“Kata Dokter, ayah kamu gagal ginjal, beliau harus cuci darah rutin. Maaf aku baru kasih tahu Dhif. Kamu nggak ada niat buat pulang dan ketemu ayah kamu?”. Rina mengucapkan kata per kata dengan hati-hati lewat sambungan telepon pada Dhifa.

Ada hening yang cukup panjang di antara keduanya. Suara nafas Dhifa yang terdengar lambat, seakan-akan dia menahan sesuatu.

“Kamu baik-baik saja Nadhifa?”. Rina akhirnya memecah keheningan.

Dhifa menghela nafas. “Aku baik-baik saja Rin, terimakasih sudah kasih tahu”.

“Ayah kamu butuh support kamu Dhif. Kamu nggak pingin ketemu ayah kamu?”

“Nanti Rin, mungkin bukan sekarang”. Ada kegetiran dibalik suara Dhifa.

Rina memutuskan sambungan telepon. Dia tahu, saat ini Dhifa butuh sendiri.

***

Dulu, Dhifa hanya teman SMA Rina, tidak lebih. Dia hanya mengenal Dhifa sebagai anak yang ceria di sekolah mereka, Dhifa juga sangat populer. Tubuhnya tinggi, proposional, rambutnya lurus, kulitnya kuning. Setiap melewati koridor sekolah, Dhifa tidak pernah melepaskan senyumnya kepada siapapun. Sangat bertolak belakang dengan Rina yang bukan siapa-siapa, namanya hanya dikenal sebagai anak yang langganan maju di lapangan sekolah pada saat penerimaan raport sebagai anak dengan predikat juara umum.

Rina dan Dhifa tidak pernah sekelas atau bersinggungan. Seingat Rina, hanya sekali Dhifa menyapanya. Yaitu pada saat Dhifa duduk di hadapannya ketika mereka sedang berada di perpustakaan, saat itu Dhifa menyebut nama Rina. Rina bahkan tidak menyangka kalau Dhifa tahu namanya

Ingatan Rina terlempar pada sembilan tahun yang lalu, saat Dhifa berdiri di depan pintu rumahnya dengan boneka panda berada di pelukannya dan ransel besar yang terisi penuh di punggungnya. Matanya merah, sembab, rambutnya yang tebal acak-acakan. Sisa-sisa air mata masih membekas di pipinya.

“Nadhifa?”. Kata pertama yang Rina ucapkan ketika dia menemukan Dhifa berdiri di depan pintu rumahnya.

“Boleh aku masuk?”. Dhifa bertanya dengan suara bergetar.

Kemudian Rina tahu, malam itu Dhifa bertengkar dengan ayahnya karena ayahnya berniat untuk menikah lagi sedangkan Dhifa tidak setuju lantaran ibunya baru setahun meninggal. Untuk pertama kali dalam hidupnya, gadis itu membenci ayahnya.

“Aku hanya perlu beberapa bulan tinggal di rumah kamu Rin. Habis pengumuman kelulusan, aku akan kuliah sekalian kerja di Jakarta atau Bandung, yang penting bukan disini”. Rina ingat betul ucapan Dhifa pada waktu itu.

Gadis itu benar, Dhifa tidak pernah berdusta dengan ucapannya. Pada hari kelulusan, Dhifa tidak hadir di sekolah dan kertas kelulusannya di ambilkan oleh ibu Rina. Beberapa bulan kemudian, dia berhasil lulus SNMPTN di salah satu Universitas Negeri yang ada di Bandung.

Hingga saat ini Dhifa memilih untuk menetap di Bandung, meluluskan pendidikannya dan melanjutkan kerja di sana. Hanya dua tahun lalu dia kembali ke Palembang, pada saat pernikahan Rina.

***

Angin berhembus dingin menusuk kulit, sejak sore kemarin hingga subuh tadi hujan datang dan masih menyisakan gerimis. Sehingga membuat cuaca tidak seperti biasanya. Pukul sebelas pagi harusnya sudah mulai terik, tapi pagi ini udara dingin menyelimuti Kota Palembang. Beberapa orang terlihat datang ke rumah sakit dengan jaket tebal yang membungkus tubuh mereka.

Rina sedang menemani seorang pasien bernama Bapak Ardi menuju ruang Hemodialisa. Langkah Rina diikuti oleh Bapak Ardi. Rina tahu, sejak dua tahun yang lalu Bapak Ardi adalah pasien di Rumah Sakit tempat dia bekerja. Dulu, beliau hanya sesekali datang kesini. Sekarang, beliau semakin rutin datang ke Rumah Sakit. Tubuhnya yang dulu berisi sekarang sudah semakin kurus, tapi senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya.

Sekarang Rina tahu kenapa Dhifa selalu tersenyum, dia mewarisi kebiasaan itu dari ayahnya.

“Umur suster berapa sekarang?”. Pertanyaan Pak Ardi melenyapkan kebisuan diantar mereka.

“Saya, dua puluh enam tahun Pak”. Jawab Rina singkat sambil menatap lantai koridor rumah sakit.

“Sama seperti anak saya, sekarang umurnya juga dua puluh enam tahun. Mungkin dia sekarang sudah bertambah tinggi dan cantik seperti ibunya”.

Rina memaksakan seulas senyum, tahu siapa yang dimaksud Pak Ardi barusan.

“Seperti kata Dokter, Bapak akan rutin melakukan cuci darah. Bapak baik-baik saja?”. Rina sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.

“Saya baik-baik saja suster, meskipun sakit, mahal, butuh waktu lama, saya akan terus melakukannya. Saya ini sudah tidak sehat lagi, belum tahu hidup saya sampai kapan. Jika dengan seperti ini bisa membuat saya sehat dan menambah harapan hidup saya, saya akan melakukannya. Saya ingin melihat anak saya”.

Tubuh Rina bergetar, dia berusaha menahan tangisannya yang hampir pecah di hadapan ayah sahabatnya ini. Entah kenapa hari ini ruang Hemodialisa terasa amat jauh.

***

Dhifa memandangi Kota Bandung pada malam hari dari lantai tiga restoran yang berada di Dago. Cahaya lampu tampak berpendar-pendar dari kejauhan, sangat indah. Ditambah dengan udara sejuk Kota Bandung. Harusnya malam ini jadi malam yang sempurna bagi Dhifa. Tapi pikirannya kalut, ucapan Rina beberapa hari yang lalu masih teringat-ingat setiap kali dia sendiri.

Dua tahun yang lalu, untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun dia mengetahui kabar ayahnya. Rina selalu membagi kabar tentang ayahnya setiap kali beliau datang ke rumah sakit. Tanpa diminta, Rina akan melaporkan kondisi ayahnya kepada Dhifa, seperti tekanan darah, kesehatan ayahnya saat ini, sampai berat badan ayahnya. Tidak pernah sekalipun Dhifa menanggapinya, dia hanya mengalihkan ucapan Rina jika sudah menyangkut ayahnya. Menyebutkan ayahnya saja sudah membuat hati Dhifa nyeri apalagi memikirkannya.

Kematian ibunya sepuluh tahun lalu sudah menjadi pukulan yang berat bagi Dhifa, sebagai anak tunggal, Dhifa sangat bergantung kepada kedua orang tuanya. Rasanya masih hangat dalam ingatan Dhifa ketika tubuh lemah ibunya terbaring diatas ranjang rumah sakit hingga akhirnya, wanita yang sangat dia cintai pergi meninggalkannya di usia belia untuk selama-lamanya.

Setelah itu Dhifa berharap, sepanjang hidupnya akan dia habiskan bersama ayahnya. Tapi keputusan ayahnya menghancurkan harapan Dhifa, baginya menikah lagi merupakan bentuk pengkhiatankan kepada ibu. Harusnya tidak ada orang lain yang menggantikan ibu di hati ayah dan di tengah-tengah keluarga mereka.

Alunan musik yang dari tadi menemaninya berhenti, sesaat kemudian Dhifa menyadari seseorang menggenggam tangannya. Barry -sang kekasih- sudah duduk dihadapannya sambil tersenyum manis. Barry melepaskan genggamannya pada Dhifa, kemudian memberikan seikat bunga mawar putih. Ada haru yang menyusupi hati Dhifa malam ini, ingin rasanya dia kembali kepada ayah dan ibu, memeluk mereka dan membagi kebahagiannya saat ini. Andai semua itu terjadi, ucapnya dalam hati.

***

Pada sore yang teduh, Rina menemukan sosok yang dikenalnya sedang duduk sendirian di bangku taman rumah sakit. Sesekali dia menunduk, sesekali dia mengadah ke langit seakan menyesali kemudian mengharapkan sesuatu. Rina kemudian mendekati orang itu.

“Selamat sore Pak Ardi”. Sapa Rina hangat.

Lelaki itu tersenyum, dia cukup mengenal suster di hadapannya ini.

“Boleh saya duduk di sini?”. Tanya Rina kemudian yang dijawab anggukan oleh Pak Ardi.“Bapak ada apa sore-sore begini berada di rumah sakit, Bapak ada jadwal cuci darah?”. Tanya Rina heran.

Lagi-lagi lelaki itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Rina.

“Saya tadi membesuk sahabat saya, karena cuacanya sedang bagus akhirnya saya duduk disini. Sambil mengingat-ingat putri saya, dia sangat menyukai sore yang teduh seperti ini”. Ujar Bapak Ardi sambil memandangi langit sore.

“Bapak pasti sangat merindukannya”. Ucapan itu seakan keluar begitu saja dari mulut Rina.

Pak Ardi mengangguk. “Sudah hampir sembilan tahun saya merindukannya. Selama itu juga dia pergi meninggalkan saya. Saya sudah mencarinya kemana-mana tapi dia seakan menghilang begitu saja.

“Nadhifa!”. Ucapan Rina barusan membuat pak Ardi menoleh kepadanya. Mata Rina berkaca-kaca. “Sembilan tahun yang lalu, dia datang kepada saya. Dia sengaja ke rumah saya karena saya bukan teman baiknya saat itu sehingga bapak tidak akan menemukannya. Sekarang dia berada di Bandung, melanjutkan kuliah dan kerja disana dengan usahanya sendiri. Dhifa baik-baik saja”. Jelas Rina sambil terisak-isak.

Pak Ardi terkekeh sambil menyeka air matanya yang turun berkali-kali.

“Anak itu sangat pintar dan cerdik masih seperti dulu. Saya yang salah karena tidak memahami dia. Saya terlalu mementingkan ego saya. Saya takut dia kesulitan mengurus saya dan dia akan kehilangan masa remajanya, oleh karena itu saya memutuskan untuk menikah lagi tanpa mempertimbangkan perasaannya. Ternyata saya benar-benar melukai hati putri kecil saya”.

Tangisan Rina semakin keras, sore itu sebagian beban beratnya seakan terbawa angin bulan Desember.

***

Dhifa memandangi danau buatan di hadapannya, airnya berwarna kehijauan dengan dua angsa bermain di permukaan danau. Seakan mengerti keinginannya, langit yang biasanya mendung, hari ini terlihat sangat cerah. Dia duduk di bangku yang berada tepat di bawah pohon rindang.

Seseorang duduk bersamanya, tapi Dhifa sengaja menciptakan jarak. Sembilan tahun adalah waktu yang cukup lama untuk merindukan seseorang, juga membuat kecanggungan pada orang yang dulu paling dia sayangi.

“Putri ayah sudah besar sekarang. Suster Rina bilang kalau sebentar lagi akan ada yang mejaga Dhifa selain ayah”. Pak Ardi membuka obrolan sambil sesekali menatap Dhifa.

Dhifa menatap wajah Ayahnya dalam diam. Meskipun samar, kerutan sudah mulai terlihat di wajahnya, tubuhnya jauh berubah dari terakhir kali yang Dhifa ingat. Bayangan ibu seakan memantul dari wajah ayahnya. Setelah sekian lama, akhirnya dia memutuskan untuk pulang dan menemui ayahnya.

“Ayah”. Akhirnya Dhifa buka suara. Sudah lama sekali dia tidak mengucapkan kata-kata itu. “Boleh Dhifa peluk ayah?”.

Ayah Dhifa tersenyum. Ayah membuka lengannya, menyambut pelukan putrinya. Di dalam pelukan sang Ayah, Dhifa terisak. Kesedihan dan kebahagiaan seakan bercampur jadi satu disana.

Bersama langit cerah dan awan putih yang beriringan, untuk pertama kalinya Dhifa mengerti, yang terpenting bukanlah menyalahkan orang lain atas sakit yang dia rasakan. Tapi yang paling utama adalah memaafkan diri sendiri untuk bisa mengobati luka dan menemukan kembali kebahagiaan yang hampir menghilang.


Saya Apriliana Dwi Kartika, saya lahir pada tanggal 14 April 1992. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa semester akhir di Sekolah Tinggi Ilmu Manejemen – AMKOP Palembang. Saya tinggal di Kota Prabumulih – Sumsel. Membaca dan menulis adalah hobi saya sejak kecil. Saya adalah salah satu founder Jelajah Kata atau biasa disingkat dengan JeKa Kota Prabumulih, yaitu suatu wadah bagi teman-teman yang menyukai buku, sastra, puisi, membaca dan berdonasi di bidang sosial. Lebih dekat dengan saya di :

Email : aprilianadwi.kartikapratama39@gmail.com

FB : Apriliana Dwi Kartika

Instagram : @adikavidi

Facebook Comments