Saat itu semburat jingga mulai pudar, dan angin berdesir pelan. Aku berjalan pelan sambil menyanyikannya. Sebuah nyanyian sederhana yang diciptakan ibuku.

“Tunggu.” Suaramu yang lembut menghentikanku. Itu adalah awal pertemuan kita. Aku masih mengingatnya, kau terlihat cantik dengan topi merah dan dress birumu saat berjalan menghampiriku. Bisa kulihat usiamu sama denganku. Kau memintaku untuk menyanyikannya lagi, tetapi aku menolaknya karena kabut malam mulai menghiasi langit. Wajah cantikmu menunjukkan kekecewaan dan itu membuatku merasa bersalah. Dengan ragu aku menyanyikannya untukmu.

Kau terus memejamkan mata saat mendengarnya. Sesekali tanganmu mengayun seperti pemimpin orkestra. Bahkan ketika aku selesai, matamu masih saja terpejam. Entah mengapa aku melihat kedamaian menyelimuti wajah ayumu. Aku kagum sekaligus iri melihat kecantikanmu. Walaupun usia kita sama kau terlihat seperti gadis remaja umumnya, sementara aku seperti gadis kecil.

“Nyanyian yang indah.” Akhirnya kau membuka mata setelah cukup lama aku menunggunya.

“Terima kasih,” jawabku pelan. Kabut malam semakin tebal, aku berjalan pelan meninggalkanmu. Sementara kau terus berteriak memanggilku. “Datanglah besok dan nyanyikan lagi untukku,” teriakmu saat itu.

Aku datang saat semburat jingga masih bermunculan. Duduk menunggumu di bawah pohon pinus. Kau tersenyum riang sambil berlari menghampiriku. Tanpa menunggu perkataanmu aku langsung menyanyikannya. Seperti kemarin, kau memejamkan mata dan sesekali tanganmu mengayun. Aku senang melihatmu seperti ini, melihat kedamaian di wajahmu. Saat nyanyianku berakhir kau memintaku untuk menyanyikannya sekali lagi, dan aku memenuhi permintaanmu.

Sejak saat itu, setiap sore aku menyanyikannya untukmu, dan kau selalu memejamkan mata saat mendengarnya. Selalu seperti itu walaupun kita sudah duduk di bangku SMA. Kau tidak pernah menyukai nyanyian manapun selain nyanyianku dan selalu kesal apabila aku hanya menyanyikannya satu kali. Lewat nyanyianku, kita berbagi rasa, kau selalu bercerita tentang hal-hal baru yang sering membuatku ingin tahu. Sedangkan aku tidak punya banyak hal yang bisa kuceritakan kepadamu, selain tentang nyanyian dan juga keluargaku.

Sore itu, saat angin menggaduh, untuk pertama kalinya kau tidak ingin mendengar nyanyianku. Dengan penyesalan kau memberiku sebuah undangan pesta ulang tahun dan berjanji akan memperdengarkan nyanyianku ke semua tamu undanganmu. Aku mengangguk ragu dengan seulas senyum di bibirku, berjalan pelan meninggalkanmu. Bayangan akan gema nyanyianku di pestamu mengaduk pikiran dan perasaanku. Suara angin yang menggaduh kini mulai berembus pelan, menyuruhku untuk menyanyikannya.

Pestamu telah menyihirku. Membawaku ke sebuah dimensi lain di planet ini. Kau berdiri anggun dengan sebuah mahkota di antara kerumunan bidadari-bidadari lain. Melihat itu, aku merasa seperti seorang pelayan di kerajaan langitmu. Yang hanya terdiam iri melihat kecantikan dan ketampanan penghuninya. Aku menepi dari kerumunan pestamu, menyendiri di sudut gelap kerajaanmu. Sudah lama aku duduk di sini menunggumu untuk menepati janjimu. Tapi kau hanya beberapa kali melihat ke arahku dengan senyum tipis di sudut bibirmu.

“Maaf. Bisakah kalian meluangkan waktu sebentar?”, pertanyaanmu membuatku gugup. “Aku tidak pernah tahu seperti apa nyanyian surga itu. Dulu, ibuku sering berkata, jika ada sebuah nyanyian yang bisa membuat kita merasa damai maka nyanyian dari surga akan segera datang menghampiri.”

Aku terkejut mendengarnya. Bukankah itu adalah jawabanku dulu ketika kau bertanya seperti apa nyanyian surga itu. Tanpa melihatku, kau langsung menyanyikannya dengan nada yang berbeda. Dan kau mengatakan bahwa itu adalah nyanyian yang kau ciptakan.

Aku masih duduk terdiam menahan uap panas di mataku. Sementara kau masih berdiri di sana dengan bahagia, tanpa mempedulikan aku. Tawamu telah berubah menjadi sebuah katana tajam yang menusuk ulu hatiku. Dengan gemetar aku menyanyikannya, berharap ibu akan datang untuk menghiburku. Tapi ternyata aku salah, semua mata kini memandangku. Kau berjalan menuju ke arahku dengan uap merah di wajahmu. Pandangan matamu menusuk tajam.

“Maaf, aku tidak bermaksud…..” Belum selesai aku berkata, tanganmu yang hangat telah mendarat di wajahku. Kau berkata kasar kepadaku, menuduhku merusak pestamu. Dan akhirnya kau mengusirku. Aku masih tidak mengerti, kau begitu marah ketika aku menyanyikannya. Dengan gontai aku melangkah pergi, sambil sesekali memandangmu penuh tanya.

***

Aku tahu hari ini adalah hari ulang tahunmu ke delapan belas. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya aku akan menyanyikannya untukmu. Walaupun kau tidak bisa mendengar nyanyianku, aku yakin kau bisa merasakannya. Maka dengar dan rasakanlah nyanyianku kali ini. Kau tahu, ini adalah pertama kalinya aku menyanyikannya lagi untukmu sejak pesta itu.

“Bolehkah aku mendengarnya sekali lagi?” Suara hangat tiba-tiba memenuhi gendang telingaku. Aku menengok, mencari pemilik suara hangat itu. Ah… ternyata dia, murid baru yang duduk di bangku belakangku. Bukan aku tidak mengenalnya, tetapi setiap kali aku melihatnya maka kenangan satu tahun lalu terus mengusikku. Celana jeans hitam dan kemeja biru, pakaian itulah yang melekat di badannya saat pesta ulang tahunmu. Dialah pemuda yang selalu kau ceritakan. Seorang pemuda dengan wajah pucat dan biola di tangannya.

“Warna pucatnya tidak bisa menutupi kedamaian di wajahnya. Dia begitu tampan saat memainkan biola di tangannya. Menyatu dengan nada yang dimainkannya. Dia terlahir untuk menjadi vionist profesional.” Ceritamu tentangnya saat jarum-jarum air mulai berhamburan sore itu. Aku menyuruhmu untuk berteduh tetapi kau tidak menghiraukanku, kau terus bercerita tentangnya. Dari caramu bercerita tentangnya, aku tahu kau sangat menyukainya. Sayangnya kerlingan mata saat pesta ulang tahunmu tidak membuatnya mengerti tentang perasaanmu.

“Boleh aku mendengarnya?,” ulangnya sekali lagi. Aku memandangnya ragu. Sebuah senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Matanya yang sendu masih memandangku penuh harap. “Ayo nyanyikanlah, aku ada disini untuk mendengarnya,” sambungnya. Entah kenapa hatiku berdesir pelan saat melihat matanya yang sendu. Dengan anggukan kecil aku memenuhi permintaannya.

Gayanya saat medengar nyanyianku sama sepertimu. Dia memejamkan mata serta sesekali mengayunkan tangannya. Mungkinkah kau meniru gayanya karena kau sangat menyukainya. Ataukah ini hanya kebetulan. Entahlah, aku tidak peduli apakah kau menirunya atau tidak. Karena aku merasa bahwa saat ini kau berdiri di hadapanku, memejamkan mata mendengar nyanyianku. Tanpa kusadari sebuah senyum lebar telah menghiasi wajahku.

Matanya membuka tepat saat senyum itu masih menghiasi wajahku, dan itu membuatku gugup. Melihatku seperti itu hanya senyuman hangat yang melintas di wajahnya.

“Harus ku akui, kau terlihat manis saat tersenyum.” Hatiku kembali berdesir, mungkin rona merah muda telah menghiasi kedua pipiku saat ini.

“Nyanyian itu diciptakan untukmu, dan nyanyian itu hanya akan menjadi milikmu. Jika ada orang lain yang menyanyikannya, itu tidak akan seindah jika kau yang menyanyikannya. Karena telinga ini mengingatnya. Jadi kau tidak perlu khawatir.” Dia menepuk pundakku dengan lembut, berbisik pelan mengatakan terima kasih. Entah kenapa aku kembali tersenyum, saat melihat punggungnya berjalan pelan meninggalkanku.

***

 “Aku ingin kau mendengarkan ini,” katanya saat aku duduk di bawah pohon cemara di sudut lapangan. “Pejamkan matamu dan jangan lupa sesekali ayunkan tanganmu,” imbuhnya.

Tubuhku bergetar mendengar nada yang dia mainkan. Alunan nada sama persis seperti saat aku menyanyikannya, tanpa perubahan apapun. Bulir-bulir bening mulai menetes dari mataku.

“Pejamkan matamu dan ayunkan tanganmu,” ulangnya. Perlahan aku menutup mata, tapi air mataku masih saja menetes. Dengan sesenggukan, tanganku mengayun pelan.

“Bukalah matamu dan ceritakan apa yang kau rasakan.”

“Entahlah, aku bingung. Senang sekaligus sedih bercampur menjadi satu. Rasa yang aneh,” jawabku dengan penuh keraguan.

“Bukan aneh. Kau hanya belum terbiasa merasakannya.” Matanya memandang langit, mencari batas cakrawala. Wajahnya tampak serius. “Jika kau ingin mendengar nyanyian surga, maka kau harus bisa mengalahkan dirimu sendiri. Mengalahkan rasa sakit dan sepi, juga perasaan negatif yang ada dalam dirimu. Ingatlah nyanyian surga tidak akan pernah datang jika kedamaian belum menyelimuti jiwamu.” Aku sedikit terkejut mendengarnya.

“Apa kau pernah mendengarnya?’’

“Mungkin aku pernah mendengarnya tapi mungkin juga aku tidak pernah mendengarnya.” Jawabannya semakin membuatku bingung. Jika kedamaian merupakan kunci  untuk mendengar nyanyian surga apakah itu berarti kau pernah mendengarnya. Bukankah selama ini wajahmu selalu damai saat mendengar nyanyianku.

“Yang kau lihat hanyalah kedamaian di wajahnya bukan jiwanya,” imbuhnya seakan menjawab pikiranku.

Aku ingat jawabanmu saat kutanya kenapa wajahmu selalu damai saat mendengar nyanyianku. Kau hanya menjawab alasannya karena nyanyianku sangat menenangkan. Seharusnya saat itu aku bertanya lebih banyak lagi tentang perasaanmu. Tapi aku terlalu senang hanya dengan melihat kedamaian di wajahmu.

“Aku ingin kau menyanyikannya saat pentas seni ulang tahun sekolah bulan depan.” Mataku terbelalak mendengarnya. Aku tahu, ulang tahun sekolah kali ini akan dihadiri oleh perwakilan beberapa sekolah lain. Dan acara pentas seni akan dilaksanakan untuk menyambut mereka. Aku juga tahu bahwa salah satu sekolah yang diundang adalah sekolahmu. Itu berarti kemungkinan besar kau akan datang bersama teman-temanmu. Kejadian satu tahun lalu kembali membayangiku. “Berhentilah berpikir tentang pesta temanmu itu, kau tidak perlu menyesalinya. Buanglah kejadian itu dari pikiranmu, dan tunjukan kepada mereka bahwa itu adalah nyanyianmu.”

Aku memandangnya ragu, tidak mudah bagiku untuk melupakan kejadian itu. Melupakan semua mata yang menatapku heran.

“Jika kau tidak bisa membuangnya, maka selamanya kau tidak akan pernah mendengar seperti apa nyanyian surga itu.” Matanya memandangku tajam. “Jangan khawatir, aku akan mengiringimu dengan biolaku. Ingatlah, kita adalah alunan nada.” Dia menegaskan perkataannya yang semakin membuatku ragu. Dengan anggukan kecil aku menyetujuinya, ada perasaan aneh yang mendorongku. Sebersit senyum muncul di sudut bibirnya.

***

Berkali-kali aku menarik napas panjang, tapi rasa gugupku masih mendera. Orang-orang telah memenuhi ruangan ini. Pentas seni telah dimulai, dan sebentar lagi giliranku untuk tampil. Aku melihatmu, duduk di barisan depan bersama teman-temanmu. Sikapmu acuh saat kita bertemu di halaman pagi tadi. Tapi biarlah, aku tidak akan marah ataupun kecewa kepadamu. Aku akan tetap menganggapmu teman, meskipun sekarang kau seakan tidak mengenalku.

Giliranku telah tiba, aku mencoba setenang mungkin untuk menutupi rasa gugupku. “Bersiaplah,” bisiknya pelan. Matanya mengawasi semua orang yang berada di ruangan ini. “Sebentar lagi kau akan mendengarnya.” Dengan senyuman kecil dia menepuk pundakku.

Mulutmu ternganga saat melihatku, begitu juga dengan teman-temanmu. Mereka memandang tajam ke arahku. Kali ini aku akan menyanyikannya bukan hanya untukmu, tapi semua orang yang ada di sini, seperti saat kau menyanyikannya di pesta ulang tahunmu.

Satu yang aku tahu semua perkataannya benar, aku benar-benar merasa damai saat menyanyikannya. Tidak ada perasaan negatif dalam diriku. Sebuah gravitasi lain di planet ini telah menarikku. Aku berdiri di padang sabana luas dengan sebuah danau di tengahnya. Beberapa burung bertengger memenuhi ranting-ranting pohon di sekitarnya. Aku berjalan pelan mengelilingi padang itu. Suara hembusan angin perlahan-lahan berderit. Dengan pandangan tidak percaya, aku melihat para malaikat telah berjajar rapi membentuk sebuah lingkaran. Mereka tersenyum lebar kepadaku. Ketika aku bersiap untuk berlari, sebuah nyanyian indah mengalun riang. Diikuti suara angin yang menggema, serta gemericik air yang berbisik pelan. Burung serta pohon menari riang mengikuti alunan nada nyanyian itu. Seiring dengan nyanyianku yang berakhir, nyanyian itu juga berakhir.

Riuh tepuk tangan menyadarkanku. Aku kembali menapaki bumi. Mereka berdiri dengan tepukan yang masih menggema. Sementara kau masih duduk terdiam melihatku, wajahmu terlihat tidak senang saat kulemparkan senyum kepada semua orang. Samar-samar aku melihat ibu berdiri anggun di sudut ruangan ini, tersenyum manis kepadaku. Aku tidak tahu perasaan aneh apa yang kurasakan saat ini.

“Ibu, nyanyian surga telah menghampiriku.”


Yuliani Eryaningtyas, lahir di Kendal 30 Juli 1993. Seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Semarang. Menyukai dunia literasi sejak kecil dan masih belajar untuk bisa menghasilkan sebuah karya sastra yang baik. Dapat di hubungi di twitter : yeryan_tyas, facebook : yeryan tyas.

Facebook Comments