Sabtu malam di ambang pintu. Rinai hujan tak menggentarkan hati nuraniku walau sekadar untuk menutup pintu. Biarlah. Di sini hanya ada aku dan pilu yang telah menewaskan seluruh kebahagiaanku. Tanpa satu orang pun yang tahu jika aku terpenjara akan kesendirian. Ayahku terlunta-lunta di belahan jalan raya kota karena gila. Gila karena ibuku yang selalu menyiksa batinnya dengan berpaling pada pria yang lebih kaya. Semata hanya untuk menjamah isi dompetnya lalu pulang dan kembali mencari pria yang berbeda di kemudian hari. Mengabaikan anak dan suami.

Jika Tuhan memberiku pilihan, maka aku ingin menjadi gila. Gila bersama ayah lebih indah daripada terserang penyakit sepi yang mulai menggerogoti tubuhku saat ini, hingga tak disangka membuatku terobsesi akan lompatan bebas dari lantai atas.

Melacur bersama wanita itu? Kurasa bukan pilihan yang bagus. Sambil menunggu wanita paruh baya itu pulang aku selalu berdoa. Kuatkan dia jika aku tiada. Entah mengapa hanya kalimat itu yang kupanjatkan sebagai doaku setiap waktu. Hidupku benar-benar menjadi abu pasca perselingkuhan kekasihku minggu lalu. Ah, sudahlah. Aku lekas banting pintu.

***

Sayup-sayup terdengar suara teriakan wanita paruh baya. Dia ibuku. Kembali untuk meminta ini dan itu. Sebagai anaknya, diriku serupa layaknya pembantu, selalu dicekoki dengan wejangan kasar syarat akan kebencian. Dia mendekat menanyakan sesuatu. “Mana lotion anti nyamuk yang kemarin ibu minta?” Tangan kanannya terulur sebagai tanda jika dia membutuhkan barang tersebut.

Aku memang tidak lupa untuk membelinya, tapi semalam hujan mencelaku dengan mengundang kilat dan guntur untuk berteman. Mereka tidak sendirian. Aku menundukkan kepala merasa bersalah, “Aku nggak beli lotion itu, Bu. Semalam hujan.” Hujan dan sendirian.

“Apa gunanya payung jika bukan untuk memenuhi keperluan yang lain saat hujan. Dasar anak nggak berguna!” Tenang saja. Tenang. Bentakan itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Jadi, selagi bisa dinikmati telan saja seorang diri.

Merasa kesal akhirnya wanita itu pergi. Dan meninggalkanku seorang diri, lagi.

***

Kulangkahkan saja kaki ini menelusuri jalan menuju warung Bi Surti. Di sana aku bisa menanyakan kabar apakah ayah masih sering menyisiri jalan sekitar deretan warung mulai dari milik Bi Surti sampai simpang jalan di ujung sana. Sangat menyedihkan, mengasuh ayah saja aku tidak bisa. Camkan jika aku anak durhaka.

Bibi Surti datang membawa kardus minuman, “Eh, si cantik. Ada apa nak, tumben kemari?” Aku tersenyum kecut mendengar ujarannya karena aku paham di dalamnya tersirat maksud jika aku telah lama tak memperhatikan kondisi ayah.

“Ini, lho Bi. Aku mau tanya, apa bibi masih sering lihat ayah sekitar sini?” Langsung saja tanpa basa-basi.

“Walah, Nak. Dia makin susah disuruh menepi. Kadang suka tidur di tengah rel kereta api.” Tukasnya memberi informasi.

Tentu saja aku terperanjat mendengarnya. Setelah pamit dan mengucapkan banyak terima kasih, aku bergegas mencari di mana keberadaan ayah saat ini. Aku berjanji akan membawanya pulang ke rumah apapun yang terjadi. Sebagai penawar luka hati yang sepi.

***

Sudah setengah hari aku mencari, namun hanya ketidakpedulian yang kudapati. Tidak ada yang mengetahui dengan pasti di mana ayah pergi. Kini aku berdiri di pinggiran rel kereta api, terus menelusuri panjang rel yang membentang di jalan ini.

Sampai senja menghampiri tak kunjung ayah kutemui. Teriakanku menjadi-jadi karena rasa sesak di hati kian tak mampu kuatasi.

“AYAAAAH…AYAH DI MANA?”

“AYAH, AKU RINDU PADAMU, YAH”

“Hiks…hiks….” Harus bagaimana lagi aku mencari pelipur lara yang membuat jiwaku tak lagi sepi. Isak tangisku semakin menjadi, kerumunan orang di ujung sana sangat tak membantu perasaan ini. Sekarang, aku hanya butuh obat itu. Ya, obat pereda rasa sepi, terjun bebas dari lantai atas.

Berbalik. Seperti ada magnet yang kuat memutar tubuhku yang tak lagi berat. Di tengah rel kereta yang telah kulalui ternyata kudapati ayah sedang berdiri.

Ya. Di sana ayahku berdiri. Dan juga ada kereta api yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Lekas aku berlari menghampiri.

“AYAH”

“Minggir ayah, di sana ada kereta.”

“Minggir, yaaaah!” Terus saja kuteriaki tak henti-henti. laju lariku semakin melamban di saat seperti ini. Butuh lima langkah lagi dan akhirnya punggung itu berhasil untuk menepi. Hanya saja raga ini yang terserang ganasnya ular panjang berbadan bongkahan besi.

Apakah aku sudah mati?

Rasanya aku bisa melayang saat ini. Mungkin saja aku baru mengonsumsi obat candu yang beberapa hari lalu membuatku terobsesi.

Obat candu itu adalah bunuh diri. Dan kini aku telah mati, mengakhiri semuanya sampai di sini. Menggugurkan penyakit hati yang telah lama menggerogoti. Tapi Sayangnya, setelah mati jiwa dan ragaku tetap sepi.

 


Nama saya Devi Tasyaroh. Berasal dari Serang, Banten. Keseharian saya sebagai mahasiswa di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Kelahiran Serang, 18 Desember 1997. Sebagai seorang muslim dan anak sulung dari tiga bersaudara. Sedangkan hobi saya adalah menulis. Media social Facebook saya adalah Devi Tasyaroh.

Facebook Comments