Ferry Fansuri copy

ULURKAN TANGANMU

 

Mengapa tidak abadi seketika

Segala rasa cinta

Kesejukan yang menyertai cerita kita

 

Mengapa tidak abadi seketika

Hati tempat berlabuh

Tali yang mengikat janji-janji

 

Jangan pernah usai kita inginkan

Namun pil pahit yang harus kita telan

Inilah puisi jalan kita kasih

Segala prahara mendera

Segenap dusta menyerta

 

Tiba saatnya prahara membiru warnanya

Namun kita harus tetap waspada

 

Ulurkan tanganmu kasih, tetaplah ulurkan

Agar kita senantiasa dapat bergandangen

Berjalan bersama menuju satu tujuan

Sebuah jalan terang

 


JALAN DI TENGAH SAMUDERA

 

Cakrawala yang kita tuju

Nyatanya masih jauh

Namun percayalah kepada angin

Yang senantiasa menuntun

 

Maka jagalah perahu ini

Jangan sampai pecah di tengah samudera

Dan tegakkan tonggak layar

 

Mengapa harus berkecil hati?

Sedangkan rembulan dan mentari

Masih tetap setia mengirimkan cahaya

Meskipun harus melewati jalan yang tak mudah

Di sela-sela mendung dan mega

 

Mestinya kita selalu terjaga

Menahan ombak dengan kekuatan jiwa raya

Mengingat kita harus bertahan

Maka jangan terhenti di tengah cerita

Jika disini masih ada jalan

Untuk menuju keabadian

 


YANG TERINDAH

 

Yang terindah kuberikan untukmu

Terlahir dalam dekapan jiwaku

 

Yang mencari….

 

Tertatihku coba berdiri

Terhempas ku disana menantimu

Mendambakan kau yang terindah

Persembahan dariku tercipta dalam

 

Alunan langkahku yang terhenti

Menatap jejakku sendiri

Tertinggal ku disana menantimu

 

Mendambakan dirimu

Semua yang tersisa

Hanya persembahanku yang terakhir

 

Kau yang terindah

Jangan biarkan diriku

Terhempas keraguan

 


CINTA

 

Cinta serupa dengan laut

Selalu ia terikat pada arus

Setiap kali ombaknya bertarung

Seperti tutur kata dalam hatimu

 

Sebelum mendapat bibir yang mengucapkannya

Angin datang dari jiwa

Air berpusar dan gelombang naik

Memukul hati kita yang telanjang

 

Dan menyelimutinya dengan kegelapan

Sebab keinginan begitu kuat

Untuk menangkap cahaya

 

Maka kesunyian pun pecah

Dan yang tersembunyi menjelma

Kau disampingku

Aku disampingmu

Kata-kata adalah jembatan

Waktu adalah jembatan

Tapi yang mempertemukan

Adalah kalbu yang saling memandang

 


TAK LEKANG OLEH WAKTU

 

Telah lama kutunggu

Hadirmu disini

Namun hanya ruang semu

Yang nampak padaku

Meski sulit harus kudapatkan

 

Sambutlah tangan ini terima janjiku

Rasakan cinta yang tulus

Lewat aliran darahmu

Menyatu seiring dalam kasih

 

Mari kita jaga sebentuk cinta putih yang telah terbina

Sepenuhnya terimalah pengertian adanya dua beda menyatu

Masilah panjang, jalan hidup merki ditempuh

Semoga tak lekang oleh waktu

 

Surabaya, Desember 2016

Yang tersisa dari yang terkasih


Ferry Fansuri

Ferry Fansuri kelahiran Surabaya, 23 Maret 1980 adalah penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional
Facebook Comments