Rumah mungil itu kupandangi untuk terakhir kalinya. Aku berdiri mematung di depan pagar rumah yang banyak meninggalkan kenangan untukku itu.

”Ayo, Dik!”

Aku menoleh. Mas Andri, laki-laki yang telah melingkarkan cincin tunangan di jari manisku, mengulurkan tangannya, mengajakku beranjak dari kenangan. Aku menyambut uluran tangannya lalu ikut melangkah di sisinya, meninggalkan rumah mungilku jauh di belakang.

***

”Bangun, Dya. Lihat siapa yang datang!”

Aku, dengan malas, membuka mataku. Ibu duduk di tepi tempat tidur, wajahnya nampak bahagia. Di belakang ibu, bapak berdiri dengan sebuah kado di sebelah tangannya.

”Bapak!!!” Aku langsung melompat bangun dan menghambur ke gendongan bapak. Wangi parfum bapak langsung merasuki hidungku. Aku selalu kangen dengan wangi ini. ”Bapak bawa apa?” tanyaku.

Bapak menurunkan aku ke atas tempat tidur lalu duduk di hadapanku.

”Ini hadiah spesial buat anak bapak yang paling cantik yang sekarang sudah mau SMP,” kata bapak sambil menyerahkan sebuah kado yang dari tadi ada di tangannya.

Dengan cepat aku membuka kado itu. Sebuah buku yang lumayan tebal langsung nampak begitu kertas kado aku sobek.

”Asik! Dya punya buku baru!!” teriakku girang. Ibu yang duduk di sisiku cuma tersenyum.

Ibu berdiri setelah mengacak rambutku. ”Aku bikinin teh hangat ya, Pak,” katanya sebelum melangkah keluar kamar.

***

Aku mendaratkan diri di atas kursi penumpang dekat jendela. Mas Andri duduk di sisiku. Sebuah tas yang cukup besar memenuhi pangkuannya.

”Sudah minum obat anti mabuknya?” tanya Mas Andri. Aku menjawabnya dengan anggukan. Dia tersenyum lalu merentangkan tangannya, menarikku ke dalam pelukannya.

Bus yang kami tumpangi mulai melaju meninggalkan terminal.

***

Aku sedang asik dengan buku baruku sewaktu bapak masuk ke dalam kamar. Sebuah jaket sudah melekat di tubuhnya.

”Bapak mau pergi sekarang?” tanyaku.

”Iya, Sayang. Bapak harus bekerja.”

”Memangnya bapak nggak bisa ambil cuti lebih lama? Masak bapak cuma di rumah dua hari? Dya masih kangen sama bapak,” kataku sedikit sewot. Aku memang paling tidak suka kalau bapak pergi, karena bapak baru akan pulang sebulan lagi.

”Maaf, Nduk. Bapak nggak bisa.” Bapak mencium kedua pipiku, keningku, hidungku, lalu turun ke janggutku. ”Bapak sayang sama Dya,” bisiknya sebelum kemudian menggendongku keluar kamar.

***

Keadaan di luar jendela bus mulai gelap. Matahari sudah pulang, meninggalkan sisa pekerjaannya pada bulan dan bintang.

Aku memalingkan pandangan dari jendela. ”Mas,” panggilku pada Mas Andri. Dia menoleh.

”Apa, Dik?”

”Kalo nanti ketemu bapak, aku harus ngapain?”

Mas Andri tersenyum. ”Kamu bakal tahu sendiri nanti.”

Kami lantas diam buat sesaat.

”Mas,’ panggilku. Aku menempelkan tanganku di jendela. ”Aku sudah lupa wajah bapak,” kataku.

Mas Andri tidak berkomentar. Dia mempererat pelukannya.

***

Ibu urung memasukkan nasi yang sudah dia sendok ke dalam mulut. Ibu menatapku. Kedua matanya berkaca-kaca.

”Bu, kenapa sih bapak hanya pulang sebulan sekali?” tanyaku lagi, mengulangi pertanyaan yang sama yang sebelumnya terlontar.

”Bapakmu kan harus bekerja, Nduk,” jawab ibu.

”Bapaknya Tari juga bekerja, tapi setiap hari pulang.” Aku memainkan nasi dan orak-arik telur yang ada di piringku. ”Bapaknya Lusi juga bekerja di luar kota. Tiap minggu pulang. Kenapa Bapak nggak bisa?”

”Sudah. Cepat habiskan makananmu!”

”Ugh, kenapa sih Dya nggak punya bapak seperti temen-temen Dya yang lain?” tanyaku sambil membanting sendok ke piring. Aku lantas melangkah cepat ke dalam kamar dan menjatuhkan tubuhku ke atas tempat tidur.

***

Aku terbangun sewaktu telpon genggam yang ada di dalam saku Mas Andri bergetar. Dia melepaskan pelukkannya.

”Halo?” kata Mas Andri begitu menekan tombol terima. ”Besok? Aduh, aku nggak bisa, Ram. Ini aku dalam perjalanan ke Solo. Iya, mengantar Dya pulang.” Mas Andri diam sejenak. ”Aku balik ke Malang hari Minggu malam. Iya. Maaf, ya?”

”Siapa, Mas?” tanyaku.

”Rama. Dia minta tolong aku buat nganter dia ke Batu besok.” Mas Andri memasukkan telponnya ke saku.

Aku memalingkan wajah ke jendela, menatap ke arah kegelapan malam.

Mengantarku pulang? tanyaku dalam hati.

***

Pandanganku tiba-tiba kabur oleh air mata. Aku tidak bisa bergerak, rasanya tubuhku membatu. Tak jauh di depanku, di dekat sebuah ayunan, bapak merangkul seorang wanita cantik. Seorang anak perempuan seusiaku tertawa saat ayunan yang dinaikinya didorong oleh bapak dan wanita itu. Dia nampak senang sekali, sama seperti aku jika ada di dekat bapak.

Keinginanku untuk bertemu bapak yang tadinya berapi-api langsung padam. Apalagi ketika anak perempuan itu, di antara derai tawanya mengatakan, ”Ayah, Bunda, jangan keras-keras! Adik takut!”

Padahal aku sudah tidak jajan selama satu bulan biar bisa ikut acara piknik sekolah ke Solo, ke kota tempat bapak bekerja. Padahal aku sudah berusaha mati-matian memisahkan diri dari rombongan piknik sekolah biar bisa bertemu bapak. Tapi, kenapa seperti ini?

Aku tidak mampu menggerakkan kakiku mendekati bapak. Aku bahkan tidak sanggup lagi bernapas. Aku langsung mati. Ya, aku mati.

***

Hanya lampu-lampu kota yang dapat kulihat melalui jendela bus yang berembun karena di luar hujan turun dengan deras. Aku mengganti posisi tidur, semakin masuk ke dalam pelukan Mas Andri.

”Mas ambilin selimut dari tas ya, Dik?” tanya Mas Andri menawari saat aku semakin menyesak ke pelukannya. Aku menggeleng.

”Aku pengen pulang, Mas,” bisikku sambil berusaha menahan air mataku supaya tidak jatuh.

”Iya, ini kan kita pulang,” jawabnya sambil membelai kepalaku.

Pulang? Aku bertanya lagi di dalam hati. Bukankah rumah adalah tempat dimana kita selalu dilingkupi oleh cinta yang tulus, yang tidak berdusta?

***

Bekas tamparan ibu tadi sore masih terasa panas di pipiku. Semuanya serba tidak terduga. Bapak dan keluarganya di Solo, sambutan ibu, semuanya. Dua hari ini benar-benar penuh kejutan. Aku pikir, saat aku memberitahu ibu tentang apa yang kulihat di Solo, ibu akan kaget dan menangis. Tapi, ibu justru marah, menamparku, dan menuntutku mencabut kata-kataku bahwa aku membenci bapak.

”Aku benci bapak! Aku benci bapak! Aku benci bapak!!!” teriakku di depan ibu tadi sore, semakin keras, semakin panjang, namun semakin menyakiti hatiku sendiri.

***

Sebuah wajah tersenyum aku gambarkan dengan telunjuk di jendela bus yang berembun.

”Jelek banget gambar kamu,” cibir Mas Andri.

”Ah, biar!” jawabku.

Mas Andri mengulurkan tangannya melewatiku dan menggambar wajah tersenyum di sisi gambarku lalu melingkari kedua gambar itu dengan gambar hati.

”Ih, kayak anak SMA!” cibirku.

”Biarin! Biar awet muda!”

Aku tersenyum. Kedua mataku menatap keluar jendela. Ada patung semangka yang besar di pinggir jalan tadi dan sekarang pinggir-pinggir jalan dipenuhi penjual semangka.

”Masih di Sragen, Dik. Tidur dulu saja. Nanti tak bangunkan,” kata Mas Andri.

”Udah nggak ngantuk, Mas,” jawabku tanpa melepaskan pandangan keluar jendela bus.

***

”Dya sayang, lihat! Bapak bawain semangka tanpa biji kesukaan Dya.”

Aku menarik guling untuk menutupi telingaku. Aku tidak mau mendengar suara bapak. Aku benci bapak. Aku benci!

”Loh, kok telinganya malah ditutupi?”

Aku merasakan bapak duduk di tepi tempat tidurku. Air mataku langsung tumpah. Ya Tuhan, aku tidak bisa membencinya. Aku begitu menyayanginya. Ini terlalu menyakitkan. Aku terisak-isak.

”Dya, kenapa menangis, Sayang?” Bapak membelai rambutku.

Dengan kasar, aku menepiskan tangan bapak.

”Aku benci bapak!” bentakku.

Bapak langsung berdiri, aku bisa merasakannya tanpa harus menoleh. Aku bahkan bisa merasakan bahwa bapak merasakan sesuatu; aku sudah tahu. Bapak lantas meninggalkan kamarku. Tak lama aku mendengar perbincangan bapak dan ibu yang diselingi isak tangis ibu di kamar sebelah.

”Kamu sudah bilang ke Dya?” tanya bapak dengan suara yang dipelankan, sangat dipelankan agar aku tidak mendengar. Namun, dinding dari papan bukanlah penahan gelombang suara yang bagus.

”Tidak, Mas. Dya minggu lalu ikut piknik sekolahnya ke Solo. Dya bilang, dia melihatmu dengan Mbak Nik dan Dini.”

Hatiku makin teriris-iris sewaktu mendengar jawaban ibu. Ternyata ibu mengenal wanita itu. Ternyata ibu tahu tentang hubungan bapak dan wanita itu. Aku ditipu! Ibu menipuku! Bapak menipuku!

***

Tangan Mas Andri menangkapku sewaktu aku melompat turun dari atas bus. Solo sudah lumayan ramai, padahal masih subuh. Lama sekali aku tidak ke kota ini. Terakhir kesini, sewaktu piknik SMP dulu. Ya, lama sekali.

”Yuk.” Mas Andri mengajakku menyeberangi jalan raya yang ada di depan Rumah Sakit.

Langkahku terasa berat sekali. Aku belum siap ketemu bapak.

***

Sudah hampir lima tahun bapak tidak pulang. Aku merasa sudah mulai terbiasa dengan ketidakhadirannya. Biarlah. Aku toh tidak membutuhkannya.

”Dya, sudah makan?” tanya Ibu seraya membelai kepalaku.

”Sudah,” jawabku pendek.

Ibu tersenyum, lalu duduk di atas tempat tidurku.

”Ini foto waktu ibu pertamakali ketemu sama bapak dulu.” Ibu mengulurkan sebuah foto ke arahku, meletakkannya di atas meja belajar yang ada di hadapanku. ”Waktu itu ibu baru lulus SMA dan bapakmu sedang tugas kuliah di sini.”

Aku menoleh, menatap ibu dan menemukan senyuman mengembang di wajahnya. Tapi, kedua matanya berkaca-kaca membendung tangis.

”Ibu belum pernah begitu mencintai laki-laki seperti ibu mencintai bapak.” Ibu menarik napas panjang. ”Bahkan saat bapak bilang pada ibu kalau bapak sudah punya keluarga di Solo,” lanjutnya. ”Mungkin ibu salah. Tapi, ibu nggak peduli. Asal bisa memiliki bapak, itu sudah cukup buat ibu.”

Air mata mulai berlinangan, menetes dari kedua mata ibu yang indah. Aku hanya diam menatapnya.

”Bapakmu nggak salah, Nduk. Ibu yang salah. Seharusnya ibu nggak memulai semua ini. Bapakmu itu sayang sekali sama kamu. Kamu jangan benci sama bapakmu lagi ya, Nduk.”

Aku banjir air mata dan langsung memeluk tubuh ibu dengan erat.

***

Langkah kakiku semakin terasa berat sewaktu mendekati kamar tempat bapak dirawat. Aku menghentikan langkah sebelum sampai di pintu.

”Kita pulang saja, Mas,” kataku.

”Ini kan kita pulang,” katanya. Dia tersenyum.

Sejak awal, memang Mas Andri yang membujukku untuk rujuk dengan bapak. Sewaktu ibu meninggal dulu, bapak datang menjemputku dan mengajakku pulang ke Solo. Tapi rasa benci yang waktu itu menguasaiku membuatku menolak bapak. Aku bahkan mengusir bapak. Waktu itu, maksudku, sejak itu, mas Andri tidak pernah berhenti membujukku.

”Kamu masih marah sama bapak?” tanya Mas Andri.

”Aku takut, Mas. Bagaimana kalo istri bapak membenciku?”

”Nggak, Dik. Bukannya bapak dulu sudah bilang sama kamu tentang itu?”

”Kita pulang saja, Mas,” pintaku.

Mas Andri meraih sebelah tanganku, setengah menyeretku ke depan pintu kamar bapak.

”Yuk,” ajak Mas Andri. Tangan kanannya meraih pegangan pintu dan memutarnya. ”Ayo masuk.”

Aku menghentikan langkah di depan pintu, membiarkan Mas Andri masuk sendirian.

”Assalamu’alaikum.” Mas Andri mengucapkan salam. Senyuman menghiasi wajahnya.

”Wa’alaikumsalam.”

Aku mendengar suara seorang wanita menjawab salam Mas Andri. Suaranya semerdu suara ibu.

***

Seharian tadi aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya duduk lemas di sisi jenasah ibu dan menguras air mataku. Kemarin sore ibu meninggalkan aku untuk selamanya setelah satu minggu dirawat di rumah sakit. Kata dokter, lambung ibu sudah rusak makanya setiap kali buang air besar selalu disertai darah. Ibu tidak pernah mengatakan padaku kalo sakit. Setahuku ibu memang sakit maag, tapi aku tidak tahu kalo separah itu.

”Dya.”

Aku mendengar suara bapak memanggilku, tapi aku enggan membuka mata. Aku sedang tidak ingin meninggalkan tempat tidur ibu. Aku takut kalau aku menoleh sebentar saja, bau ibu sudah akan hilang saat aku kembali.

”Nduk, kamu harus makan. Kamu belum makan dari kemarin kan?” Bapak duduk di sisiku, membelai kepalaku. ”Ini bapak bawakan makanan. Kamu makan ya, Nduk.”

Mungkin lebih dari satu jam bapak duduk di sisiku, mencoba membujukku untuk makan. Aku akhirnya menyerah. Aku duduk di atas tempat tidur ibu, di hadapan bapak dan mencoba menghabiskan makananku.

”Dya ikut bapak pulang ke Solo ya?” Bapak memijit sebelah kakiku.

Aku menarik kakiku dari genggaman tangan bapak tanpa mengucapkan sepatah kata. Perlahan aku mengunyah makanan yang ada di dalam mulutku perlahan dan menelannya. Pulang? Memangnya bapak tidak berpikir bagaimana tanggapan istri dan anak-anaknya nanti kalau aku, anak dari wanita yang mengganggu rumah tangga mereka, tiba-tiba datang dan masuk ke dalam keluarga mereka?

”Bunda dan Mbak Dini juga minta kamu pulang ke Solo.”

Pulang? Rumahku kan di sini. Di sinilah aku akan selalu pulang, bukan kemana-mana.

Piring yang isinya tinggal setengah aku letakkan di meja belajar yang ada di dekat tempat tidur. Aku lantas kembali menjatuhkan kepalaku ke atas bantal dan memunggungi bapak, tidak mengucapkan sepatah katapun.

***

Mas Andri berbalik ke arahku. ”Ayo, Dik.”

”Dya, ya?” tanya suara wanita tadi dari dalam kamar.

Tak lama, wanita itu istri bapak, menyabutku. Ada senyuman lebar di wajahnya yang cantik, yang belum banyak berubah dari sejak aku melihatnya dulu.

”Kamu sudah besar ya? Bapak benar. Kamu mirip sekali sama Dini,” kata istri bapak. Beliau melangkah cepat ke arahku lalu memelukku erat dan membimbingku masuk ke dalam kamar, seolah tahu ada beban berat yang menggelayuti kedua kakiku. ”Bapak belum bangun. Semalem nggak bisa tidur nungguin kamu,” istri bapak bercerita dengan senyuman menghiasi wajahnya.

Sekali lagi aku meghentikan langkah. Kedua mataku menatap ke arah bapak yang sedang terbaring di atas tempat tidur. Selang infus menancap di dekat pergelangan tangan kanannya. Wajahnya nampak pucat, tetapi garis-garis ketampanan yang dulu sangat aku sukai masih ada di sana.

”Dya?” panggil bapak, setengah bertanya, seakan tak percaya aku ada di hadapannya.

”Bapak,” panggilku.

”Sana. Bapak dari kemarin sudah ngengen-ngen[1] meluk Dya,” kata istri bapak. Beliau melepaskan tangannya dari tubuhku.

Setengah berlari, aku mendatangi bapak dan memeluknya erat. Kebencianku langsung menguap, digantikan oleh rasa rindu yang sangat tebal. Aku menangis di pelukannya.

”Maafin Dya, Pak. Dya nggak pernah benci sama bapak. Dya sayang bapak.”

”Maafin bapak ya, Nduk. Bapak seneng Dya mau pulang.”

”Iya, Pak. Dya pulang.

 

[1] Berangan-angan (Jawa)


Fina Mahardini. Penulis tinggal di Ternate, Maluku Utara. Staf Pengajar di Poltekkes Kemenkes Ternate, lulusan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hubungi penulis melalui email: fina.mahardini@gmail.com

Facebook Comments