Suasana yang sangat sunyi. Hanya ketukan spidol yang terdengar ketika guruku menulis di white board. Aku menatap semua tulisan yang ada di hadapanku, sesekali mengernyit untuk memperjelas penglihatanku. Sunyi karena kelas ini hanya dihuni oleh 10 orang, 5 laki-laki dan 5 perempuan. Satu- satunya kelas akselerasi di sekolah ini.

Mataku menoleh sekilas ke arah seseorang yang duduk di sampingku. Laki-laki berkulit putih dengan gaya rambut spikenya duduk dengan tenang. Aku tersenyum tipis melihatnya. Raka Wijaya, dia adalah orang yang membuatku merasakan debaran yang aneh di hatiku untuk pertama kalinya. Aku mengerti dengan semua rasa itu, hanya saja sikapku yang seolah bodoh terhadap rasa yang telah ada sejak 2 tahun terakhir ini.

Suara bel tanda istirahat memberhentikan guru yang sedang mengajar di depan. Aku menghela napas.Belum beranjak pergi ke kantin dan enggan untuk pergi. Tanganku merogoh tasku dan mencari sebuah novel lantas membacanya.

“Kau tidak makan?” Raka menatapku.

“Tidak, kau juga?”

“Aku malas” ucapnya seraya menatap kembali ke arah jendela yang memperlihatkan sebuah kelas. Dia selalu menatap ke arah jendela itu, mungkin lebih tepatnya ke arah kelas yang ada di seberang. Aku tahu dia sedang memperhatikan gadis yang menarik perhatiannya di sana. Gadis yang sangat cantik, tentu saja sangat populer di sekolah ini.

Beberapa menit dia hanya terdiam menatap jendela dan aku pun mulai terhanyut ke dalam novel yang kubaca. Sampai akhirnya dia berdiri dan beranjak pergi keluar, aku menatap sosoknya yang pergi. Mataku terus mengikuti sosoknya dari jendela. Dia melangkah ke kelas itu dan berhenti saat gadis itu berjalan ke arahnya. Aku tersenyum pahit.

Mereka terlihat gembira berbincang, sedangkan aku hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan. Matanya yang menatap gadis itu berbeda. Dadaku terasa sesak tanpa sebab disertai perih yang menjalar.

Apakah tatapan itu bisa menjadi milikku? Menatapku seakan matahari terbit di sana. Aku hanya tersenyum kecut menyadari semua fakta itu. Setiap kali aku menatap kedua lensa cokelatnya, tatapannya membuatku tersadar bahwa bayang diri ini tak pernah ada di kedua matanya.

Dia terlalu jauh untuk bisa kugapai, meski pun raganya ada di dekatku. Dan aku mungkin tidak punya cukup keberanian untuk hanya sekedar menatap matanya saat kami berbicara walaupun sepatah kata. Sikapnya selalu dingin karena itulah aku jarang mengobrol dengannya. Hanya tegur sapa itu sudah membuatku cukup bahagia.

***

Hujan turun dengan deras. Mataku menatap milyaran tetesan air hujan yang membasahi lapangan di hadapanku. Pukul 16.00, aku masih terduduk diam di sisi lapangan yang di lindungi kanopi. Angin bertiup membawa butiran air hujan mengenai wajahku. Aku merapatkan cardigan yang kupakai. Angin ini datang dengan lembut namun mampu untuk menusuk kulit. Sesekali tanganku mengusap tengkukku untuk membagi kehangatan.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling lapangan. Tidak banyak siswa yang berlalu lalang. Mataku berhenti dan menatap laki-laki bertubuh tinggi itu. Dia melangkah ke arahku, aku mengerutkan keningku, mungkinkah dia melangkah ke sini? Hanya tinggal beberapa langkah lagi ke tempat di mana aku duduk. Jantungku berdetak lebih cepat ketika dia duduk di sampingku. Tidak ada sebuah senyuman yang hinggap di bibirnya.

“Kau belum pulang Raka?” Aku memulai pembicaraan dan berusaha menghancurkan sikap dinginnya. Dia menggeleng untuk sebuah jawaban.

“Aku ingin bicara sesuatu” ucapnya. Aku menatapnya, sedangkan dia hanya menatap lurus.

“Apa?” Dia mulai menatapku. Mataku menatap ke arah lain ketika lensanya tepat menatapku. Aku masih belum cukup berani menatapnya sedekat ini. Terdengar dia menghela napas berat.

“Aku hanya ingin berbicara sesuatu yang selama ini kualami. Jadi kau jangan memotongku berbicara, cukup dengarkan saja”

Aku menatapnya bingung.

“Kau tahu selama ini aku merasakan sesuatu yang aneh pada diriku. Awalnya aku tidak mengerti semua itu dan setelah beberapa lama aku mulai terbiasa dengan ke anehan yang ku rasakan pada diriku sampai akhirnya aku bisa menyimpulkan semuanya” dia menepuk dadanya sendiri.

“Rasa itu sangat aneh dan sesekali aku merasa bagian ini akan meledak…

Tapi hanya di saat aku menatap seseorang. Sebagai seorang laki-laki mungkin aku terlalu pengecut untuk bisa mengeluarkan beberapa kata dengan orang itu, bahkan mungkin aku perlu menyiapkan diri bertahun-tahun untuk bisa mengatakan kesimpulan yang ku ambil dari rasa aneh itu.”

Otakku terus mencerna berbelit-belit kata yang dilontarkannya.

“Aku tidak siap akan reaksi yang di berikan orang itu saat aku menyampaikannya, itulah yang membuatku menjadi pengecut seperti ini” dia terdiam sejenak.

“Dan setelah beberapa lama aku mengumpulkan keberanianku untuk menyampaikan semua kesimpulan itu” dia terdiam lagi, tapi kali ini dia menatapku lamat yang membuatku mengedarkan pandanganku darinya.

“Dan menahan semua ledakan itu, aku ingin menyampaikan kesimpulannya kepada orang itu sekarang. Aku mencintai orang itu…

Dan orang itu adalah kau”

Suaranya pelan namun masih dapat ku dengar. Tubuhku sedikit terperanjat ketika otakku dengan baik mencerna kalimat terakhir. Aku membeku, entah apa yang harus aku katakan. Aku mengedarkan pandanganku ke arah lain lagi untuk menghindari tatapan kedua lensanya.

“Tatap aku” kedua tangannya memegang erat tubuhku. Aku memberanikan diri menatapnya. “Bicaralah apa yang kau ingin katakan mendengar itu semua” ucapnya.

“Aku tidak mengira kau akan mengatakan kalimat itu Raka” ku rasakan sudut mataku basah. “Kau selalu menatap ke arah jendela jadi ku pikir kau menyukai gadis populer yang di seberang kelas sana”

Ibu jarinya menghapus cairan bening yang mengalir dari pelupuk mataku.

“Aku merasa ini sebuah mimpi” dia tersenyum tipis ke arahku.

“Kau tahu alasan aku selalu menatap jendela itu?”

Aku hanya menatapnya untuk menunggu kalimat selanjutnya.

“Aku menatap dirimu, lebih tepatnya memperhatikan semua yang kau lakukan dari bayangan kaca jendela itu. Kau tahu seberapa pengecutnya aku sekarang?”

“Kau tidak pengecut, bukankah kau sekarang sudah mengatakannya?” Aku tersenyum ke arahnya. “Dan kau tidak perlu khawatir akan reaksiku, karena aku sama” lanjutku.

Dia tersenyum ke arahku. Tangannya menyentuh lembut dan menggenggam tanganku erat. Waktu menjawab semua rasa dalam diamku, dan aku tidak mengira jawaban itu sesuai dengan khayalanku. Waktu juga telah membawakan sebuah bingkisan kebahagiaan untukku.


Alfiah Sundara, pelajar di SMAN 2 Tasikmalaya. LahirĀ  06 Februari 2000. Facebook: Alfiah Sundara.

Facebook Comments