Septiani-Negeri Kertas

Warna jingga mulai berhamburan mewarnai kanvas langit. Angin sore berhembus dengan sejuk. Membawa perdamaian bagi siapapun yang merasakannya. Daun-daun berlambaian-lambaian. Seakan ingin memberitahukan sore hari adalah saat yang menyenangkan.

Violla merentangkan kedua tangannya. Membiarkan angin sore menghembuskan rambutnya dan melambai-lambaikannya. Violla mengambil secarik kertas dan melipatnya menjadi sebuah bangau. Lalu diayun-ayunkannya sambil menerbangkannya.

“Vio lagi ngapain?” Tanya seseorang. Violla menoleh. Ternyata ia adalah Gloria, kakaknya.

Violla tersenyum lalu berkata, “Vio lagi buat bangau harapan, Kak Glo. Katanya bangau harapan ini bisa mengabulkan semua harapan kita.”

Gloria menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil tersenyum ia mengelus rambut Violla. “Emangnya apa yang Vio harapkan?” tanyanya.

“Vio ingin sekali berpetualang di negeri kertas. Vio ingin bermain di sana,” jawab Violla riang.

Gloria tersenyum lalu mengajak Violla duduk di rumput yang bergoyang lembut oleh hembusan angin. Membiarkan hembusan angin membelai lembut wajah mereka. Mereka terpejam merasakan ketenangan yang tersisip di dalam hembusan angin.

Perlahan warna hitam menyemburatkan warnanya menggantikan warna jingga. Pertanda malam hari akan segera tiba. Gloria beranjak sambil menggandeng tangan Violla. Ada kedamaian yang tersisip dari wajah mereka. Mereka lalu pergi meninggalkan taman itu. Dan raib dalam gelapnya malam.

***

Lihat anak aneh itu. Kerjaanya cuma buat bangau kertas mulu. Dan ada lagi hal aneh masa ia berharap bisa berpetualang di negeri kertas. Jelas aja kan itu cuma imajinasi dia doang. Mana ada sih negeri kayak gitu di dunia nyata.

Violla berlari ke arah rumahnya dengan berhamburan air mata. Ia mengetuk pintu rumahnya dengan keras.  Gloria yang sedang bersih-bersih langsung terkejut. Ia lalu beranjak membukakan pintu.

“Ya ampun, Vio kenapa? Kok nangis?” tanyanya terkejut ketika pintu terbuka.

Violla langsung memeluk Gloria. Ia menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Gloria. Gloria membiarkan adiknya menenangkan diri dahulu. Ia mengelus-elus lembut punggung Violla.

“Kak Glo, aku sangat sedih. Mereka bilang aku sangat aneh. Mereka bilang harapanku tidak akan menjadi kenyataan. Apakah itu benar kak?” tanya Violla dengan tersendat-sendat.

Gloria menatap Violla dengan penuh arti. Ia lalu mengelus rambut Violla dengan lembut dan berkata,”Vio, kamu tidak aneh. Tetapi kamu istimewa. Kamu unik. Di dunia ini gak ada manusia yang aneh. Semuanya diciptakan Tuhan dengan adil. Kamu jangan berkecil hati ya Vio. Harapan kamu memang tidak akan menjadi kenyataan.”

Ada kekecewaan yang tersirat di mata Violla. Dan ada juga kelegaan di mata Violla. Violla lalu melepaskan pelukannya. Ia tersenyum penuh arti. “Gak apa-apa kak. Vio masih punya banyak harapan. Vio punya segudang harapan,” ujarnya sambil merentangkan tangannya bermaksud menunjukkan seberapa banyak harapannya.

Gloria tersenyum. Ada arti lain dari senyumannya. Ada sesuatu yang tersirat dari senyumannya. Sebuah rahasia. Rahasia yang tidak bisa diungkapkan.

***

Malam hari tak pernah sendirian. Malam hari selalu ditemani oleh teman setiannya. Bintang. Kilauannya selalu menyejukkan jiwa yang melihatnya. Violla duduk di balkon rumahnya sambil menulis sesuatu di buku hariannya. Wajahnya manis dihiasi dengan senyuman indahnya.

Tuhan, Vio hanya berharap semoga harapan Vio bisa terkabul.

Violla menutup buku hariannya dan memandangi bintang di langit malam. Rasa sejuk yang ditawarkan malam cerah membuatnya nyaman. Ia pun terlelap di bawah langit malam yang bermandikan bintang.

***

Violla mendapati dirinya berada di tempat yang asing. Semuanya berwarna putih. Bangunan, tanaman, tanah, dan semua benda yang ada berwarna putih. Violla melangkah menyusuri tempat itu. Ia menyentuh tanaman yang ada di sana. Betapa terkejutnya, tanaman itu terbuat dari kertas. Seketika seutas lengkungan manis terukir di bibirnya. Ia pun melonjak kegirangan.

“Yeah, harapanku terkabul,” teriaknya.

Violla lalu menyusuri tempat itu lebih jauh. Tak lama kemudian, ia tiba di tengah kota. Violla terkejut. Tampak manusia-manusia kerdil hilir mudik. Mereka sibuk mengukir grafiti di kertas yang sangat besar.

Tiba-tiba, seekor bangau kertas terbang ke arah Violla dan hampir saja menubruk Violla. Bangau itu jatuh tepat di hadapan Violla. Violla membungkuk mengambil burung itu. Ia lalu membetulkan sayap burung itu agar ia dapat kembali terbang.

“Hei, maaf. Itu bangau kertasku. Aku baru saja akan membuat harapan dengan bangau itu,” ujar seorang wanita kerdil. Violla lalu mengembalikan bangau kertas itu kepada wanita kerdil itu.

“Terima kasih, kamu telah mengembalikan bangau kertasku,” ucap wanita kerdil itu. “Eh, sepertinya kamu orang asing ya. kamu bukan dari negeri ini, kan?” tanyanya penuh selidik.

“Aku Violla. Panggil aja Vio. Vio juga gak tau kenapa Vio bisa ada di sini. Oh, ya nama kamu siapa?” ujar Violla seraya menyodorkan tangan mengajak bersalaman.

“Aku Pipit. Kamu kesini bukan untuk mencari kertas imajinasi, kan?”

“Kertas imajinasi? Maksudnya apa ya? Vio gak ngerti,” tanya Violla tak mengerti.

“Dulu, pernah ada orang asing yang datang ke negeri kertas ini. Ia seorang penulis yang tidak terkenal dan selalu mendapat penolakan dari penerbit. Begitu tahu disini ada kertas imajinasi yang bisa memberikan imajinasi tak terbatas. Dan memberikan kejayaan dan popularitas yang menggiurkan banyak penulis. Penulis yang memiliki kertas ini akan menjadi terkenal. Ia pun berusaha mencuri kertas imajinasi itu. Sedangkan bagi kami, kertas itu adalah jimat yang melindungi tempat kami. Kami harus menjaganya baik-baik. Akhirnya kami pun mengusir orang asing itu,”cerita Pipit.

Violla manggut-manggut. “Oh, begitu. Kalo gitu dimana tempat kertas imajinasi berada?” tanya Violla.

“Coba kamu lihat bukit itu!” tunjuk Pipit pada hamparan bukit yang berwarna putih. Bukit itu bersinar terang sehingga membuat bukit itu terlihat seperti bukit suci.

“Pipit, Vio boleh bermain di situ gak. Vio janji deh. Vio gak bakalan ngambil kertas imajinasi. Vio cuma mau main di sana. Bukitnya indah,” pinta Violla.

“Tentu saja boleh. Sepertinya kamu datang dengan maksud baik,” ujar Pipit bersahabat.

Violla pun diajak ke bukit putih itu. Penduduk negeri kertas menyebutnya dengan bukit pustaka. Violla melonjak kegirangan begitu ia tiba di bukit pustaka. Ia berlari-larian kesana kemari dan bermain-main dengan bangau kertas.

Setelah lelah bermain, Violla berbaring di atas rumput putih. Sangat lembut. Ia melipat tangannya di kepala. Ia memandang awan di langit yang berubah-ubah bentuk. Angin semilir berhembus sejuk. Menggoyang-goyangkan rumput putih dan dedaunan putih di bukit pustaka. Violla memejamkan matanya. Merasakan kedamaian yang tersisip di dalam kesejukan angin. Ia menghirup aroma bukit pustaka dan menanamkannya pada ingatannya agar ia tak lupa.

“Vio suka di sini. Rasanya sangat damai. Vio jadi gak pengen pulang. Tapi kalo Vio gak pulang nanti Kak Gloria khawatir sama Vio.”

“Kalo gitu kamu bawa saja bangau kertas dan mawar kertas ini. Bangau kertas ini akan mengabulkan harapan kamu dan mawar kertas ini mawar harapan yang melambangkan harapan yang kita inginkan tidak akan pernah hilang sama seperti mawar kertas ini yang tidak akan pernah layu,” ucap Pipit.

Violla menerima pemberian Pipit. Lalu tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Mereka lalu menuruni bukit pustaka. Violla melambaikan tangannya pada Pipit. Ia pun raib dalam cahaya putih yang terang benderang.

***

“Kak Gloria!!” teriak Violla.

Gloria yang sedang menyiapkan sarapan pagi terkejut dengan teriakan Violla. Violla tergopoh-gopoh menuruni tangga rumahnya. “Ada apa, Vio?” tanya Gloria.

“Kakak, harapan Vio terkabul. Vio pergi ke negeri kertas,” cerocos Violla.

Gloria tersenyum penuh arti. “Benarkah? Kalau begitu pasti Violla sangat senang berada di sana. Pasti Violla lelah. Nah Violla harus sarapan sekarang.”

Violla mengangguk. Ia pun sarapan sambil menceritakan pengalamannya di negeri kertas. Sedangkan Gloria pikirannya tidak terpusat pada cerita Violla. Pikirannya melayang entah kemana. Seperti awan yang berarak mengikuti hembusan angin.

***

Namaku Gloria Anastasya. Aku hidup berdua dengan adikku, Violla. Sejak kedua orang tuaku tiada, akulah yang mengurusi adikku. Adikku tidak seperti anak normal lainnya. Ia menderita down syndrome. Sebenarnya ia adalah saudara kembarku. Tetapi karena down syndrome yang dideritanya, ia menjadi seperti anak kecil. Selalu berkhayal dan bermain. Seringkali aku ingin mengatakan padanya bahwa apa yang dikhayalkannya itu tidak nyata. Tetapi setiap kali aku ingin memberitahunya, aku selalu iba dengan wajah polosnya. Aku tahu aku bukanlah seorang kakak yang terbaik untuknya. Tetapi aku akan mencoba menjadi kakak yang terbaik untuknya.

***

Violla duduk di taman biasa ia bermain. Ia duduk di atas rerumputan yang bergoyang lembut oleh angin sepoi-sepoi. Ia memejamkan matanya merasakan kedamaian itu sekali lagi. Ia lalu mengeluarkan bangau kertas dan mawar kertas yang ia dapatkan dari negeri kertas. Ia lalu menuliskan sesuatu pada buku hariannya.

Vio tau Vio gak normal tetapi apapun yang terjadi Vio gak akan pernah berhenti membuat harapan-harapan yang ingin Vio capai walaupun harapan Vio akan dicemooh oleh orang lain.

Vio lalu meletakkan bangau kertas dan mawar kertas beserta dengan buku hariannya di tempat rahasianya. Ia lalu beranjak meninggalkan taman itu. Warna jingga di langit menjadi saksi harapan Vio.

 

 


SeptianiSeptiani. Lahir di Pangkalpinang, 20 September 1997. FB: Septiani. Instagram @Septi_sss. Karya yang dibukukan: 1) Antologi Cerpen dan Puisi Sebuah Apel (Kantor Bahasa Bangka Belitung, 2014); 2) Antologi Komik Fantasteen Urban Kisah-Kisah Paling Horor di Karnaval #2 (DAR!Mizan, 2014); 3) Antologi Cerpen Sepotong Senja Sepenggal Sangka (FAM Publishing, 2016); 4) Antologi Puisi Aku Kembali (El-Markazi Publisher, 2016); 5) Antologi Cerita Mini December Sun (Ellunar Publisher, 2017);

Facebook Comments