Seorang laki-laki jangkung berjalan lesu di keramaian kota. Kepalanya menunduk dan hanya sesekali melihat ke depan. Tangan kanannya bersembunyi di dalam saku celana. Senantiasa memastikan sebuah jepit rambut berwarna merah tetap berada di dalamnya. Apa yang laki-laki itu pikirkan? Tidak ada. Ia hanya ingin berjalan. Ia rindu berjalan di keramaian.

Tiga minggu yang lalu, masih ada perempuan, yang memakai jepit rambut warna merah, ikut berjalan di sampingnya. Sekarang, hanya ada laki-laki itu dan jepit rambut warna merah yang kehilangan sang tuan. Jepit rambut yang bagaimanapun juga tidak bisa ia ajak bicara.

***

Al.

Sekarang, sapalah ia bila sewaktu-waktu bertemu di jalan. Atau kalau itu terlalu singkat, sapalah ia dengan nama panjangnya: Aldebaran.

Aldebaran berkacamata. Kedua matanya masing-masing minus 1 untuk yang kiri dan minus 1,5 untuk yang kanan. Ia masih bisa membaca tanpa kacamata. Pun juga masih bisa melihat keadaan sekeliling dengan cukup jelas. Tetapi Aldebaran sudah terlanjur jatuh cinta pada kacamata bergagang abu-abu yang ia pakai sekarang. Aktivitas apa yang ia lakukan tanpa kacamata? Hanya ketika mandi di pagi dan sore, juga ketika tidur di malam hari. Selebihnya ia selalu turut membawa kacamata abu-abu itu melihat dunia.

Yang menjadi pengecualian untuk Aldebaran hanya ada satu orang. Orang itu boleh meminta Aldebaran melepas kacamatanya.

“Aku mau melepas kacamataku. Tapi yang mau aku lihat tanpa kacamata, cuma kamu. Karena dengan atau tanpa kacamata, kamu tetap perempuan berjepit rambut warna merah yang teramat manis.”

***

Aldebaran hampir sampai di depan pintu masuk Monumen Nasional. Pukul 8 malam. Hari Kamis dan cukup ramai.

Ia tidak berniat masuk. Melainkan tergoda memperhatikan rusa-rusa yang bercengkerama. Akhirnya ia berhenti di kursi taman di depan kandang rusa itu. Duduk. Sendiri tetapi tidak sepi.

Tangan kanannya masih di dalam saku menggenggam jepit rambut warna merah. Sedangkan tangan kirinya dengan cekatan membuka telepon genggam lipat. Ia tahu yang ia mau. Ia langsung saja meluncur ke galeri foto. Ada lebih dari lima folder foto di sana. Salah satunya bernama “Kunang-Kunang”. Dan di situlah pikiran Aldebaran tertuju.

***

“Apa yang tidak kamu temukan di keramaian kota ini, Al?” Perempuan berjepit rambut warna merah bertanya.

“Cahaya-cahaya kecil yang bertebaran.”

“Cahaya apa itu? Bukankah lampu jalanan dan kota itu sudah cukup cantik?”

“Kunang-Kunang lebih cantik. Andai ada seribu kunang-kunang di langit kota ini, maka tidak ada lagi yang kurang.

Perempuan berjepit rambut warna merah itu tersenyum. Kemudian ia mengerjap-erjapkan kedua matanya dengan sedikit manja. Cahaya lampu jalanan yang remang-sendu memantul dari kedua bola mata itu.

“Hey. Apa kamu tahu?” Aldebaran bertanya.

“Apa?”

“Cahaya seribu kunang-kunang sudah tergantikan dengan cahaya dua bola mata orang di depanku.”

“Apa itu akan tetap sama bila tanpa kacamata? Coba lepas.”

Aldebaran melepas kacamata abu-abu dan menutup matanya sebentar. Dua detik selanjutnya ia menatap perempuan berjepit rambut warna merah itu lagi dengan cukup jelas.

“Tetap sama.” Aldebaran tersenyum. Pun juga dengan perempuan berjepit rambut warna merah itu.

***

Setengah jam berlalu. Al masih duduk si kursi itu dengan telepon genggam lipat di tangannya. Layar telepon genggam masih menyala.  Folder “Kunang-Kunang” masih terbuka tetapi jangan tanya apa isinya.

Al menatap layar telepon genggam cukup lama. Matanya tak beranjak sedikit pun dari sana. Sejurus kemudian, linangan basah turun dari kelopak matanya. Awalnya ia menangis dalam diam. Lama-lama ia tak tahan. Ia keluarkan kesedihannya. Ia menangis, sesenggukan.

Dua orang perempuan yang sedari tadi mengawasi Aldebaran sudah tidak tahan. Mereka tidak mau melihat Al menangis meraung-raung di tengah jalan. Sebelum itu terjadi, mereka segera membawa Al pergi.

“Kunang-kunang… kunang-kunang…”

Hanya itu yang keluar dari mulut Al di sela-sela tangisnya.

***

“Adik berbicara dengan siapa, Ibu?”

“Ibu tidak tahu. Tapi dia terlihat sangat nyaman dengan orang itu.”

“Tidak ada siapapun di sana, Ibu!”

“Di mata adikmu, dia ada.”

“Ibu, ayo kita bawa adik pulang. Aku tidak ahan melihatnya seperti ini.”

“Tunggu…”

“Ibu…”

“Lihat. Dia melepas kacamatanya. Apa kamu ingat yang adikmu katakan tentang kaca mata?”

“Dia tidak mau melepas kacamatanya.”

“Ya. Dan hanya ada satu orang yang boleh melepas kacamatanya.”

“Apa adik sedang bersama orang itu sekarang?”

“Ibu harap begitu.”

“Kita tidak bisa membiarkannya berjalan di jalan-jalan kota seperti ini, Bu. Entah apa yang orang lain pikirkan jika melihatnya berbicara seorang diri.”

“Setidaknya dia tidak terlihat murung atau cemas.”

“Ibu…”

“Sebentar saja, Nak. Biarkan adikmu menikmati kebahagiaannya.”

Dua orang perempuan berjalan mengikuti Aldebaran dari jauh. Mereka cemas. Tetapi mereka tahu, Al sedang bahagia malam itu. Siapapun orang itu, hanya dialah yang bisa meminta Al melepas kacamatanya—yang bahkan ibu atau pun kakak perempuannya tidak bisa lakukan.

Sayangnya, malam yang nampak bahagia itu tidak berlangsung lama.

***

“Tetap sama?”

“Tetap sama.”

“Apa cahaya bola mataku terlihat seperti kunang-kunang?”

“Iya. Aku menyukainya.”

Perempuan berjepit rambut merah itu tersenyum kemudian mencoba menyeberang jalan. Sayangnya, ia tidak memperhatikan lalu lalang mobil terlebih dahulu. Al yang mengekor di belakangnya berteriak.

“Hey! Awas! Ada mobil!”

***

“Di mana dia dikuburkan, Bu?”

Sepanjang perjalan pulang dari Monas, hanya kata-kata kunang-kunang yang keluar dari mulut Al. Setibanya di rumah, kini pertanyaan itulah yang tidak berhenti ia tanyakan.

“Dia siapa, Al?”

“Perempuan itu, Ibu! Dia kecelakaan. Sudah dua minggu dia tak memberi kabar. Dia pasti sudah tiada, Ibu.”

“Al…”

“Di mana dia dikuburkan, Bu?!” Nada bicara Al mulai meninggi.

“Al… Ibu mohon.”

“Di mana dia dikuburkan, Bu?!!!” Al berteriak parau. Tangisnya meledak.

“Ibuuu… Di mana dia, Bu?!!!” Al terus bertanya.

***

Perempuan yang Aldebaran panggil sebagai Ibu itu berjalan menuju salah satu sudut kamar Al. Ada sebuah meja yang berdiri di sana. Beberapa tumpukan buku tertata rapi di atasnya. Ibu Al menangkap sebuah buku yang unik. Warnannya coklat dan bentuknya lebih kecil dari buku tulis biasanya. Semacam diary, yang ia tahu kemudian.

Ibu Al terkejut ketika membaca tulisan di sampul buku itu.

 

Perempuan Berjepit Rambut Warna Merah

Begitulah tulisannya.

Ketika ia membukanya, hanya foto kunang-kunang dan gelap malam yang tertempel di sana. Tidak ada foto seorang perempuan.

Ia menangis. Ia tahu, penyakit skizofrenia anaknya semakin parah.

***


Dwi Lestari

Bukan pegiat, hanya mencoba untuk tetap giat. Baginya, tak masalah redup, asal nyala. Bisa dijumpai di @dwilestari7897

Facebook Comments