau akan menikah?”

“Aku menunggumu.”

Jawaban yang seharusnya tak muncul, namun aku tak menyesal. Kau terdiam, “Tidak, Rinai.. Jangan menungguku. Aku tak pantas untukmu.”

Aku menatap wajahmu. Ingin kutanya alasanmu menolakku, namun kau pasti akan berkata ‘aku tak pantas untukmu’ dan aku benci untuk mendengar itu sekali lagi. Kau yang hanya menganggapku teman, atau adik, atau guru, atau apa pun itu yang kau jadikan alasan, merasa tak pantas untukku. Namun kau tak pernah benar-benar melepaskanku. Kau selalu mengajakku bertemu, jalan-jalan bersama, bernostalgia, kenapa? Kenapa kau selalu mengajakku bertemu padahal kau ingin aku melupakanmu? Kenapa kau mengajakku jalan-jalan bersama? Bagaimana aku bisa melupakanmu? Kau tahu benar bagaimana perasaanku, kau tahu benar bahwa aku tak bisa menolakmu. Tapi kenapa?

Namun kau tetap orang baik. Kau tetap selalu terlihat baik di mataku. Kau buruk namun kau selalu terlihat istimewa. Aku benci, aku benci karena jatuh terlalu dalam untuk sebuah cinta sepihak ini. Dan aku terlalu sulit untuk bangun karena belenggumu. Kau sangatlah jahat. Namun aku tetap menyukaimu. Itulah bagian buruknya, kenapa hatiku begitu buta?


Durroh Halim, lahir di Pamekasan, 21 April 2000. Sudah berumur tujuh belas tahun dan sedang menuntut ilmu di SMAN 1 Pamekasan. Bercita-cita menjadi psikolog dan penulis. Suka membaca, berkhayal dan mendengarkan lagu melow. Gadis yang memiliki prinsip ‘hadapi dunia dengan senyuman’ ini mulai menulis saat usianya empat belas tahun dan akhirnya menjadi kecanduan. Jika ingin menghubunginya bisa melewati akun facebook dengan nama akun Durroh Haliim atau nomor HP 082333531061.

Facebook Comments