Oleh: Yoga Permana Wijaya, S.Pd

Meskipun dalam kondisi Ummi (yang tidak pandai membaca dan menulis), wahyu yang pertama kali turun kepada Rasullulah saw adalah “Iqra!” atau “Bacalah!”

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq :1-5)

Pepatah mengatakan, membaca adalah jendela dunia. Pepatah itu benar adanya. Ayat di atas menunjukkan bagaimana Allah swt telah mengutamakan kewajiban membaca bagi hamba-hambaNya. Karena dengan membaca setiap manusia dapat memahami dan mempelajari sesuatu yang tidak diketahuinya. Dan dengan membaca seseorang dapat memperoleh informasi. Sebuah jalan memahami ilmu pengetahuan dan menjadi bijaksana.

Membaca merupakan jalan yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna, sebagaimana janji Allah swt : “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang memiliki ilmu dengan beberapa derajat yang tinggi” (QS. Al Mujaadilah : 11)

Secara naluri dalam fitrahnya, manusia adalah makhluk yang memiliki curiosity (rasa ingin tahu) yang sangat tinggi. Maka dari itu, semua manusia baik muda maupun tua, anak kecil maupun orang dewasa berusaha untuk  mengetahui  segala sesuatu yang belum diketahuinya. Maka tidak heran jika semua anak kecil tatkala melihat atau mendengar sesuatu yang asing baginya pasti mereka akan bertanya, baik kepada orang tua atau orang yang dekat dengannya. Hal demikian karena secara naluriah anak ingin mengetahui segala sesuatu yang belum diketahuinya itu.

Jadi, pada dasarnya memang semua manusia telah ‘membaca’ dalam arti luas namun belum terstruktur sebagai upaya untuk menghimpun pengetahuan dan mengaktualisasikannya secara nyata dalam kehidupan sosial. Maka, tidak mustahil jika pada suatu ketika ‘manusia’ akan didefinisikan sebagai ‘makhluk membaca’, suatu definisi yang tidak kurang nilai kebenarannya dari definisi-definisi lainnya semacam ‘makhluk sosial’ atau ‘makhluk berfikir’.

Semua peradaban di dunia ini dimulai dari budaya membaca. Peradaban Yunani dan Romawi kuno dimulai dengan Iliad karya Homer pada abad ke-9 sebelum Masehi. Kebudayaan Hindu, Budha bahkan Kristen dimulai dari kitab-kitab.

Peradaban Islam pun lahir dengan kehadiran al-Qur’an. Peradaban Eropa juga dimulai dengan karya Newton (1641-1727).

Sehingga, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa ‘membaca’ adalah syarat utama guna membangun peradaban. Dan bila diakui bahwa semakin luas pembacaan, semakin tinggilah peradaban, demikian pula sebaliknya. Sungguh, perintah membaca merupakan sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada umat manusia. ‘Membaca’ dalam aneka maknanya adalah syarat pertama dalam pengembangan ilmu dan teknologi, serta syarat utama membangun peradaban.

Kegemilangan Islam di masa dahulu diperoleh dengan adanya kegemaran membaca dan mempelajari ilmu dan pengetahuan yang ada di alam semesta sebagai ciptaan Allah swt. Catatan sejarah era keemasan Islam terutama pada Dinasti Abbasiyah menunjukkan, munculnya cendekiawan-cendekiawan muslim terkemuka yang membuka pemikiran Eropa dan Barat, antara lain dilahirkan dari pengajian-pengajian dan perpustakaan di sekitar Masjid.

Zaman kejayaan Islam pada saat itu juga ditandai dengan dibangunnya perpustakaan terbesar di dunia pada zamannya: Bait al-Hikmah. Yang salah  satu aktivitasnya adalah gerakan penerjemahan buku-buku berbahasa asing baik itu Yunani, Persia, India maupun bahasa lainnya. Sehingga menjadi pusat bacaan, pusat ilmu pengetahuan terlengkap dan terbaik di zamannya.

Namun kegemaran membaca pada saat sekarang ini malah dimiliki oleh orang-orang non muslim. Hingga tidak heran, jika Allah swt telah meninggikan beberapa derajat bangsa non muslim itu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka miliki. Bahkan tidak berlebihan bila dikatakan melebihi derajat bangsa-bangsa muslim.

 

Merdeka Karena Membaca

Tanpa membaca, rasanya mustahil Indonesia bisa merdeka seperti saat ini. Para pejuang, para perintis yang menyiapkan fondasi kebangsaan kita. Para founding father (perintis negara) adalah para kutu buku: orang-orang intelek yang sangat gemar membaca. Para perintis kemerdekaan Indonesia adalah orang-orang dengan pikiran yang terbuka, yang matanya memandang jauh ke ujung cakrawala, yang isi kepalanya penuh dengan ide-ide besar yang datang dari berbagai penjuru  dunia. Melalui bahan bacaan pula, mereka menyadari bahwa kolonialisme tak dapat diterima oleh kemanusiaan, sehingga perlawanan kepada penjajahan adalah keharusan bagi mereka yang tercerahkan.

Indonesia memang hampir bebas dari persoalan tuna aksara yang sudah menyusut drastis hingga tersisa hanya sekitar 5-6% saja. Kendati demikian, meningkatnya angka melek huruf tidak serta merta meningkatkan minat baca. Menurut data dari The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), budaya membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat terendah di antara 52 negara di Asia.

UNESCO melaporkan pada 2012 kemampuan membaca anak-anak Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku, sedangkan Indonesia mencapai titik terendah: 0 %! Tepatnya 0,001 %. Artinya, dari 1000 anak Indonesia, hanya satu anak yang mampu menghabiskan satu buku dalam setahun.

Ini persoalan penting, ini perkara genting. Soal minat baca memang terlihat tidak semendesak persoalan energi atau pangan. Tapi bagaimana menyiapkan masa depan negeri ini jika tingkat literasi begitu rendah? Membaca, sains dan matematika sudah terbukti adalah salah satu kunci sukses bagi negara-negara maju atau yang berkembang dengan pesat.

Kalau kita mau maju, ingin berkembang, mau menjadi teladan kebaikan, yang kelak nama kita Allah catat dalam tinta emas sebagai salah satu pengubah peradaban dunia. Maka tidak ada cara lain, kecuali kita harus bertekad menjadi manusia pembaca sepanjang waktu, tempat dan keadaan.

Namun, apbila kita memang ingin menjadi pecundang dalam peradaban dunia. Menjadi manusia terkapar dalam kemajuan orang-orang lain, terkekang dalam kejumudan dan kebodohan diri, menjadi terjajah oleh pemikiran warga lain, atau bahkan lebih rendah dari itu: hanya menjadi sama seperti makhluk-makhluk lainnya yang hanya bisa makan, minum dan melampiaskan nafsunya, tanpa mau membaca. Ya sudah! Memang itulah kita, apa yang kita pikirkan dan apa yang kita kerjakan. Kelak kita pun akan menikmati kemunduran. Menikmati hasil menyakitkan dari kemalasan di dunia. Dan di akhirat, apalagi tak ada hujah di hadapan-Nya, perkataan tidak tahu karena dulunya tidak mau membaca.

Semoga kita menjadi manusia-manusia pembaca, pengamal Iqra dan penggerak peradaban dunia dengan analisis kita, hasil dari bacaan kita, tulisan hasil dari bacaan kita, dan pembicaraan berkualitas juga hasil dari bacaan kita.

Kita tidak bisa diam. Saatnya berbarengan bergerak. Bukan besok, lusa, apalagi tahun depan. Tapi sekarang. Sebab mencintai membaca berarti pula mencintai ilmu pengetahuan, mencintai agama, mencintai bumi dan alam semesta: yang adalah tugas besar bersama manusia sebagai khalifah. Sekarang! Mulailah membaca!

Wallahu a’la Bishawaab…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments