“Aku benci terminal”

Kataku lirih sambil mengaduk kopi yang telah dingin karena tak kunjung kuminum. Ntah sejak kapan bermula aku jadi benci terminal. Bagiku ada luka tiap kali aku datang ke terminal. Ada kesedihan yang tak bisa kujelaskan tiap kali aku mendengar kata terminal.

“Kenapa harus terminal? Padahal masih ada stasiun, bandara atau pelabuhan?” Tanya lelaki dengan rahang yang kokoh di seberang meja.

Lelaki itu Mas Satria, tempat cintaku berlabuh setahun ini. Sesungguhnya aku memang tidak kaget jika dia menanyakan hal ini. Mas Satria memang tidak tahu mulanya dan akupun juga tak berniat untuk memberitahu. Sungguh, bukan karena aku ingin menutupi hal ini dengan Mas Satria. Sebab aku belum siap jika harus membagi cerita ini. Itu saja.

***

Potongan-potongan kejadian 6 tahun silam terangkai seperti kepingan puzzle. Di pinggir terminal, aku bersama keluargaku hidup. Kami mencukupi kebutuhan hidup berbekal keterampilan ibu membuat nasi uduk dan ayah sebagai tukang parkir. Aku akrab dengan hiruk pikuk di terminal. Orang-orang lalu lalang membawa tas besar mereka, bis datang silih berganti membawa penumpang, pedagang asongan yang tak pernah bosannya menjajakan dagangannya, serta peluit nyaring ayahku yang kerap terdengar saat ia membantu memarkirkan bus.

Seperti pada terminal umumnya, mendekati Lebaran terminal terlihat jauh lebih padat. Orang-orang datang ke terminal naik lima kali lipat, bus yang terparkir penuh di terminal,  juga kepadatan pedagang asongan dan pengamen yang tak mau ikut kalah.

Kakak dan Ibuku tak pernah menyangka. Bahwa hari itu di terminal tempat dimana biasanya ayah bekerja. Hari itu juga sekaligus tempat ditemukan ayah meninggal bersimbah darah. Ibu menjerit histeris ketika petugas keamanan mengetok pintu rumah dan mengabarkan ayah tewas di tusuk penjambret di terminal. Aku yang ikut menyaksikan seluruh kejadian itu hanya terdiam dengan badan gemetar.

Kejadiannya sungguhlah cepat. Tiba-tiba penjambret datang berlari, merampas tas yang di bawa wanita muda itu, Ayah yang letaknya tak seberapa jauh pun berusaha mengejar. Namun naas, pisau yang dibawa penjambret itu sudah terlanjur tertancap di perut Ayahku. Darah segar mengalir deras di perutnya. Orang sekitarpun panik menyelamatkan Ayah. Sebagian yang lain berusaha menangkap penjambret itu. Dan aku yang tengah duduk di ruko terminal berlari dan berteriak menyeru nama Ayah.

***

Sejak Ayah meninggal perekonomian keluargaku pun semakin sulit. Bahan pokok melonjak naik dan keuntungan dari penjualan nasi uduk pun tak seberapa. Belum lagi jeratan hutang yang melilit. Mungkin itu yang membuat kakak jengah. Dan memutuskan ingin bekerja ke luar kota. Ikut dengan temannya.

“Ibu nggak setuju dengan rencanamu Dit” mantap ibu menjawab

“Bu gajinya lumayan. Kapan lagi Adit dapat kesempatan bekerja dengan gaji sebesar itu? Itu cukup buat makan dan membiayai sekolah Adis”

“Mas Adit nggak boleh pergi. Untuk sekolah Adis, Mas Adit nggak perlu khawatir. Adis bisa kok kerja sambilan. Sekolah sambil berdagang misalnya” kataku yang tak rela satu-satunya anggota keluarga lelaki kami pergi.

Sekeras apapun aku dan Ibu membujuk Mas Adit. Tetap saja ia memutuskan untuk pergi. Tekadnya telah bulat untuk pergi ke luar kota. Keberangkatannya naik bus di terminal, tempat dimana Ayahku meninggal.

***

Hingga tahun telah berganti. Mas Adit tak pernah kembali pulang ke rumah. Jejaknya hilang bersamaan dengan asap knalpot bus yang membawanya pergi. Terakhir aku tahu kabarnya lewat surat yang ia kirimkan bersamaan dengan uang.

Bagiku terminal tak ubahnya tempat untuk merelakan. Kau menghantarkan seseorang pergi kemudian merelakannya. Dan aku benci jika ia harus pergi dan aku tetap tinggal.

“Kalau begitu aku naik kereta saja. Dan membatalkan keberangkatan di terminal” kata Mas Satria sambil menenggak habis kopi yang tersisa di cangkir.

“Bukan begitu tetap saja. Aku tak suka!”

Ah lelaki itu, masalahnya bukan hanya itu. aku tidak suka menyaksikan kendaraan apapun membawamu pergi tanpa ada aku.

“Kalau begitu kau maunya apa?”

“Aku maunya kamu tetap tinggal”

Egois memang. Tapi memang itu mauku. Membiarkan lelaki itu pergi lagi, dan aku harus menanti lama lagi untuk bertemu dengannya sebentar. Aku tak bisa.

“Aku juga maunya tetap tinggal” katanya sambil tersenyum “Tapi, aku harus meneruskan pendidikanku”

Ah dia benar. Aku tahu seharusnya aku tak boleh bersikap seperti ini. Aku pun harus mendukung impian Mas Satria menjadi seorang Polisi. Sekalipun harus pergi jauh dan kembali lagi ntah kapan.

“Maafkan aku” kataku sambil menahan tangis.

Lelaki itu hanya diam. Tanpa mengucap satu atau dua buah kata. Ia hanya mengenggam erat tanganku serta menatapku dengan mata yang teduh. Ia selalu seperti itu. Tanpa kata-kata cinta keluar dari mulutnya, ia bisa menunjukan lewat bahasa tubuhnya. Lewat sorot matanya yang teduh, dan aku suka itu.

***

Aku tahu, aku bakal benci terminal. Mengantar dan menjemput ditambah lagi harus menunggu. Benci menghantarkan dan merelakannya pergi bersama dengan bus yang ditumpangi. Belum lagi harus melewati hari-hari penantian dipenuhi rasa rindu dan kekhawatiran. Bagaimana jika ia menetap disana? Bagaimana jika ia tidak kembali ke sini? dan bagaimana-bagaimana yang lain. Ah, aku ingin menjemput tanpa diikuti mengantar. Sebab itu artinya ia kembali ke diriku, ke kehidupanku seutuhnya.

Namun tetap saja aku tetap sering mampir ke terminal. Sekedar duduk-duduk melihat lalu lalang orang, mendengar deru roda bus yang datang dan pergi silih berganti dari terminal, serta lengkingan peluit yang ditiup tukang parkir saat membantu memarkirkan bus. Ya begitulah caraku setiap kali rindu datang menyapa. Barangkali siapa tahu juga bus datang membawa pulang Mas Satria atau Mas Adit.

Ah, sekarang aku tahu kenapa perempuan suka sekali menunggu. Meskipun tak pernah disuruhnya ia menunggu.


Arum Melati Suci, lahir sembilan belas tahun silam. Saat ini penulis sedang menuntut ilmu di Yogyakarta. Bercita-cita menjadi seorang Ahli Metrologi dan Penulis. Kecintaanya dalam dunia kepenulisan didasari keinginannya untuk berkarya lewat tulisan yang dapat bermanfaat bagi orang banyak. Jika ingin menghubunginya bisa melalui akun facebook: Arum Melati, twitter: @arummelatis atau melalui email: arumsucii@gmail.com

Facebook Comments